Serambi Property

Harga Rumah Bakal Naik

Harga rumah di kawasan Banda Aceh diperkirakan akan terus mengalami kenaikan, seiring lahan makin sempit yang memicu harga terus

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Harga Rumah Bakal Naik
PERUMAHAN Griya Anggrek di Desa Lamneuheun, Kutabaro, Aceh Besar yang berjarak sekitar 9 km dari Kota Banda Aceh.
* Lahan Makin Sempit

BANDA ACEH - Harga rumah di kawasan Banda Aceh diperkirakan akan terus mengalami kenaikan, seiring lahan makin sempit yang memicu harga terus naik. Belum lagi, isu kenaikan harga BBM oleh pemerintah, telah membuat material bangunan juga ikut-ikutan naik.

Sebut saja sejumlah kawasan elit di Banda Aceh, seperti Ulee Kareng dan sekitarnya, Keutapang, serta sejumlah kawasan kota satelit lainnya yang terus tumbuh pesat. Bagi sebagian developer yang tergabung dalam REI Aceh, memilih membeli langsung tanah ke pemilik, bukan melalui makelar yang kerap menaikkan harga lebih tinggi.

Namun, sebagian lainnya lebih memilih dengan sistim bagi hasil, yang juga ikut-ikutan mendongkrak harga rumah, bahkan di atas ambang kewajaran. Fenomena minimnya dukungan perbankan bukanlah hal baru bagi para developer di Aceh, walau dikatakan pintu perbankan dibuka selebar-lebarnya.

“Persoalan tanah di Banda Aceh sudah menjadi masalah utama dalam pembangunan rumah dengan harga terjangkau, karena sudah tidak terkendali lagi,” ujar Zulfikar, Ketua REI Aceh, kemarin. Sehingga, sebutnya, rumah dengan harga terjangkau harus dibangun di luar Kota Banda Aceh, seperti Blangbintang atau juga kawasan lainnya di Aceh Besar.

Pimpinan BS Property ini yang sedang membangun perumahan murah bersubsidi yang berjumlah ratusan unit di Aceh Besar atau juga rumah menengah dan elit di seputaran Banda Aceh berharap pemerintah turun tangan dalam mengendalikan harga tanah di Ibu Kota Provinsi Aceh ini.

Dia berharap, pemerintah seharusnya dapat memberikan subsidi dalam pembangunan perumahan di Banda Aceh, sehingga harga dapat diturunkan lagi dan daya beli ikut terdongkrak. “Dana pembangunan di Aceh melimpah ruah, mencapai puluhan ribu miliar rupiah, tetapi untuk sektor perumahan belum ada perhatian sedikitpun,” ujar Ketua REI Aceh ini.

Zulfikar juga berharap, pemerintah mensosialisasikan pemanfaatan dana Bapertarum bagi para PNS yang ingin memilik rumah. Dia mengakui, dana tersebut masih sedikit digunakan PNS untuk menambah uang muka membeli rumah, baik di Banda Aceh maupun Aceh Besar.

Sementara, M Nur, Wakil Sekretaris REI Aceh bidang Penelitian dan Pengembangan yang memantau perkembangan harga rumah di Banda Aceh dan sekitarnya dalam enam tahun terakhir ini menyatakan persoalan harga rumah telah menjadi masalah bagi para calon pembeli. Disebutkan, sebagian besar pembeli menginginkan rumah di kisaran Rp 200 juta/unit.

Tetapi, lagi-lagi, sebutnya, dengan harga tanah tinggi, tidak mungkin bisa menjual di sekitaran tersebut. Dia mencontohkan, untuk kawasan Ulee Kareng atau juga Keutapang, harga rumah berkisar di atas Rp 350 juta ke atas, tergantung type dan luas tanah.

Dia mencontohkan, dengan harga tanah mencapai Rp 700 ribu/meter, maka harga rumah tidak kurang dari Rp 350 juta/unit. Padahal, sebutnya, sekitar tahun 2007, harga tanah di kawasan itu masih di sekitaran Rp 300 sampai Rp 400 ribu/meter, sehingga harga rumah antara Rp 200 sampai Rp 250 juta/unit. Tetapi kini naik hampir mencapai dua kali lipat, sehingga harga rumah juga ikut naik.(muh)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved