PKA VI

Banda Aceh Tampilkan Romantika ‘Geuritan Apui’

Generasi muda sekarang mungkin tak semuanya tahu bahwa Kota Banda Aceh dulu pernah jaya dengan adanya stasiun kereta api

* Grup Seudati ‘Rambideun’ Tampil di Panggung PKA 6

BANDA ACEH - Generasi muda sekarang mungkin tak semuanya tahu bahwa Kota Banda Aceh dulu pernah jaya dengan adanya stasiun kereta api. Untuk mengingat kembali masa jaya itu, grup teater asal Banda Aceh menampilkan kembali romantika Stasioen Koeta Radja dengan judul ‘Geuritan Apui Atjeh Tram’, di Taman Budaya, Banda Aceh, Senin (23/9).

Dalam penampilan teater yang juga rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-6 ini, diceritakan, pada tahun 1960-an, Banda Aceh yang dulu disebut Koeta Radja pernah jaya dengan memiliki kereta api (geurita apui) peninggalan Belanda, yang digunakan untuk angkutan barang dan penumpang. Stasioen Koeta Radja merupakan salah satu stasiun kereta api tersibuk pada masa itu.

Sutradara teater kontingen Banda Aceh, Ody Nugraha kepada Serambi, Senin (23/9) mengatakan, melalui pementasan teater ini mereka ingin menghadirkan kembali romantika kejayaan Kota Banda Aceh. “Kita ingin mengajak penonton untuk kembali mengingat masa-masa romantis bagi yang sempat menikmati geuritan apui saat itu,” katanya.

Sedangkan bagi generasi muda, melalui teater ini disampaikan pesan bahwa Banda Aceh dulu pernah jaya dengan kereta apinya. Kereta api yang saat ini hanya menjadi pajangan di depan Barata Department Store itu sesungguhnya dulu pernah menjadi salah satu alat transportasi yang sangat diandalkan.

Dia berharap, pementasan teater dari kontingen Banda Aceh ini dapat memberi arti sendiri bagi para penonton khususnya bagi para tim penilai. “Kita optimis akan memenangkan pagelaran ini, kita juga terus berharap dukungan dan doa dari masyarakat Kota Banda Aceh,” tutup Ody.

Selain penampilan teater, kemarin sore, grup seudati asal Banda Aceh juga tampil di panggung PKA di Taman Sri Ratu Safiatudidin. Ratusan warga terlihat antusias menyaksikan grup yang diberi nama “Rambideun”, saat dilantunkan syair-syair tentang ajakan menjahui narkoba bagi generasi penerus bangsa.

Selain menyinggung masalah bahaya narkoba, dua syeh yang mengiringi delapan penari seudati itu, juga membawakan alunan syair dalam bahasa Aceh mengajak masyarakat untuk mempedomani selalu kitab suci Alquran sebagai petunjuk dan penerang alam dunia hingga akhirat.

“Banyak sekali pesan yang kami sampaikan dalam syair tari seudati, sehingga seudati tidak hanya menampilkan tarian unik memukul perut saja namun juga sarat doa dan seruan agama,” ujar seorang syeh, Salahuddin. Ia berharap, semoga penampilan mereka menjadi hiburan bagi masyarakat dan berharap bisa meraih juara.(ni)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved