Serambi Property
Rumah Murah Jadi Primadona
Rumah murah bersubsidi pemerintah yang dibandrol Rp 88 juta/unit telah menjadi primadona masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
* 2014, Kemenpera Canangkan 957.083 Unit
JAKARTA - Rumah murah bersubsidi pemerintah yang dibandrol Rp 88 juta/unit telah menjadi primadona masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di seluruh Indonesia, tak terkecuali di Aceh. Rumah yang menjadi impian setiap keluarga yang belum memiliki tempat tinggal mendapat bantuan dari pemerintah melalui program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).
Tahun 2014, Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) yang mengurus rumah untuk rakyat mencanangkan Kredit Rumah Sejahtera Tapak sebanyak 957.083 unit dan 500 unit rumah sejahtera susun. Untuk Aceh, belum ada rumah sejahtera susun yang dikenal dengan rusun, tetapi rumah sejahtera tapak bertipe 36 m3, dengan fasilitas dua kamat tidur, ruang tamu, ruang keluarga dan kamar mandi.
Rumah dengan harga terjangkau tersebut, tidak mungkin didapat di tengah perkotaan, apalagi di Banda Aceh dengan harga tanah sudah melambung tinggi dan pastinya di pinggiran atau luar kota. Pengembang juga tidak mungkin membangun rumah subsidi di tengah kota dengan harga jual terjangkau.
Walaupun demikian, warga yang ingin memiliki rumah dapat mencari lokasi sedekat mungkin dengan kantor atau tempat kegiatan lain. Minimal, terdapat fasilitas transportasi umum, seperti angkutan kota atau bisa juga ke tempat kerja dengan sepeda motor atau kendaraan roda empat.
Rumah yang dibandrol Rp 88 juta/unit itu, sebenarnya telah mulai naik seiring kenaikan harga bahan bangunan, termasuk naiknya kurs mata uang dolar AS terhadap rupiah. “Untuk Aceh, rumah murah berharga terjangkau tersebut kemungkinan naik, antara Rp 99 juta sampai Rp 105 juta/unit, tetapi masih menunggu adanya kesepakatan dengan pemerintah pada 2014 mendatang,” ujar Afwal Winardi, Ketua Apersi Aceh, Sabtu (26/10).
Sedangkan Ketua REI Aceh, Zulfikar sempat melontarkan harapan, agar rumah bersubsidi dapat dinaikkan sampai Rp 125 juta/unit tahun depan, walau pemerintah telah menetapkan batasan kenaikan sekitar 10 persen dari harga Rp 88 juta/unit. Direktur BS Property ini telah dan sedang mengembangkan pembangunan rumah murah di dua kawasan Aceh Besar, Blang Bintang dan Jantho serta satunya lagi, pinggiran Banda Aceh, kawasan Tibang.
Tahun depan, Kemenpera akan mendapat anggaran yang cukup besar untuk mendukung pelaksanaan program perumahan bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 266/KMK.02/2013 pagu anggaran Kemenpera di 2014 ditetapkan menjadi Rp 4,565 Triliun. Keputusan tersebut merupakan salah satu hasil dari Rapat Kerja antara Komisi V DPR RI bersama Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Menteri Perhubungan, Menteri PDT, dan Wamen Pekerjaan Umum, pada Rabu (23/10/2013).
Rapat tersebut membahas pengesahan Pagu Anggaran Definitif untuk Program/Kegiatan Kementerian/Lembaga Mitra Kerja Komisi V DPR RI dalam RAPBN Tahun Anggaran 2014. “Adapun program kegiatan yang dilaksanakan, antara lain program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis Kemenpera, program pengembangan perumahan dan kawasan permukiman, serta program pengembangan pembiayaan perumahan dan kawasan permukiman,” urainya.
Namun, untuk mendapatkan rumah subsidi, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, seperti gaji pokok maksimal Rp 3,5 juta, belum memiliki rumah dan harus dihuni lima tahun sebelum dijual kembali. Hal tersebut tidak berbeda jauh dengan membeli mobil murah yang dibandrol, juga dibawah Rp 100 juta/unit, khususnya yang mencicil.
Untuk rumah murah bisa dicicil sampai 10 tahun dengan cicilan tetap, begitu juga mobil murah, tetapi maksimal sampai 6 tahun, seperti Daihatsu Ayla. Pada fase ini, penentuan bank pemberi kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi harus juga dipahami, biasanya pengembang sudah menjalin kerjasama dengan baik sebelum membangun rumah murah, khususnya bank resmi penyalur KPR-FLPP.
Demikian juga dengan dealer mobil, yang biasanya sudah memiliki lembaga pembiayaan atau disebut leasing, seperti ACC Banda Aceh yang terletak di simpang Surabaya . Atau juga pihak perbankan yang sudah memiliki lembaga pembiayaan untuk mobil, seperti BCA dan sejumlah bank nasional lainnya.
Anda dapat memilih bank yang paling sesuai, baik bank konvensional maupun syariah. Dilihat dari nilai cicilan, kendati bank konvensional berbasis bunga dan bank syariah non-bunga-tak ada perbedaan signifikan. Uang muka atau down payment (DP) yang biasanya 10% dari harga rumah, terkadang menjadi kendala bagi konsumen. Untuk itu, carilah bank yang menawarkan promosi tanpa uang muka atau 0%.
Sementara itu, permintaan rumah murah di Aceh masih tinggi, seperti Apersi Aceh yang membangun rumah murah di kawasan Kuala Simpang, Aceh Timur, telah terpesan 50 unit. Demikian juga dengan di Suka Makmue, Nagan Raya, sebanyak 15 pemesan akan melakukan akad kredit pada awal November 2013. Apersi juga membuka kawasan baru, di Cot Nyang, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dengan pesanan telah mencapai 48 orang, walau lahan masih dalam tahap pembersihan yang akan dimulai pekan depan.(muh/*)