Serambi Kuliner
Bahan Pengawet? No Way
HAMPIR setiap toko kue dan pedagang kaki lima Jalan Medan-Banda Aceh di pusat Kota Bireuen, menjual nagasari.
Kue tradisional itu merupakan produksi rumah tangga. Kecuali itu, rasanya yang tidak terlalu manis banyak disukai masyarakat. Selain dapat menjaga kesehatan, juga bisa menjadi makanan di saat santai atau sarapan pagi.
Kebanyakan nagasari yang dijual di Bireuen tidak menggunakan bahan pengawet. Karena itu, penganan tersebut hanya bisa tahan selama dua hari. Akan tetapi, jika disimpan di kulkas, saat dikeluarkan akan licin dan cepat basi.
Kecuali itu, nagasari Bireuen kini sudah didaftarkan ke DepertemenKesehetan (Depkes) RI. Di antaranya nagasari ‘Cipuga Baru’. Beberapa hari lalu, tim dari Dinas Kesehatan Bireuen sudah menyurvei ke dapur tempat produksi nagasari tersebut.
Dengan diperolehnya izin Depkes oleh Ramlah, pemilik usaha nagasari Cipuga Baru, bisa lebih meyakinkan konsumen atau pelanggan, untuk menjaga kesehatan masyarakat. “Masyarakat pun tidak ragu-ragu untuk membelinya,” pungkas Ramlah, pemilik usaha Cipuga Baru.
Dan bagi Ramlah, mempertahankan nagasari lebih maik ketimbang menggunakan bahan pengawet. So, bahan pengawet untuk nagasari? No way.Ferizal Hasan
Resep Nagasari
Bahan-bahan:
Tepung beras
Gula pasir putih
Santan kelapa
Sari daun pandan
Garam
Pisang raja
Daun pisang
Lidi
Kotak
Cara Meracik
1. Tepung beras diaduk dengan santan kelapa.
2. Campurkan sari daun pandan asli.
3. Tambahkan gula dan garam secukupnya.
4. Aduk hingga bahan-bahan tersebut menyatu.
5. Masak lebih kurang selama 25 menit.
6. Jaga apinya serta aduk merata agar tidak mengeras atau berkerak.
7. Tuangkan dalam baskom besar dan didinginkan.
8. Bungkus dengan daun pisang ditambah pisang raja.
9. Kukus lebih kurang selama 20 menit.
10. Nagasari siap dihidangkan
Ferizal Hasan