Balai Bahasa
Pentingnya Pembelajaran Bahasa Komunikasi Antarbudaya
TULISAN ini terinspirasi dari suatu peristiwa yang sangat berkesan bagi saya saat menjadi seorang pengajar di sebuah
Oleh Hendra Kasmi, S.Pd. Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Unsyiah
TULISAN ini terinspirasi dari suatu peristiwa yang sangat berkesan bagi saya saat menjadi seorang pengajar di sebuah SMA Islam terpadu, Aceh Besar. Di sekolah tersebut mempunyai supervisor yayasan yang dikenal dengan istilah “musyrif tharbawi”. Tugasnya adalah mengawasi dan mengevaluasi setiap kinerja para karyawan, guru, penjaga asrama, dan pesuruh.
Uniknya, setiap orang yang menjabat musyrif tharbawi tersebut berasal dari Arab, sebab sekolah tersebut mempunyai jaringan induk di Timur Tengah, tepatnya di Kuwait. Alkisah tersebutlah pada suatu hari, usai menunaikan salat Zuhur, saya melewati lapangan futsal. Seorang syeikh (penjabat musyrif tharbawi saat itu yang berasal dari Yaman berjalan di depan saya). Ia tersenyum saat melihat siswa-siswa SMP bermain bola. Lalu ia masuk ke lapangan.
Rupanya syeikh tersebut ingin sekali menendang bola itu ke gawang. Siswasiswa pun bersorak riang. Tanpa sengaja tendangannya menghantam dada saya. Telepon genggam yang saya pegang langsung terpental ke tanah. Dengan perasaan bersalah, ia memeluk saya sembari meminta maaf dalam bahasa Arab. Tak hanya itu, ia juga mencium pipi saya. Saya mencoba menangkisnya karena tak sanggup menahan geli.
Entah diliputi rasa bersalah yang sangat, beberapa menit kemudian sang musyrif menjumpai saya lagi dengan meminta maaf sembari menyerahkan sekantong plastik berisi air kemasan dan biskuit “Pak, ini hadiah dari saya!” ujarnya dengan logat bahasa Indonesia yang kurang fasih. “Tak usah repot-repot syeikh, syukron!” ujar saya. Beliau kemudian berlalu sambil tersenyum.
Singkat cerita, saya mendapat penjelasan dari asistennya bahwa memang sudah menjadi kebiasaan orang Arab, jika berbuat salah mereka akan meminta maaf dengan cara demikian. Jika orang yang diminta maaf mengelak berarti si bersalah tak mau dimaafkan. Ya, saya terpikir ketika mengelak dari ciumannya, syeikh tersebut mungkin merasa bahwa saya tak mau emaafkannya, makanya ia membelikan makanan untuk saya.
Peristiwa itu merupakan salah satu contoh kesalahpahaman dalam bidang komuniksa bahasa antarbudaya. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan tentang bahasa komunikasi antarbudaya yang dimiliki oleh individu. Sehingga masalah yang ditimbulkan adalah adanya kecenderungan fanatisme terhadap bahasa komunikasi sendiri dan tidak tertarik untuk mempelajari bahasa komunikasi busaya asing.
Dampaknya, akan terjadi ketimpangan hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat. Bahasa komunikasi antarbudaya merupakan proses interaksi antara suatu kelompok budaya dengan kelompok budaya yang lain baik antarbenua, antarnegara, ataupun antarsuku. Proses komunikasi tersebut terjadi karena adanya perpindahan individu ataupun kelompok sosial ke wilayah budaya kelompok lain karena faktor lapangan kerja, pendidikan, konflik, dan lain sebagainya.
Dampak positif dari proses tersebut adalahterjalinnya tali silaturahmi yang erat antara dua kelompok budaya dan terjadinya proses akulturasi yang menambah corak kebudayaan. Memang sudah saatnya semua individu mempelajari tentang bahasa komunikasi antarbudaya. Pembelajaran tentang komunikasi antarbudaya tidak hanya sebatas teori dalam pelajaran sosiologi di sekolah menengah dan ilmu sosial dan budaya pada perguruan tinggi seperti yang kita lihat sekarang ini.
Namun, setiap individu seharusnya langsung mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sosial, apalagi langsung berinteraksi dengan orang asing. Semestinya juga setiap individu melakukan berbagi kajian untuk lebih mendalami keanekaragaman budaya orang lain dan proses interaksinya. Memang hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan mengingat sikap fanatisme masyarakat Indonesia yang sangat kuat terhadap budaya yang dianutnya.
Namun, dengan adanya kerja sama antara semua lembaga dan elemen masyarakat seperti pemerintah daerah, balai bahasa, mahasiswa, pemerhati bahasa dan lain sebagainya, pembelajaran bahasa tersebut dapat terlaksana dengan baik.