Balai Bahasa

Nasib Bahasa Aceh Kini

Pada dekade terakhir ini ada fenomena yang memprihatinkan, khususnya dalam penggunaan bahasa Aceh

Editor: bakri

Oleh Fitriandi,  Staf Teknis Balai Bahasa Banda Aceh

Pada dekade terakhir ini ada fenomena yang memprihatinkan, khususnya dalam penggunaan bahasa Aceh. Suatu hal yang sangat memiriskan hati bahwa seorang anak —yang ayahnya suku Aceh dan menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa sehari, ibunya pun suku Aceh dan juga menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa komunikasinya, dan tinggal di daerah Aceh yang masyarakatnya hampir 90 persen menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu - menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Sangat jelas ada sesuatu yang salah di sini.

Para orang tua, terutama orang tua muda zaman sekarang, menjadi terduga bersalah dalam kasus akan punahnya bahasa Aceh karena merekalah yang mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa Aceh sebagai bahasa kedua. Mereka beranggapan bahwa andaikata anak mereka tidak diajarkan bahasa Indonesia sedari kecil maka pada saat usia sekolah anak mereka akan kesulitan berkomunikasi atau mendengarkan pelajaran di sekolah. Hal ini merupakan suatu kesalahan yang didasarkan ketidaktahuan mereka tentang teori pemerolehan bahasa dan penggunaan bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar.

Dalam teori pemerolehan bahasa, dikemukakan bahwa anak mendapatkan bahasa ibu tanpa ada kesengajaan dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam hal ini adalah ayah dan ibunya. Dia memperoleh bahasa melalui bunyi-bunyi yang didengarnya tanpa disengaja dan diperintah. Kemampuan berbahasanya akan semakin berkembang dengan bertambahnya usianya.

Dalam hal kesalahan orang tua ini akan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan bahasa anak. Anak “yang ibunya berbahasa Aceh dan ayahnya berbahasa Aceh termasuk kakek-neneknya serta paman dan bibinya” yang sedari bayi sudah menangkap kosa kata bahasa Aceh namun sewaktu bisa berbicara, bahkan sebelum bisa bicara, diajarkan bahasa Indonesia. Maka anak bisa mengalami gegar bahasa yaitu kondisi di mana dia mendapat guncangan karena adanya benturan perlakuan dari orang tuanya.

Untuk bahasa pengantar dalam proses belajar kelas rendah sangat diperbolehkan memakai bahasa daerah untuk menyampaikan materi pelajaran. Guru tidak wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di kelas satu. Ada juga kekhawatiran dari orang tua bahwa anak mereka sulit berkomunikasi kalau ada kawannya yang bukan pengguna orang Aceh. Hal ini terlalu mengada-ada karena pada umumnya masyarakat yang berasal dari luar Aceh bisa dihitung dengan jari.

Sebuah contoh dari hal yang penulis lakukan mungkin memberi pencerahan buat orang tua yang merasa khawatir dengan kemampuan berbahasa anaknya di masa datang. Penulis yang memakai bahasa Minangkabau dan istri yang juga menggunakan bahasa Minangkabau sejak anak kami belum bisa berbicara sampai sekarang tetap berkomunikasi menggunakan bahasa Minang. Kekhawatiran bahwa anak tidak bisa berbahasa Indonesia sangat tidak terbukti. Sejak TK sampai sekarang memasuki sekolah dasar anak saya tidak mempunyai kesulitan dalam komunikasi menggunakan bahasa Indonesia.

Bahwa anak saya juga mendengarkan bunyi bahasa Indonesia dari televisi memberikan pengayaan pada anak saya. Bahkan saya menganggap anak saya mempunyai nilai tambah karena sudah menerapkan alihkode sebagai orang dwibahasawan; dengan bahasa Minangkabau sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Dia tahu kapan harus berbahasa Indonesia dan kapan harus berbahasa Minangkabau. Dia tidak akan menggunakan bahasa Indonesia bila dia tahu orang yang berbicara dengan  dia adalah pemakai bahasa Minangkabau. Hanya saja anak saya tidak bisa belajar berbahasa Aceh karena kawan sepermainan banyak yang tidak bisa berbahasa Aceh. Haruskah anak saya banyak berbicara dengan orang tua, kakek-nenek dari kawan-kawanya untuk bisa berbahasa Aceh?

Berdasarkan apa yang telah penulis uraikan maka dalam rangka Hari Bahasa Ibu yang diperingati setiap tanggal 21 Februari, penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk peduli dengan nasib bahasa Aceh. Mari kita ajarkan anak kita bahasa Aceh dan jangan takut anak kita tak bisa berbahasa Indonesia pada waktu dia memasuki usia sekolah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved