Breaking News

Balai Bahasa

Ketika Bahasa Gagal Menjadi Logika

“DEMAM Vicky” masih belum mereda. Orang masih terngiang-ngiang cara Vicky Prasetyo alias Hendrianto mengucapkan

Editor: bakri

Oleh Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropolinguistik Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

“DEMAM Vicky” masih belum mereda. Orang masih terngiang-ngiang cara Vicky Prasetyo alias Hendrianto mengucapkan kata-kata saat pertunangannya. Dampak “Vickynisasi” betulbetul telah mewabah, bukan hanya di dunia hiburan, tapi juga media cetak, media sosial, dan juga percakapan di perguruan tingga hingga rumah tangga. Bahkan pejabat publik seperti Anas Urbaningrum dan Hatta Rajasa pun ikut latah meramaikan efek Vicky saat berkomunikasi.

Apakah itu hanya disebabkan oleh Vicky? Tidak! Yang diperlihatkan Vicky dampak epidemik penyakit kebahasaan dan realitas psikolinguistik yang sudah sakit kronis. Apa yang ditunjukkan oleh Vicky adalah puncak gunung es akibat orang tidak peduli lagi dengan bahasa. Bahasa dianggap hanya sebagai meant of communication yang tidak perlu struktur, etik, dan estetik.

Bahasa telah dibongkar-paksa oleh faktor-faktor nonlinguistik sehingga menjadi buruk rupa.  Dalam kasus Vicky, bahasa Indonesia didestruksi sedemikian rupa sehingga tidak terlihat elegan dan bermartabat di kalangan penggunanya. Ini sama dengan maraknya bahasa prokem (bahasa sandi) di kalangan muda atau tercampur- baurnya penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan dianggap model perilaku ningrat. Apa yang dilakukan Vicky menjadikan komunikasi bahasa Indonesia layaknya subaltern:

Tersungkur di pangkat terendah bahasabahasa ergaulan dunia. Memang istilah “berbahasa Indonesialah secara baik dan benar” ditujukan kepada bahasa tulis. Namun bukan berarti kita bisa memperlakukan bahasa lisan secara semena-mena dan membabi-buta. Mari simak penggalan kalimat ini: “Di usiaku saat ini.... ya twenty nine my age ya... tapi aku masih merindukan apresiasi karena basically aku seneng musik walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih.” Kita kesulitan memahami maksud kalimat ini melalui logika kalimat (logic of semantic). Kita sulit memahamimakna kalimat di atas melalui analisis semiotika, tapi mungkin melalui “hermenetika” atau bahkan ilmu nujum baru dapat memahaminya.

Efek Vicky telah menjatuhkan bukan hanyastatus bahasa tutur, tapi juga bahasa tulisan. Saya kerap mendapatkan SMS dari mahasiswa dengan menggunakan kalimat, “Ea pak, kita masok minggu depan kan? Qmi gak boleh ikot ya pak? Ge mana cara ngemengnya? Oh geto rupa na ya?” Dalam beberapa hal, praktik berbahasa mahasiswa itu juga melakukan destruksi bahasa. Memang ada analisis lain tentang bahasa SMS, yaitu efisiensi.

Namun itu sebenarnya bukanlah efisiensi tapi ketidaktahuan tentang sejarah bahasa (kata) yang benar. Saat ini di kalangan muda, bahasa tulis seperti kehilangan referens, hanya simulacra tanpa keaslian. Lost in practice! Apa yang dilakukan Vicky tidak bisa dibandingkan dengan para penyair dan sastrawan. Para sastrawan mempraktikkan bahasa untuk menantang eksistensi bahasa yang lebih luas. Apa yang dilakukan Saut Situmorang dengan “mencampurkan” bahasa Inggris dalam puisinya,Remy Silado dengan memasukkan bahasa asing dan etnik dalam novelnya, Binhad Nurrohmat yang bermain-main dengan maksud menyindir “borjuisme bahasa baik dan benar”, dll adalah tindakan penuh kesadaran dan bernilai intelektual.

Para sastrawan itu sedang melakukan dekonstruksi agar bahasa (Langue) tidak mengabdi pada monolitisme sehingga tetap liat dan dinamis.  Yang dilakukan Vicky dan “kelompok pemalas lainnya” adalah mempraktikkan bahasa tanpa kesadaran, asal keluar, dan sayangnya mematikan bahasa. Mungkin patut disebut kelompok kedua ini sebagai pembunuh bahasa! Para posmodernis sudah menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa  ipahami di luar bahasa.

Maknanya, logika memiliki peran penting dalam membentuk bahasa, demikian pula sebaliknya. Alangkah suram jika bahasa tidak digerakkan secara logis dan rasional, yaitu menghubungkan antara bahasa dengan referensi dan makna dengan realitas (St. Sunardi, 2012 : 76).  Maka bersegeralah sekalian kita menjadikan bahasa tetap berkembang, termasuk memperhatikan peran logika dengan seksama di dalam setiap praktik tutur dan tulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved