Serambi Kuliner

ini Dia, Mi Kocok Abdya

ACEH Barat Daya yang disingkat dengan Abdya, dihuni 130 ribu jiwa lebih tersebar dalam sembilan kecamatan

Editor: bakri

ACEH Barat Daya yang disingkat dengan Abdya, dihuni 130 ribu jiwa lebih tersebar dalam sembilan kecamatan. Di kabupaten beribukota Blangpidie, itu juga banyak ditemukan warung menyediakan baragam makanan dan minuman ringan. Salah satu yang ngetrend saat ini ialah mi kocok yang memiliki cita rasa tersendiri. Hampir saban hari, para penjual mi kocok khas Abdya ini “diserbu” kalangan muda dan tua. Kelezatan dari mi ini, menyajikan kenikmatan tiada tara. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Zainun Yusuf menyajikan tulisan tentang mi kocok ala Abdya yang sangat terkenal.

MI berwarna kuning dan putih dimasak menggunakan adonan berupa gayung dari aluminium bertangkai kayu. Lalu, dikocok-kocok selama beberapa detik dalam air mendidih sebelum dihidangkan. Setelah terjasi, menu dimaksud disebut mi kocok. Mi seperti itu memang mudah ditemukan di Provinsi Aceh, termasuk di daerah lain di Indonesia. Akan tetapi, mi kocok ala Abdya, menurut banyak kalangan, memiliki cita rasa berbeda dengan yang lain. Bicara mi kocok khas Abdya, tidak bisa lepas dari sosok almarhum Said Idrus.

Pada 1960, pria yang pernah merantau ke Negeri Cina itu membuka warung di deretan pertokoaan  kontruksi kayu di Jalan Selamat, Kota Blangpidie. Toko dimaksud diberi label “Warung Muslim”. Selain menyediakan minuman kopi, menu khas di warung itu disebut mi kuning dan mi putih yang dikenal dengan sebutan mi kocok.

Era 60-an, di Kota Blangpidie (saat itu masih wilayah Aceh Selatan), ada tiga warung menyediakan mi kocok: Warung Muslim, Warung Sayangan dan Warung Japaris. Dua lainnya milik warga Tionghoa. Warung Muslim milik Said Idrus terus berkembang. Bahkan, membuka cabang di Losmen Muslim, Jalan At-Taqwa, Blangpidie.

Kemudian, warung tersebut dikelola oleh salah seorang putranya, Said Tantawi. Mi kocok Warung Muslim di lantai dasar Losmen Muslim, masih bertahan hingga saat ini. Kini, gerai dimaksud dikelola Said Muswir (putra Said Tantawi atau cucu dari almarhum Said Idrus). Meski kondisi warung tampak sederhana, langganannya lumayan banyak. Sejak pagi hingga malam, ada saja penikmat mi kocok singgah di sana.

“Sebagian besar langganan memesan mi kocok campuran mi putih dan mi kuning. Kemudian diberi kuah sop ayam,” ungkap Said Muswir kepada Serambi, Kamis pekan lalu. Selain itu, banyak juga yang lebih berselera menikmati campuran  mi kuning kocok dan mi putih kocok. Para penikmat mi kocok Abdya bukan sebatas warga di sana. Namun, banyak warga luar berkunjung ke “Kota Dagang” tersebut. Warga Abdya yang sudah merantau ke Banda Aceh, Medan, dan Jakarta, tetap berkesempatan menikmati  mi kocok saat pulang kampung.

Apalagi sekarang ini, banyak warung yang menyediakan menu khas mi kocok. Di Blangpidie, terdapat sejumlah warung yang menyediakan mi kocok. Tiga warung berada di Jalan Persada, Jalan Perdagangan, dan Jalan Pasar Lama. Selebihnya berada di Jalan H Ilyas, Jalan At-Taqwa, Jalan Pendidikan, warung di jalan raya Alue Sungai Pinang, Kecamatan Jeumpa, warung jalan raya di Geulanggang Gajah, Kecamatan Kuala Batee, serta Warung Zidan di kepala jembatan Krueng Beukah, Seunaloh, Blangpidie.

Satu piring mi putih kocok dan mi kuning kocok, dihargai berkisar Rp 8 ribu Rp 10 ribu per piring. Para pengusaha warungyang menjual mi kocok di  Kecamatan Jeumpa dan Kuala Batee, merupakan anak, keponakan, dan cucu-cucu dari almarhum Said Idrus. Sang kakek mendapatkan ilmu pembuatan mi langsung dari negeri Cina. Kemudian, ilmu tersebut terwarisi secara turun terumun.

Warga Abdya di perantauan memang tidak bisa melupakan aroma khas mi kocok produk kampung halaman. Terutama mi putih yang khas itu. Berada jauh dirantau, tidak menjadi halangan untuk menikmati mi kocok. Sebab, dapat dipesan melalui anggota keluarga di kampung halaman di  Blangpidie. Said Muswir mengaku, banyak menerima pesanan mi kocok seperti itu. Caranya, mi kocok kuning dan putih yang belum dimasak, dibungkus terpisah dengan kuah sop ayam serta bumbunya.

Kemudian dikirim oleh anggota keluarga ke Banda Aceh, Medan, malah ada ke Jakata. “Tiba di sana, mi dimasak dengan air panas dan kuah sop ayam dihangat kembali. Lalu diberi bumbu dan siap dihidang,” ungkapnya. Nah... penasaran mau menikmati mi kocok ala Abdya, silakan minta dikirimkan pada sanak saudara dan kerabat di sana.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved