Rabu, 10 Juni 2026

Api Humor Belantara

Meski perjalanan sudah nyaris setengah hari, namun aku dan Fadhil masih melesat di depan hingga rombongan tertinggal di belakang

Tayang:
Editor: bakri

Hampir putus asa aku dan Fadhil memaksa tenaga untuk mendaki lagi, cepat, tergesa-gesa, panik. Walau tenaga sudah tak mampu lagi, namun kami harus bisa. Jika tidak, risikonya kami akan terpanggang di lapangan api yang menggila itu.

Tiba di penghampiran puncak Makajeueng, kami hampir pingsan dalam keadaan yang harus tetap mendaki dan terus mendaki. Lututku lambat-laun bagai kebas tak mampu kugerakkan lagi.

Namun, syukurlah, serta-merta angin berubah arah. Jalaran api melambat lalu berhenti mengejar kami seraya jilatannya merambah sisi lain sesuai arah angin. Alhamdulillah, aku dan Fadhil selamat dan bisa duduk lagi di alang-alang dengan gaya yang sesungguhnya bukan duduk-sengaja, tapi terduduk dengan tubuh lunglai meringsut begitu saja.

Segera usai menarik nafas dua-tiga kali dalam-dalam, aku dan Fadhil melihat ke belakang, ke kejauhan bawah dakian; ya, ke arah Raman Cukong Kayu yang membakar ilalang tadi. Ternyata ia hampir pingsan, karena tawa. Begitu juga teman-teman lain di samping dia, tertawa hingga terpilin-pilin perut mereka. Kecuali Wak Nan, yang berwajah prihatin.

Aku berusaha untuk maklum seraya menahan geram. Aku dan Fadhil mengerti, bagi mereka yang di seberang api, gerakan tubuh kami tadi waktu mendaki tergesa-gesa kelihatan sangat lucu akibat pengaruh atmosfer di atas hamparan api. Menatap melalui lapisan gas udara panas yang setebal lapangan bola itu, jadinya gerakan tubuh kami bagai dipelintir-pelintir oleh kenakalan rekayasa video effects windows movie maker.

Tapi seandainya mereka di seberang api itu dapat menangkap detail guratan ekspresi wajahku dan Fadhil waktu berlari dari api tadi, tentu mereka akan menatap dengan wajah tergugah, terpana, ternganga sembari hati memohon pada Tuhan agar kami mampu berlari dari neraka sabana yang apinya disulut oleh Raman Cukong Kayu dengan bakat humor berbasis iseng belaka.

* Musmarwan Abdullah, cerpenis

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved