Serambi Property
REI Usulkan Rumah Murah Rp 125 Juta
Real Estate Indonesia (REI) Aceh mengusulkan harga rumah murah bersubsidi naik dari Rp 88 juta menjadi Rp 125 juta/unit
BANDA ACEH - Real Estate Indonesia (REI) Aceh mengusulkan harga rumah murah bersubsidi naik dari Rp 88 juta menjadi Rp 125 juta/unit kepada Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Jakarta. Usulan tersebut telah masuk ke kantor Kemenpera yang kemungkinan besar disetujui, seusai ada surat rekomendasi dari Gubernur Aceh, yang juga ditujukan kepada Kemenpera.
“Kami telah mengirimkan surat usulan rumah murah bersubsidi agar dinaikkan dari Rp 88 juta menjadi Rp 125 juta per unit kepada Kemenpera,” jelas Zulfikar SE, Wakil Ketua REI Aceh yang ikut menghadiri peresmian rumah murah di Solok, Sumatera Barat, kepada Serambi melalui telepon selular, Sabtu (16/3).
Dia menjelaskan, dirinya telah menyampaikan hal tersebut secara langsung kepada Menpera Faridz, agar harga rumah murah dinaikkan dengan beberapa alasan. Dia mencontohkan, harga bahan bangunan di Aceh, termasuk yang tertinggi di Indonesia, belum lagi harga tanah yang juga terus melambung seusai tsunami 26 Desember 2004.
Seperti diketahui, harga tanah di Aceh, seperti di Banda Aceh dan kota-kota kabupaten lainnya di Aceh termasuk yang tertinggi di Indonesia, bahkan dengan Medan sekalipun. Sehingga, harga rumah atau juga pertokoan sudah diluar kemampuan masyarakat kelas menengah ke bawah. Indeks kenaikan harga bangunan juga luar biasa, seperti ruko dua lantai dengan panjang 12 meter, jelang tsunami berkisar Rp 120 juta/unit, kini melambung lebih dari dua kali lipat.
Zulfikar juga mengungkapkan, rumah murah bersubsidi miliknya di Blangbintang dan Jantho, Aceh Besar belum juga mendapat bantuan dari Pemkab Aceh Besar, khususnya biaya perizinan IMB agar digratiskan, seperti yang dilakukan Walikota Padang terhadap perumahan murah bersubsidi di Solok, Sumbar.
“Saya heran, rumah murah sudah dibangun, tetapi pemerintah kabupaten sepertinya tidak mau peduli, padahal rumah itu bagian dari pembukaan pemukiman baru yang juga untuk memajukan sebuah kota,” katanya.
Developer muda ini juga mengungkapkan akan terus berusaha membuka mata pemerintah terhadap penyediaan rumah murah, yang sebenarnya menjadi bagian dari kewajiban negara untuk menyediakan rumah layak huni bagi rakyatnya.
Dia berharap, upayanya menemui Menpera dan REI Pusat mendapat dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah, sehingga program yang dicanangkan pemerintah pusat dapat berjalan lancer, seperti diharapkan Menpera.
“Seluruh pemerintah kota atau kabupaten harus meningkatkan pembangunan rumah murah bersubsidi,” kata Menpera, seperti diungkapkan kembali oleh Wakil Ketua REI Aceh itu. Dia mengaku akan terus memperjuangkan rumah murah agar mendapat bantuan pemerintah kabupaten/kota di Aceh, sehingga pembangunan perumahan dapat merata di negeri yang sedang tumbuh ini, sesudah konflik berakhir pada 15 Agustus 2005 melalu MoU di Helsinki, Finlandia.(muh)
BTN Mendukung
Wakil Kepala BTN Cabang Banda Aceh, Budi Kurniani, Sabtu (16/3) menyatakan pihaknya mendukung rencana kenaikan rumah murah dari Rp 88 juta menjadi Rp 125 juta. Dia menyatakan, untuk rumah Rp 88 juta seperti dibangun BS Property harus dilakukan di kawasan Aceh Besar, seperti di Blangbintang atau juga lintasan jalur Jantho yang jauh dari pusat kota Banda Aceh.
Dia berharap, dengan adanya kenaikan rumah murah tersebut bertipe 36 m2, kawasan pembangunan dapat diperdekat dengan Kota Banda Aceh, seperti Lampeneurut atau juga pinggiran lintasan Medan-Banda Aceh menuju Lambaro. “Saya berharap, Kemenpera dapat segera menyetujui usulan yang diajukan REI Aceh agar harga rumah murah naik,” katanya.
“Paling tidak, luas tanah untuk rumah diperkecil, sehingga harga jual rumah dapat terjangkau sampai Rp 125 juta/unit,” ujarnya. Apalagi, bantuan untuk rumah murah juga datang dari pihak perbankan melalui skip pembiayaan bunga murah dengan cicilan tetap sampai 15 tahun.
Dukungan lainnya, sebutnya, Jamsostek juga bisa membantu uang muka rumah bagi para pekerja swasta, sehingga seluruh pekerja dapat memiliki rumah layak huni. Demikian juga dengan para PNS golongan kecil, dapat memanfaatkan Bapertarum, juga untuk uang muka.
Dia mengaku, harga bangunan dan tanah di Banda Aceh sangat tinggi, sehingga tidak mungkin developer membangun rumah murah bersubsidi. Sehingga, dengan adannya kenaikan tersebut, kemungkinan rumah dekat perkotaan bisa dibangun, tandasnya.(muh)