Rabu, 10 Juni 2026

Aman Belut

Aman Belut. Lelaki berkulit kuning langsat itu biasa di panggil demikian. Biasanya dia langsung menyahut dan kembali bertanya

Tayang:
Editor: bakri

“Ilmu apa ya, pak? Teman saya punya ilmu kebal justru jadi centeng. Kerjanya cuma menakut-nakuti warga!” ujarnya sedikit begok. “Mungkin itu salah satu fungsi pekerjaannya menakut-nakuti warga. Jangan-jangan dia sendiri juga pencuri.”

Keluguan Aman Belut bercerita justru membuatku sangat lucu. Jarang sekali ada orang yang begitu jujur, polos, di zaman modern seperti saat ini. Aman belut lelaki berkulit kuning langsat, berjenggot tipis dengan muka lancip it terus memainkan jemarinya naik turun. Sesekali bertahan memijat bagian-bagian yang terasa sakit.

Tak terasa sudah hampir dua jam dia memijat tubuhku. Tak ada kesan ia kelelahan, meskipun usianya sudah berkepala enam. Nafasnya tetap teratur. Tangannya yang kecil tetap memiliki tenaga yang kuat. Mungkin juga ada khasiat belut dalam tubuhnya. Sehingga lelaki separuh baya itu tetap sigap dan kuat. Atau sebuah ketulusan ingin menyenangkan hati orang lain sehingga sedikitpun dia tidak merasa kelelahan.

Aku segera memberikannya upah memijat. Upah yang relatif kecil dibanding pekerjaannya. Dia tampak senang dengan pemberianku. Matanya berbinar cerah.     “Bagaimana, cukup?” kataku seraya melihat reaksinya. “Cukup-cukup. Ini juga sudah lebih. Terima Kasih! Kalau begitu saya mau permisi ada satu orang lagiyang harus saya pijat,” seraya beranjak dari rumahku. Ia bersalawat kecil berjalan di kegelapan malam. Gerimis mulai turun satu-satu. Aman Belut menerobos gerimis malam mengejar kehidupannya.

* Deny Pasla, penyair dan pemerhati sosial. Tinggal di Kualasimpang, Aceh Tamiang

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved