Mendag Resmikan Pasar Atjeh Tahap II

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, Selasa (16/7), meresmikan Pasar Atjeh tahap II. Turut hadir Wakil Gubernur Aceh

Mendag Resmikan Pasar Atjeh Tahap II
SERAMBI/M ANSHAR
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (tengah) bersama Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa aduddin Djamal meninjau Pasar Atjeh usai diresmikan, Selasa (16/7). Pasar tradisional seluas 36.000m2 itu dibangun dengan dana APBN Rp 150 miliar lebih dan melalui Kementrian Perdagangan sebesar Rp 71 miliar lebih. 

BANDA ACEH - Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, Selasa (16/7), meresmikan Pasar Atjeh tahap II. Turut hadir Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dan Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin.

Dalam sambutanya, Gita mengatakan, Pasar Atjeh ini merupakan pasar tradisional termegah di Indonesia, karena bentuk dan desain serta model pasarnya yang cukup bagus. Ia juga mengingatkan tentang penataan kebersihan lingkungan yang harus dijaga. “Penghijauannya harus lebih banyak supaya kondisi pasarnya kelihatan tetap sejuk,” kata Gita.

Selanjutnya, Mendag meminta kepada para wali kota dan bupati untuk mengawasi secara ketat pembukaan mini market. Pemberian izin pembukaan mini market yang terlalu banyak, dikatakannya bisa mematikan toko-toko dan kedai-kedai kelontong yang dibuka masyarakat secara tradisional. “Mereka  perlu kita lindungi, agar bisa tetap hidup,” ujarnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, bantuan untuk revitalisasai pasar tradisional di Aceh yang rusak dan hancur akibat bencana telah dilakukan sejak tahun 2011 sampai 2013. Jumlahnya sudah mencapai 161 unit, dengan nilai bantuan mencapai Rp 221 miliar, termasuk Pasar Aceh.

“Ini artinya perhatian Pemerintah Pusat terhadap percepatan pertumbuhan prekonomian masyarakatnya pascabencana tsunami dan perdamaian cukup besar,” kata Gita Wirjawan. 

Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin, dalam kata sambutannya, menjelaskan, Pasar Aceh lama yang telah hancur akibat bencana gempa dan tsunami tahun 2004 lalu, dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama telah selesai dua tahun lalu melalui sumber dana bantuan JICS, Jepang, senilai Rp 43 miliar. Sedangkan tahap II yang diresmikan kemarin dibangun melalui tiga sumber pembiayaan, yaitu APBN Rp 71,9 miliar, pinjaman dari Bank Dunia Rp 46 miliar dan sumber APBK Rp 2,3 miliar, sehingga totalnya menjadi Rp 120,2 miliar.

“Bangunan Pasar Aceh tahap II ini pada lantai dasar atau bawah tanah dan lantai atasnya dilengkapi lapangan parkir mobil untuk kapasitas 190 unit dan sepeda motor 300 unit. Lantai I digunakan untuk dagangan bahan dapur, bahan kelontong, pangan, sedangkan lantai II dan III untuk dagangan barang sandang dan lainnya.

Sementara Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, meminta kepada Menteri Perdagangan agar memberikan kuota impor gula pasir untuk Aceh, supaya harga gula pasir di Aceh bisa ditekan lebih rendah dari harga saat ini yang mencapai Rp 13.000/kg.

Selain meminta izin kuota impor gula pasir, daging impor, sapi, bawang merah, dan lainnya, wakil gubernur juga menyampaikan agar salah satu pelabuhan yang ada di Aceh, masuk dalam daftar pelabuhan yang diizinkan untuk mengimpor barang-barang tertentu, seperti buah segar, umbi-umbian dan lainnya.

Terkait hal itu, Gita mengatakan, seluruh permintaan tersebut akan menjadi perhatian khusus pihaknya. “Permintaan itu sedang kami pelajari dan dalam waktu dekat ini akan kami sampaikan kepada Pemerintah Aceh dan Walikota Langsa. Kami akan meresponnya, tapi respon yang diberikan nanti juga memperhatikan kondisi rill kebutuhan masyarakat Aceh,” demikian Gita Wirjawan.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved