Breaking News:

Opini

Zakat dan Jaminan Sosial

PENGGUNAAN lafaz zakat dalam berbagai bentuk di dalam Alquran diulang sebanyak 30 tempat; 8 terdapat dalam surah Makkiyah

Editor: bakri

Oleh Shafwan Bendadeh

PENGGUNAAN lafaz zakat dalam berbagai bentuk di dalam Alquran diulang sebanyak 30 tempat; 8 terdapat dalam surah Makkiyah dan selebihnya dalam surah Madaniyah, dan 27 kali daripadanya disebut seiring dengan kewajiban mendirikan shalat. Kondisi ini menegaskan kedudukan zakat yang cukup tinggi dalam syariat Islam.

Menurut Ibn Faris dalam Mu’jam fi al-Lughah, zakat memiliki akar kata yang berpandukan pada makna al-nama’ dan al-ziyadah yang bererti pertumbuhan dan pertambahan. Selain itu, ia juga membawa maksud at-thaharah yang bererti penyucian. Ini bermaksud, penyucian dari segala dosa dan juga bagi mendapat ganjaran. Penyucian ini juga termasuk menyucikan seseorang dari keaiban bakhil dan memakan hak orang yang memerlukan. Ia juga membersihkan harta itu sendiri daripada perkara-perkara yang tidak baik dan hak-hak manusia selain menyucikan juga jiwa orang-orang miskin dari hasad dan perasaan benci.

Zakat dari sudut syariat diartikan bagian dari kekayaan yang dipungut dari orang kaya untuk disalurkan kepada masyarakat miskin. Sedangkan menurut istilahnya, wahbah al-zuhailly dalam pengertian secara umum mengatakan hak tertentu yang terdapat dalam harta seseorang. Syed Abul A’ala Mawdudi, mendefinisikan zakat sebagai satu bentuk ibadah karena kadar, nisab dan para penerimanya telah diterangkan oleh syara’ dan tidak ada siapa pun yang boleh mengubahnya. Terdapat juga pendapat lain yang menyatakan bahwa zakat itu adalah suatu pajak seperti pajak-pajak modern yang lain.

Zakat dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu zakat mal dan zakat fitrah. Zakat mal diwajibkan kepada setiap muslim yang merdeka, dan memiliki satu nisab dari salah satu jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Sementara, zakat fitrah merupakan zakat ke atas diri dan bukan ke atas harta yang berbeda dengan zakat-zakat lain. Zakat fitrah tidak tertakluk kepada syarat yang dikenakan kepada zakat harta. Zakat fitrah disyariatkan dengan tujuan untuk menyucikan jiwa orang-orang yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, sekaligus memberi makan kepada orang-orang miskin dan mencukupi keperluan mereka ketika hari raya.

 Dikelola oleh negara
Zakat di dalam Islam adalah ibadah tersendiri. Ia bukan sekadar kebaikan hati seseorang dermawan atau sedekah orang yang mengharapkan pahala. Ia adalah hak yang makruf dan pajak yang sudah ditentukan bagi orang yang telah mencapai nisab tertentu dari harta benda, telah mencapai haul, dan melebihi kebutuhan pokoknya. Ia adalah hak Allah atas apa yang Dia kurniakan berupa harta benda, perdagangan, dan pertanian. Hak yang mana keimanan menjadi pendorong dalam pelaksanaannya, dan negara bertanggung jawab dalam mengumpulkannya. FirmanNya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, guna membersihkan) dan mensucikan) mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (QS. at-Taubah: 103).

Pemerintahlah yang memungut zakat. Islam menegaskan hal tersebut, dengan menjadikan para pemungut zakat sebagai satu golongan yang berhak menerimanya. Adapun Islam mewakilkan pemungutan zakat kepada negara, dan bukan kepada perseorangan disebabkan beberapa hal: Pertama, banyak orang yang telah mati hati nuraninya, atau menjadi kerdil. Maka tidak ada jaminan apabila hak orang fakir diserahkan kepada orang-orang yang demikian;

Kedua, hal orang fakir mengambil haknya dari negara bukannya langsung dari orang kaya adalah menjaga kemuliaannya dan memelihara kehormatannya sehingga tidak jatuh dengan meminta kepada pemilik harta; Ketiga, menyerahkan urusan ini kepada perseorangan mengakibatkannya menjadi kacau. Kadang lebih dari orang kaya memberikan hartanya kepada satu orang fakir dan mengabaikan orang lain. Sehingga, tidak ada yang memperhatikannya, dan barang kali dia lebih fakir, dan;

Keempat, pemberian zakat tidaknya hanya terbatas pada orang fakir atau orang-orang tertentu. Di antara pembelanjaan zakat adalah kemaslahatan kaum muslimin secara umum, yang tidak dapat ditaksir oleh perseorangan, melalui ulul amri yang bisa memperkirakannya. Misalnya memberikan hak kepada kaum muallaf, dan menyiapkan bekal dan untuk jihad di jalan Allah.

Barang siapa yang menunaikannya dengan senang hati, maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah dan manusia, dan beruntung dengan mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Dan bagi yang enggan, ia dipaksa untuk menunaikannya. Apabila ia mempunyai kekuatan, maka ia diperangi hingga ia mau menunaikannya. Inilah yang dilakukan oleh khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiiq kepada orang yang menolak membayar zakat. Beliau mempersiapkan sebelas pasukan berkuda guna memerangi suatu kaum yang menolak membayar zakat, dan ia mengucapkan perkataan yang masyhur: “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara kewajiban shalat dan zakat.”

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved