* Ingin Jadi Hafizah, Sempat Tulis Surat Terakhir Untuk Sahabat
Siti Zulaikha, Korban Musibah di Mata Ie Hill Side
Beberapa pohon tumbang menimpa tujuh siswa. Enam siswa menderita luka-luka. Hanya Icha yang mengalami luka parah
Di sini aku mulai mendapatkan teman hingga menjadi sahabat.
Di sini tempat begitu banyak kenangan terjadi, canda, tawa, dan air mata..."
KALIMAT
itu tertulis dalam satu buku album kenangan siswa Sekolah Dasar Islam
Terpadu (SDIT) Nurul Islah Banda Aceh Angkatan III 2011-2012. Rabu (5/6)
lalu album kenangan itu menjadi saksi bisu atas kepergian seorang
alumninya Siti Zulaikha (12).
"Dia suka menulis buku harian. Di dalam buku ini dia juga menulis
perasaan dan isi hatinya," kata Rifqa Wajhi (13), siswi MTsN Model Banda
Aceh kelas 1-7 sambil mengeluarkan buku berbentuk segi panjang dari
dalam tasnya.
Rifqa Rabu kemarin hadir bersama teman-temannya di pemakaman gadis
remaja itu. Kesedihan dan air mata menghiasi wajah para siswa. Siti
Zulaikha atau sering dipanggil Icha adalah siswi MTsN Model Banda Aceh
yang menjadi korban musibah tertimpa pohon di objek wisata Hillside,
Mata Ie, Aceh Besar Senin lalu. Icha bersama temannya dari MTsN Model
Banda Aceh saat itu tengah liburan perpisahan kelas di lokasi wisata
itu.
Namun naas, saat tengah menikmati suasana pemandian di kolam renang,
cuaca berubah disertai angin kencang. Beberapa pohon tumbang menimpa
tujuh siswa. Enam siswa menderita luka-luka. Hanya Icha yang mengalami
luka parah setelah sebatang pohon besar menimpa tubuh dan kakinya.
Setelah sempat dirawat intensif di rumah sakit Malahayati, Rabu pagi
lalu, Icha menghembuskan nafas terakhir. Gadis remaja ini dimakamkan di
Kompleks Pemakaman Umum Sektor Timur Darussalam.
Kepergian Icha yang baru saja naik kelas dua meninggalkan banyak
cerita di antara teman-temannya. Rifqa Wajhi adalah satu di antara
sahabat kecil Icha yang satu sekolah sejak di TKIT Ar-Rahmah, SDIT Nurul
Islah, hingga MTsN Model Banda Aceh. Keduanya berteman akrab dan
sama-sama satu kelas di MTsN Model Banda Aceh. Rifqa sempat hadir di
pemakanan sahabatnya itu bersama ibunya. Ia juga membawa sebuah album
kenangan dalam tasnya berisikan foto, profil, kesan pesan terhadap
sekolah mereka, SDIT Nurul Islah.
"Ini bukunya, dan ini Icha," kata Rifqa menunjukkan.
Dalam
buku album kenangan itu Icha menulis isi hati dan ungkapan perasaannya
selama menempuh pendidikan di sekolah itu sampai ia tamat pada tahun
2012. Rupanya Icha telah memendam impian besar dalam hidupnya menjadi
seorang hafidzah (penghafal quran). Sampai ia tamat pendidikan di SDIT
Nurul Islah, Icha telah mampu menghafal satu juz dan satu surat Alquran.
Selain Hafidzah, anak pertama dari empat bersaudara buah cinta dari
Ir Zulfadhli MT dan Liza Safrina S Kep, ini juga bercita-cita menjadi
ilmuan, astronot, penyanyi dan dokter. Icha juga menulis kesanya di buku
album kenangan itu selama belajar di SDIT Nurul Islah; "SDIT telah
menjadi bagian dari keluargaku. Di sini aku mulai mendapatkan teman
hingga menjadi sahabat. Di sini tempat begitu banyak kenangan terjadi,
canda, tawa, dan air mata..." Namun kini album kenangan itu benar-benar
telah menjadi kenangan. Icha telah pergi selamanya.
Di mata Rifqa, Icha adalah gadis remaja yang periang, pintar, ulet,
ramah dan supel. Hampir semua teman-temannya juga mengenal Icha sebagai
gadis remaja muslimah taat beribadah.
"Di sekolah dia sering
mengajak teman shalat, sampai mereka mau shalat," ujar remaja hitam
manis ini. Beberapa hari sebelum ajal menjemput, Icha sempat berpesan
kepada teman-temannya agar tidak meninggalkan shalat, tidak saling
marahan dan menjadi siswa yang baik. Tidak hanya buat teman sekolah,
Icha juga menitip pesan kepada Rifqa.
"Dia bilang 'tolong jaga adek-adek kami di rumah baik-baik'," ucap siswa kelas 1-7 MTsN Model Banda Aceh ini.
Saat naas itu
Siang
itu suasana Hillside, Mata Ie ramai pengunjung. Termasuk rombongan
siswa MTsN Model Banda Aceh yang berlibur dalam rangka perpisahan kelas.
Beberapa siswa ada yang hanya duduk menikmati suasana, dan lainnya
tengah mandi di kolam pemandian (waterboom). Beberapa temannya mengajak
Icha ikut mandi. Tapi Icha tak mau karena cuaca saat itu mulai agak
mendung.
"Icha bersama bersama temannya (Ica Khairunnisa) cuma duduk di
pinggir kolam yang ada tulisannya 130 cm," ujar Miftahul Jannah
didampingi Rifqa dan Safira Qurratunaini. Ketiganya adalah teman sekelas
korban.
Saat tengah duduk melihat teman-temannya mandi, cuaca berubah.
Langit mendung. Angin bertiup kencang. Beberapa teman Icha sempat
mengingatkan agar pindah lokasi. Tapi ajakan itu tidak begitu terdengar.
Icha tetap berada di pinggir kolam. Tak berapa lama kemudian sebatang
pohon di dekat lokasi kolam patah, lalu menimpa tujuh siswa.
Di antara para korban, Icha termasuk yang paling kuat terkena
hantaman batangan pohon di bagian kaki dan tubuhnya. Suasana berubah
panik. Para korban segera dievakuasi ke dalam mobil DAMRI oleh guru
dibantu para siswa. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Icha bersama
enam korban lain masih sempat sadar.
"Ibu Hafsah (wali kelas) jangan nangis. Ibu banyak-banyak berzikir,"
tutur Miftahul menggambarkan saat-saat tegang itu. DAMRI terus melaju
menyusuri jalan menuju rumah sakit Malahayati. Sampai akhirnya Icha
diketahui sudah tak sadar lagi setiba di rumah sakit.
Dari penuturan teman-temanya, Icha memang sangat ingin pergi ke Hillside Mata Ie.
Dua hari sebelum acara, ia sudah menyiapkan semua keperluan.
"Umi bilang sama ibu Hafsah jangan batalin pergi ke Mata Ie," ujar Icha seperti ditirukan Rifqa, teman dekat almarhumah.
Tulis surat terakhir
Kepergian Icha meninggalkan banyak
cerita lain di antara teman-temannya. Beberapa di antaranya merasa
sangat kehilangan. Sebab pertemanan yang terajut sejak lama, terputus
begitu saja atas karena takdir Yang Kuasa. Di antara banyak teman
korban, Miftah (13), adalah salah satu di antaranya. Ia merasa sangat
kehilangan sahabat terbaikknya itu.
Miftah sempat menjenguk Icha Selasa malam bersama ayahnya di rumah
sakit. Sejak malam itu Icha masih tak sadar diri. Kondisinya drop dalam
perawatan intensif. Miftah tak menduga, malam itulah terakhir kali ia
melihat Icha. Beberapa informasi di kalangan teman-temannya, Icha sempat
sadar sesaat setelah koma. Saat itulah menurut pengakuan teman-teman
korban, Icha menulis sepucuk surat. Surat itu ditujukan kepada Nana.
Namun beberapa temannya mengatakan Nana adalah nama lain dari sahabat
Icha bernama Nada Safira, yang merupakan alumni SDIT Nurul Islam. Miftah
tak tahu jelas isi surat itu. Namun dari kata-katanya yang masih dia
ingat, surat itu berisikan saat-saat perpisahan antara keduanya.
"Saya tak begitu ingat. Tapi kata-katanya kira-kira begini 'Kalau
pagi ini kita masih ketemu, berarti persahabatan kita masih tetap ada.
Tapi bila besok tak jumpa lagi, itulah perpisahan kita'," kata Miftah,
sambil mengingat-ingat kalimat dalam surat itu. Miftah sudah berencana,
apabila nanti duduk di kelas II, maka ia ingin satu kelas dengan Icha.
Keberadaan surat itu juga diakui Rifqa.
"Surat itu ada dan disimpan di rumahnya. Tapi nggak berani buka," ujarnya.
Dalam
kesehariannya, Icha juga dikenal sosok gadis remaja yang romantis. Ia
gemar menulis puisi. Pengakuan ini diungkap ibu Rifqa, yang telah
menganggapnya sebagai anak sendiri. Namun wanita muda ini enggan ditulis
namanya. Di mata teman-temannya yang lain, Icha adalah sosok yang
sangat bersahaja. Ramah, ulet, taat beribadah dan gigih menjadi hal
isitimewa yang sulit dilupakan teman-teman korban.
"Padahal kami siang ini (Rabu-red) mau menjenguk ke rumah sakit.
Tapi paginya kami dapat kabar, Icha sudah meninggal," kata Dea Utary
Tyas, siswi kelas 1-8 didampingi teman-temannya; Ainiyah (14), Adelia
(14), Hisanah Humaira (14), Fachrul Rafiqi (14). Semua mereka tergabung
dalam komunitas "Apoetalah" sebuah wadah kreatifitas para siswa MTsN
Model Banda Aceh.
Kepergian Icha meninggalkan duka bagi kedua orang tuanya; Ir
Zulfadhli MT (dosen Fakultas Tekhnik Unsyiah) dan Liza Safrina S Kep
(pegawai RS Jiwa Banda Aceh). Rasa kehilangan juga dirasakan ketiga
adiknya.
"Semoga Icha ditempatkan Allah di sisi-Nya, bersama
orang-orang beriman. Semoga ia tenang di sana...," ucap Miftah sesaat
akan meninggalkan pusara sahabatnya itu. Selamat Jalan Icha. Semoga
Allah menempatkamu di tempat yang layak di sisi-Nya. (ansari hasyim)