Serambi Property

Target Rumah Murah 2014 Turun

Target pembangunan rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) turun dari 100.000 menjadi 75.000 unit pada 2014

Editor: bakri

* Pengembang Tunggu Harga Naik

JAKARTA - Target pembangunan rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) turun dari 100.000 menjadi 75.000 unit pada 2014. Penurunan itu tidak terlepas dari sikap pengembang yang menunggu keputusan kenaikan harga rumah dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSII, Endang Kawijaya, seusai pembukaan Musyawarah Nasional Khusus (Munasus) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APERSI di Jakarta, kamis (14/11/2013).

“Ya kami menargetkan 75.000 unit tahun depan dan tahun ini juga belum mencapai target,” ujar Endang. Sebelumnya, APERSI menargetkan 100.000 unit rumah terbangun tahun ini, tetapi realisasi pembangunan sekitar 60 persen dan  masih terdapat defisit 40.000 unit rumah yang harus dibangun.

Sedangkan Ketua Umum APERSI, Anton R Santoso menyatakan belum terealisasinya target pembangunan rumah subsidi tahun ini bukan semata karena masalah produktivitas, melainkan banyak pengembang yang melakukan aksi tahan stok. “Mereka melakukan aksi tahan stok karena menunggu kenaikan harga,” ujarnya.

Hal ini dilakukan oleh para pengembang menyusul kajian Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) atas penetapan kenaikan harga rumah baru. Ada pun stok rumah yang ditahan pengembang anggota APERSI sebanyak 1.000 unit.

Anton juga mengusulkan kepada Kemenpera untuk segera mengubah mekanisme besaran uang muka pembelian rumah. Besaran uang muka disesuaikan dengan ukuran atau tipe rumah yang akan dibeli konsumen. Misalnya, tipe 36, uang mukanya senilai Rp 10 juta, tipe 30 Rp 8 juta, dan tipe 22 sebesar Rp 6 juta.

Perubahan mekanisme besaran uang muka ini dinilai penting, sebab dengan mekanisme lama, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) kesulitan membayar uang muka. Sebab, besaran uang muka mengikuti harga rumah dan jika harga naik, maka uang muka ikut terkerek naik.

Usulan ini sudah diajukan ke BTN, namun masih perlu mendapat persetujuan Kemenpera. Sejauh ini, sudah ada gesture menarik dari BTN berupa uang muka lima persen bagi pembelian rumah hingga Desember 2013.

Tiga usulan lainnya adalah adalah kejelasan status Jamsostek, pemecahan akta tanah, dan perpajakan. “Keempat hal tersebut bersifat mendesak untuk segera diterbitkan aturannya karena menyangkut kepentingan masyarakat luas,” ujar Anton.

Sementara itu, APERSI Aceh baru memulai pembangunan rumah murah bersubsidi pemerintah pada tahun ini, dengan lokasi pertama di pesisir barat Aceh, Suka Makmue, Nagan Raya. Kemudian melebar ke pesisir timur, perbatasan dengan Sumut di Kuala Simpang, Aceh Tamiang dan Aceh Besar, dengan terget ratusan unit, tetapi yang baru rampung terbangun puluhan unit.

Ketua Apersi Aceh, Afwal Winardi, Sabtu (16/11) menyatakan proses pencairan kredit 15 rumah murah bersubsidi di Suka Makmue pada pekan depan. Dia berharap, bank pelaksana segera mencairkan dana tersebut, karena akan digunakan kembali untuk pembangunan rumah lainnya.(dtf/muh)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved