Serambi Kuliner

Bukti Aceh Negeri yang Subur

KENDURI apam yang dilaksanakan pada bulan Apam menjadi salah satu bukti bahwa Aceh adalah negeri yang subur dan makmur

Editor: bakri
KENDURI apam yang dilaksanakan pada bulan Apam menjadi salah satu bukti bahwa Aceh adalah negeri yang subur dan makmur. “Lihat saja nama-nama bulan dalam kalender Aceh, lebih separuhnya mengarah kepada kenduri. Ini kan bermakna Aceh sebagai negeri yang subur dan makmur,” kata Tarmizi A Hamid, kolektor naskah kuno, yang dimintai komentarnya terkait kenduri apam ini, di Banda Aceh, Jumat (31/5).

Anggota Penelitian, Pengkajian, dan Pendidikan di Majelis Adat Aceh (MAA) ini menjabarkan, selain kenduri apam, tiga bulan lainnya juga diisi dengan kenduri untuk Pang Ulee (maulid), serta kenduri tren u blang (turun ke sawah). Lalu ada juga kenduri “beureuat” yang dilaksanakan menjelang masuknya bulan Puasa (Ramadhan). Kenduri “beureuat” ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Khauri Bu atau bulan Sya’ban dalam hitungan kalender Hijriah.

“Lalu, di antara dua hari raya (Idul Fitri dan Qurban atau Haji), ada yang namanya bulan Peurapet. Di bulan Peurapet ini biasanya diisi dengan pesta perkawinan atau walimah,” ungkap Tarmizi.   

Selain menjadi bukti Aceh (dulunya) negeri yang subur dan makmur, banyaknya kenduri di Aceh ini juga menjadikan masyarakat Aceh mandiri dan kreatif. “Banyaknya kenduri ini membuat wanita Aceh sudah mahir memasak sejak remaja. Tapi itu dulu, sekarang mungkin Anda bisa menilainya sendiri,” ujar Tarmizi.

Bahkan, kata dia, dulu perempuan dilibatkan dalam berbagai acara dan kegiatan gampong, termasuk pada acara gotong royong. “Wanita berperan sebagai penyedia makanan dan minuman bagi kaum laki-laki yang bekerja membersihkan kampung atau kegiatan sosial lainnya,” tambah Tarmizi.  

Kembali ke tradisi töt apam, Tarmizi mengungkapkan, tradisi ini sudah ada di Aceh sejak awal abad ke-18. Banyak versi yang menceritakan tentang sejarah dan asal mula tradisi ini, termasuk kisah bahwa tradisi ini berawal dari kenduri pascagempa besar pada tahun 1725 Masehi. “Namun semuanya masih perlu diteliti dan dikaji kembali,” ungkap pemilik 400-an naskah kuno Aceh ini.(Zainal Arifin M Nur )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved