Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Banda Aceh Menjadi Kota Warisan Dunia, Mungkinkah?

DARI beberapa naskah tua dan catatan-catatan sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha

Tayang:
Editor: bakri

Peutjoet kerkoff
Kerkoff  berasal dari  Bahasa Belanda yang berarti kuburan. Sedangkan Peutjoet atau asal kata dari Pocut (putra kesayangan) Sultan Iskandar Muda. Pada relief dinding gerbang makam tertulis  nama-nama serdadu Belanda yang meninggal dalam pertempuran dengan masyarakat  Aceh (setiap relief ada 30 nama); daerah pertempuran, seperti di Sigli, Moekim,  Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot  Rang-Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang-Dango, dan Samalanga); dan tahun  meninggal para serdadu (1873-1910). Sekitar 2.200 tentara Belanda termasuk 4 jenderalnya sejak tahun 1883 hingga 1940-an dikuburkan di sini. Di antara para serdadu Belanda tersebut ada  beberapa nama prajurit Marsose yang berasal dari Ambon, Manado dan Jawa. Para prajurit Marsose yang berasal  dari Jawa ditandai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang  namanya, prajurit dari Ambon dengan tanda AMB, prajurit dari Manado dengan tanda MND, dan serdadu Belanda  dengan tanda EF/ F. Art.

Menyambut Ulang Tahun Kota Banda Aceh yang ke-808 sebaiknya Pemerintah Kota Banda Aceh mendata ulang dan melestarikan bangunan-bangunan bersejarah tersebut dan ditetapkan dengan peraturan walikota atau qanun dan perlunya dibentuk tim ahli cagar budaya dan melibatkan Pemerintah Aceh untuk melakukan pendataan, pengkajian dan kemudian menetapkan bangunan-bangunan tersebut sebagai benda cagar budaya (BCB). Selanjutnya di  daftarkan ke UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia. Ini bukan hal yang mustahil bila Pemerintah Kota Banda Aceh serius menangani masalah ini dan dengan dukungan masyarakat Kota Banda Aceh tentunya.

Sebagai Kuta Tuha (Kota Tua) tanpa ada upaya pemeliharaan dan  dukungan masyarakat sangat sulit untuk didaftarkan sebagai Kota Warisan Dunia. Syarat untuk menjadi kota warisan dunia adalah bahwa di kota itu banyak terdapat peninggalan sejarah, baik yang bersifat fisik (benda) maupun nonfisik (non-benda), yang masih terpelihara. Selain itu juga ada komitmen dari pemerintah dan masyarakat setempat untuk tetap melestarikan peninggalan sejarah tersebut. (*)

Penulis adalah Penikmat Sastra, Sejarah dan Budaya Aceh.
email : che_fadlie@yahoo.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved