Breaking News:

Serambi Kuliner

Dahsyatnya Rasa Apam

MATAHARI baru saja menampakkan diri saat perempuan itu mulai mengatur batu bata untuk tempat dudukan neuleuk

Dahsyatnya Rasa Apam
PESATNYA perkembangan zaman berimbas memudarnya tradisi töt apam. Namun, tradisi ini masih tetap bertahan di sejumlah wilayah, terutama kawasan pedalaman di pesisir pantai utara dan timur Aceh. Setiap datangnya buleun apam (bulan ketujuh dalam hitungan tahun Aceh), kaum ibu beramai-ramai melaksanakan kenduri apam. Kamis (30/5) lalu, khanduri apam juga dilaksanakan di pedalaman Pidie. Pada Serambi Kuliner edisi ini, Zainal Arifin M Nur berbagi kisah dahsyatnya rasa makanan legendaris ini.

MATAHARI baru saja menampakkan diri saat perempuan itu mulai mengatur batu bata untuk tempat dudukan neuleuk (cetakan kue apam yang terbuat dari tanah liat) di samping rumoh adat Aceh milik Darma (34), di Daboh Reubee, Kecamatan Delima, Pidie. Setidaknya, ada empat titik yang dipersiapkan untuk tempat memasak apam.

Tumpukan ubeu (daun kelapa kering), nudang (kelopak bunga kelapa yang sudah kering), dan tukok (pelepah daun kelapa), sudah siap sebagai bahan bakar. Ada juga beberapa wadah berisi garam dan sabut kelapa. Garam ini digosokkan ke neuleuk setiap kali apam diangkat. Kurang lebih berfungsi sebagai pengganti minyak untuk memudahkan melepaskan apam yang sudah masak dari wadahnya. Ubeu, nudang, dan tukok ini, memang menjadi bahan bakar andalan dalam memasak apam. Selain mudah dibakar dan mudah dimatikan, bahan bakar alami ini juga memberikan cita rasa berbeda pada apam yang dimasak di dalam neuleuk.

Waktu terus berjalan. Beberapa perempuan mulai berdatangan ke rumah Darma. Sebagian dari mereka langsung menuju dapur dan mempersiapkan bahan-bahan untuk adonan apam. Sebagian lain duduk di kolong rumoh Aceh, mempersiapkan bahan-bahan untuk kuah apam.

Tepat pukul 09.00 WIB, semua kebutuhan sudah siap. Acara pun dimulai dengan membakar ubeu dan memanaskan neuleuk. Tidak ramai memang, tapi suasana tampak meriah, khas wilayah pedalaman.

“Kenduri tahun ini tidak seramai biasanya. Karena ada dua warga di kampung ini yang melaksanakan kenduri apam,” kata Salma (30), adik Darma yang sedari tadi sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk upacara töt apam.

Sejenak kemudian, kuah apam pun masak dan siap disajikan. Sajian pertama adalah untuk tamu dan anak-anak yang duduk melingkar di atas rangkang di kolong rumoh Aceh. “Rasa apam ini memang sangat khas. Saya selalu kangen dengan makanan legendaris ini,” kata Juliani (35), ibu rumah tangga asal Aceh Besar yang kebetulan sedang berada di kampung suaminya.

Sayangnya, seiring dengan semakin langkanya tradisi ini, banyak remaja Aceh tidak tahu lagi bagaimana bentuk apam yang sesungguhnya. Banyak yang menyebut apam ini dengan serabi. Seperti halnya banyak anak muda yang menganggap sama ie bu kanji dan ie bu peudah.

Padahal, jika dikelola dengan baik, tradisi töt apam ini diyakini dapat menjadi salah satu obyek untuk menarik wisatawan, terutama para pemburu kuliner. “Aceh adalah daerah yang sangat kaya dengan kuliner. Bahkan hampir setiap bulan di Aceh dinamakan dengan buah-buahan dan makanan. Sayangnya, kita belum maksimal menggarap potensi dari tradisi ini,” ungkap Tarmizi A Hamid, kolektor naskah kuno Aceh, dalam perbincangan dengan Serambi di Banda Aceh, Jumat (31/5).(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved