Salam

Ada Ancaman Maut di Sekitar Tambang Emas

Penggalian batu emas secara tradisional dan tidak terkontrol di kawasan Gunong Ujeuen, Kabupaten Aceh Jaya kembali

Penggalian batu emas secara tradisional dan tidak terkontrol di kawasan Gunong Ujeuen, Kabupaten Aceh Jaya kembali menelan korban jiwa. Sebelumnya, ada belasan korban juga meninggal dunia secara tragis di dalam lubang-lubang yang mereka gali sendiri untuk mendapatkan batu emas. Selain meninggal, sebagai di antara penambang liar yang sebagain berasal luar Aceh Jaya itu kini menderita malaria dan penyakit menular lainnya. Yang mencemaskan, hingga kini pemerintah kabupaten maupun provinsi belum punya langkah-langkah yang tepat untuk menertibkan dan membina para penambang emas secara tradisional itu.

Hal lain yang sangat menakutkan dari aktivitas penggalian batu emas yang sudah berlangsung lebih dari lima tahun itu adalah pencemaran lingkungan. Sebagaimana pernah berkali-kali diungkapkan harian ini  bahwa penggunaan merkuri dalam proses mendapatkan logam mulia itu telah membuat tanah dan air di sana tercemar.

Lahan pertanian dan air sumur warga sudah tercemar merkuri. Bahkan masyarakat mulai takut makan kerang dan tiram dari sungai-sungai di sana yang diduga telah tercemar zat kimia berbahaya.

Penambangan emas di Gunong Ujeuen memang sudah banyak menggores cerita duka. Paling akhir adalah tewasnya Rusliana alias Razali (56) pada Rabu (30/10) menjelang petang. Ia menghembus napas terakhir di dalam lubang galian yang diduga karena kekurangan oksigen. Mayat warga Desa Suak Seumaseh, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, itu ditemukan terkulai dalam lubang berkedalaman hampir 30 meter. “Kematiannya murni karena kecelakaan kerja. Ia dilaporkan kehabisan oksigen saat masuk ke lubang penambangan emas tradisional,” kata Kapolres Aceh Jaya, AKBP Abdul Azas Siagian.

Berbagai kalangan, terutama pers dan LSM sudah berkali-kali mengingatkan pemerintah agar membina serta menertibkan para penambang emas. Selain untuk menjaga keselamatan dirinya juga untuk mencegah pencemaran lingkungan yang lebih parah akibat penggunaan merkuri oleh para penambang emas itu.

“Warning” seperti ini kita sampaikan bukan saja kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, tapi juga untuk Pemkab Pidie dan Kabupaten Aceh Selatan yang ada aktivitas penambangan emas secara tradisional dan tak terkontrol. Di Pidie aktivitas penambangan emas secara tradisional dan berisiko “maut” itu ada di Kecamatan Geumpang. Sedangkan di Kabupaten Aceh Selatan terdapat lokasi penambangan emas di Sawang dan Manggamat.

Tentang risiko dari penggunaan merkuri itu memang terpaksa kita ingatkan berulang-ulang. Sebab, pencemaran lingkungan oleh racun merkuri itu bukan saja kita yang menanggung risikonya, tapi menjadi bencana yang akan kita wariskan ke anak cucu kita nanti. Menurut para ilmuan, racun merkuri akan sangat lama masa aktifnya.

Makanya, Bapedalda Aceh harus secara aktif memeriksa tingkat pencemaran lingkungan, terutama ari tanah dan sungai, oleh racun merkuri. Dan, hasil dari penelitian itu hendaknya secara reguler dipublikasikan hingga masyarakat dapat bersikap hati-hati.

Dan, Pemerintah Provinsi Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota yang terdapat aktivitas penggalian emas secara liar yang diiringi penggunaan merkuri, sudah harus bertindak cepat dan tepat. Sukap itu diperlukan demi dua hal. Pertama untuk mencegah jatunya korban lebih banyak di dalam lubang-lubang “amut” yang mereka gali atau karena serangan penyakit menular. Kedua, untuk mencegah melausnya kawasan pencemaran oleh merkuri yang digunakan dalam aktivitas penggalian logam mulia itu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved