Serambi Kuliner

Kuliner Khas yang Terus Dilestarikan

BULUKAT kuah tuhe termasuk salah satu hidangan istimewa masyarakat Aceh

Editor: hasyim

BULUKAT kuah tuhe termasuk salah satu hidangan istimewa masyarakat Aceh. Hampir di setiap acara besar seperti resepsi perkawinan, sunatan, dan acara kebesaran lainnya, disajikan bulukat kuah tuhe.

Menu ini terdiri dua macam makanan yang dijadikan satu untuk dinikmati. Bulukat berarti beras ketan dikukus hingga menjadi pulut. Sementara kuah tuhe adalah kuah yang dimasak dengan santan berisi pisang raja dan nangka masak. Saat hendak disantap, bulukat disiram kuah tuhe hingga tergenang di piring, berikut pisang raja dan buah nangka.

Untuk memberikan aroma yang wangi, bubuhkan beberapa helai daun pandan ke dalam belanga sama. Keharuman daun pandan yang merebak bisa menggugah selera.

Meski terbilang istimewa, bukan berarti makanan khas ini masih dikenal luas di kalangan masyarakat. Banyak remaja Aceh sekarang, yang tak mengenali bulukat kuah tuhe. Sebab, keberadaannya hampir tergerus menu-menu instan era moderen ini.

“Anak-anak sudah lupa pada bulukat kuah tuhe karena sudah ada Pizza Hut, halua bertukar Mc Donald, keukarah berganti KFC, dan lainnya,” ujar Ketua PWNU Aceh, Tgk H Faisal Ali, saat menghadiri acara Malam Kebudayaan Ansor di Hermes Hotel Banda Aceh, 14 Juni 2013 lalu.

Kekhawatiran Lem Faisal itu tidaklah berlebihan. Sebab, kerisauan WakilKetua MPU Aceh itu muncul setelah melihat kondisi kekininian. Saat acara yang dihelat di kampung maupun di perkotaan, jarang terlihat remaja Aceh yang mencoba mencicipi bulukat kuah tuhe. Padahal, rasanya yang gurih dan khas serta beraroma sedap, tak bisa ditandingi dengan makanan modern lain.

Tapi, bukan berarti bulukat kuah tuhe itu bisa sirna begitu saja. Meski banyak didominasi makanan instan, masih ada juga kalangan muda yang peduli tentang kuliner khas Aceh. Salah satunya Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala.

Pada 17 April 2010 lalu, komunitas ini menghelat event yang bertajuk Khanduri Kuah Tuhe. Acara dimaksud dilaksanakan sekaligus memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Seluruh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Unsyiah, dosen, dan para alumni, ikut menghadiri kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Jami’ Unsyiah Banda Aceh itu. Paling tidak, pemahaman tentang kuah tuhe telah tertransfer kepada para undangan yang mengikuti acara itu.

Tentunya, kepedulian tersebut memberikan sinyalemen, makanan tradisional seperti bulukat kuah tuhe merupakan kuliner khas Aceh yang patut dilestarikan. Karena itu, tak dapat dipungkiri bila hampir setiap acara besar seperti resepsi perkawinan, sunatan, dan hajatan, tersaji bulukat kuah tuhe.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved