Gempa Aceh
Istri Gubernur Bantu Korban Gempa Tangse
Istri Gubernur dan Wagub Aceh, Ny Hj Niazah A Hamid dan Marlina Usman, Minggu (27/10) meninjau dan membantu korban gempa Tangse
SIGLI - Istri Gubernur dan Wagub Aceh, Ny Hj Niazah A Hamid dan Marlina Usman, Minggu (27/10) meninjau dan membantu korban gempa Tangse yang terjadi Selasa (22/10) lalu. Penyerahan bantuan itu berlangsung di Masjid Baitul Halim, Gampong Pulo Kawa, Tangse, Pidie. Gampong Pulo Kawa merupakan desa kedua terparah terkena dampak gempa, setelah Neubok Badeuek.
Niazah atau akrab disapa Umi itu, juga menyertakan sejumlah istri kepala instansi Pemerintah Aceh baik yang tergabung baik dari unsur PKK, Darmawanita, maupun kelompok pengajian Uswatun Nisaa’ yang dipimpinnya.
Bantuan yang disalurkan berupa selimut, handuk, daster, mukena masing-masing 350 lembar serta pampers dan softek masing-masing 50 pac. Bantuan lainnya terdiri atas 100 paket lauk-pauk, 200 kotak susu formula, sejumlah pakaian layak pakai, 240 ceret, 234 panci TL, 135 wajan goreng, 120 piring plastik, 234 sendok goreng, 1.416 sendok makan, 1.200 pisau Kiwi, 240 kain lap, 1.404 cangkir plastik, dan 234 buah sendok goreng kecil.
Dalam sambutannya, Niazah mengatakan, kedatangannya ke kawasan bencana ini sebagai silaturrahmi. “Ini bentuk kepedulian sesama muslim, perhatian Pemerintah Aceh kepada rakyatnya, sekaligus menyerahkan bantuan,” ujarnya.
Rombongan ibu-ibu PKK dan Darmawanita juga didampingi Kepala Biro Humas H Nurdin F Joes dan unsur BPBA Pemerintah Aceh. Setelah menyerahkan bantuan, Niazah dan Marlina juga meninjau rumah penduduk yang rusak akibat gempa. Akibat gempa 5.6 SR itu telah menyebabkan 1 orang meninggal bernama Abdul Rasyid 90 tahun, 2 luka berat, dan 3 luka ringan. Musibah itu juga berdampak pada 18 gampong di Tangse, dengan kerusakan berat-ringan 661 rumah/ruko (629 rumah, 32 ruko); 16 fasilitas pendidikan (8 SD, 1 TK, 2 MIN, 1 SMP, 1 MTsN, 1 SMA, 2 MAN); 4 fasilitas kesehatan (2 pustu, 2 poskedes); 20 fasilitas rumah ibadah (12 masjid, 8 meunasah); 10 fasilitas pemerintahan (7 kantor, 3 rumah dinas); 2 jembatan; dan, 1 fasilitas air bersih.
Sebanyak 661 KK atau 2.924 jiwa masyarakat kawasan Tangse kini sedang mencoba bangkit, seiring menunggu bantuan berbagai pihak agar dapat kembali hidup normal. Namun masyarakat korban tidak terkonsentrasi di titik pengungsi, karena dapat berlindung di rumah keluarga masing-masing. Tangse telah ditetapkan sebagai darurat gempa selama 14 hari, terhitung saat gempa 22 Oktober sampai dengan 2 November 2013.
Camat Tangse, Jafaruddin SSos juga melaporkan kondisi terkini dampak gempa di wilayahnya. Hingga kini masyarakat sudah mulai beraktivitas kendati dirundung musibah. “Ada yang ke sawah, jualan, dan menjadi penambang. Karena mata pencaharian mereka sebagian besar dari upah sehari kerja,” ujarnya.
Disebutkan, pusat gempa yang terjadi persis saat azan zuhur itu, berasal dari daerah Tangse, 16 Km sebelah barat Gampong Neubok Badeuk, Tangse atau 20 Km dari pusat kecamatan Tangse. Titik gempa berbatasan langsung dengan Aceh Besar.(aya)