PKA VI

Menikmati Alunan Teganing di Rumah Klasik

ENAM perempuan Gayo mengenakan baju motif kerawang Gayo, memainkan alat musik teganing, di depan sebuah rumah

ENAM perempuan Gayo mengenakan baju motif kerawang Gayo, memainkan alat musik teganing, di depan sebuah rumah klasik (umah jemen) di Kampung Kebet, Aceh Tengah, 23 September 2013 silam.

Teganing, instrumen musik yang terbuat dari bambu, sebahagian kuliatnya dicungkil sebagai senar. Teganing dimainkan dengan cara memukul-mukul senar itu dengan potongan bambu kecil.

Didamping seorang peniup seruling dan dua penari, mereka memainkan nada-nada Gayo yang riang dan meriah. Sesekali terdengar instrumen cello, digesek Jassin Burhan dan petikan gitar Yoppi Smong.

Vokalis Gayo Kabri Wali, menyanyikan sebuah nomor lagu tradisional. Pemain biola, pria tua, Pak Bencek, melengkapi pertunjukan tersebut dengan nada-nada biola yang riang.

Bupati Aceh Tengah, Ir Nasaruddin MM bersama masyarakat Kampung Kebet tampak menikmati pertunjukan petang tersebut. Sekelompok anak-anak ikut bertepuk tangan dan bernyanyi bersama.

Pertunjukan kolaborasi di halaman rumah klasik Gayo tersebut, dengan latar belakang pohon kopi, merupakan rangkaian launching antologi puisi “Secangkir Kopi” yang diterbitkan The Gayo Institute.

Sementara perempuan Gayo yang memainkan teganing tersebut, Aisyah Dinar Munthe, Arlina Fitri, Lia dan lain-lain adalah anggota dan pengurus Sanggar Oloh Guwel yang kini dipimpin Yusrizal SPd.

“Oloh Guwel” yang artinya “bambu bunyi” merupakan salah satu sanggar seni yang eksis di bidang seni tradisi di Gayo. Didirikan pada 2006, sanggar tersebut telah sering tampil dalam pentas pertunjukan di Gayo dan luar Gayo. Sanggar ini pernah menyabet juara I dalam sebuah festival seni bambu di Aceh Tengah.

“Kami sering mentas di tempat tidak biasa, seperti di mulut gua Mendale, Sungai Pesangan, kebun kopi dan pabrik kopi,” kata Yusrizal, guru sebuah sekolah dasar di Aceh Tengah. Ia juga pernah tampil di Universitas Indonesia dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Sanggar tersebut beranggotakan 25 orang. Rata-rata mahir memainkan alat musik teganing. Latar belakang mereka beragam, guru, pegawai dinas kesehatan, pelajar, siswa dan lain-lain. Ibunda Yusrizal, juga ikut menyokong grup tersebut dan acap mendampingi saat sanggar tersebut manggung.

Yusrizal membuat sendiri instrumen teganing. Ia kadang harus “mati-matian” untuk mendapatkan bambu terbaik. “Saya kadang harus menyusuri lembah unntuk mencari bambu yang pas untuk alat musik ini,” katanya.

Bambu yang sudah diperoleh, direndam dulu beberapa hari pada air mengalir di parit, dan kemudian dikeringan dengan sinar matahari. Yusrizal juga membuat suling bambu sendiri. “Ada ratusan suling yang sudah saya buat dan mainkan,” katanya.

Kepada Serambi, Yusrizal bertekad tetap maminkan seni Gayo sebagai bagian dari merawat khasanah tradisi. Meski ia sempat kecewa, terhadap praktik “politisasi seni” yang hanya dinikmati oleh sanggar-sanggar tertentu, karena pengasuhnya punya jaringan di birokrasi.

“Kami juara di Aceh Tengah, tapi tak pernah jadi wakil daerah di acara luar daerah, justru kelompok lain yang kurang eksis di daerah yang sering mewakili ,” katanya setengah kecewa.(fik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved