Cerpen

Malam Qadar Haji Ramli

Sejak beberapa hari yang lalu, Haji Ramli terlihat gelisah. Sepanjang hari, lelaki paruh baya itu hanya bergonta-ganti

Haji Ramli makan dengan sangat lahap. Binar di matanya terlihat begitu nyata. Meskipun azan Maghrib sudah hampir selesai, dia  masih juga tidak beranjak. Bahkan, lelaki itu kembali menyendokkan nasi dan pecal  ke dalam piringnya. Di luar, hujan mulai menderas. Mak Yek menatap heran pada suaminya.

“Untuk mendapatkan hasil yang terbaik di malam Lailatul Qadar, aku butuh banyak tenaga. Kau juga, Dah! Seharusnya kau tidak tidur malam ini. Mohonkanlah keampunan dari Allah untuk setiap dosa yang sudah kaulakukan. Terlebih, untuk kebiasaanmu yang tak henti bergosip itu.” Masih dengan mulut mengunyah, Haji Ramli seolah mengerti tatapan heran istrinya.

Sama sekali tidak menyahuti perkataan suaminya, Mak Yek mengambil kantung plastik dari tumpukan plastik bekas yang tergantung pada dinding dekat pintu dan memakai di kepalanya seperti memakai topi. Perlahan, perempuan itu menyeret tubuh bongsornya menuju sumur di bawah tarian hujan.

“Jika memang benar malam ini adalah malam Lailatul Qadar, ampunilah dosa-dosaku ya Allah! Dan seandainya pun malam ini bukanlah malam Qadar, aku tetap memohon keampunan dari-Mu, Allah!” Terdengar lirih suara Mak Yek. Seusai shalat, perempuan itu terlihat begitu khusyuk berdoa, terlebih ketika mengingat sindiran suaminya tentang kebiasaannya yang suka bergunjing.

Baru saja Mak Yek membuka Quran-nya, lampu tiba-tiba padam. Sementara suara hujan kian deras menerpa atap seng rumah mereka. Terdengar teriakan suaminya dari arah dapur.

Tergopoh-gopoh, Mak Yek mencari senter dan menyalakan lampu teplok. Suara petir yang menggelegar membuat Mak Yek terlonjak dan hampir menjatuhkan lampu teplok yang sedang dipegangnya. Perempuan itu tidak pernah bisa meredam ketakutannya pada suara petir.

Setelah menggantungkan lampu teplok di dinding dapur, Mak Yek bergegas mengambil dan mengisi tempat cuci tangan yang baru setelah melihat yang sebelumnya terjatuh dan pecah tersenggol tangan suaminya pada saat mati lampu tadi. Dalam keremangan cahaya, Mak Yek melihat wajah Haji Ramli kembali pias. Gelisah yang tadi menghilang entah ke mana, kini kembali hadir dan membentuk galur kekecewaan. Mak Yek meletakkan tempat kobokan itu di samping suaminya.

“Tidak ada malam Qadar yang sekelam ini.” Mendengar gumaman suaminya itu, Mak Yek menahan napas dan menghembuskannya perlahan. Perasaan iba yang tiba-tiba menyeruak saat menatap kekecewaan di wajah suaminya itu membuat Mak Yek terdiam. Haji Ramli terlihat semakin lesu, sementara hujan tetap menderas di langit kelam. Dan Magrib pun kian berlalu.

* Rinal Sahputra  berprofesi sebagai dokter

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved