Serambi Healthy
Ayo, Cegah Ketulian Anak
Gangguan pendengaran tidak jarang terjadi pada anak-anak. Sekitar enam dari setiap seribu anak-anak memiliki beberapa
Gangguan pendengaran tidak jarang terjadi pada anak-anak. Sekitar enam dari setiap seribu anak-anak memiliki beberapa jenis gangguan pendengaran unilateral atau bilateral. Gangguan pendengaran dapat dialami oleh anak sewaktu bayi, baik gangguan pendengaran telinga luar, telinga tengah, maupun telinga dalam. Seringkali pada saat bayi gangguan pendengaran tidak tampak, karena anak belum bisa berkomunikasi. Gangguan pendengaran pada anak perlu dideteksi seawal mungkin mengingat pentingnya peranan fungsi pendengaran dalam proses perkembangan bicara. “Kalau sudah tuli, itu permanen, tidak bisa diobati, tak ada obat yang bisa menyembuhkan,” kata Dr Damayanti Soetjipto, Sp. THT-KL (K) saat mempresentasikan makalah berjudul “Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian di Indonesia” dalam Simposyum dan Workshop ENT Emergency Management di Gedung Sultan II Selim, Banda Aceh, Sabtu (21/12).
Damayanti merupakan Ketua Komnas Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian. Dia kerap berkunjung ke sekolah-sekolah seperti SMK untuk memantau tingkat kebisingan yang berpotensi mengganggu kesehatan telinga. Dia juga berharap pemerintah agar tempat-tempat permainan anak dibuat regulasi sehingga punya standar tingkat kebisingan dan tidak mengganggu pendengaran anak-anak. “Anak anak SMK yang keseringan pelatihan dengan mesin-mesin sampai 100 desibel, itu berpotensi tuli dalam waktu 5-10 tahun,” kata dia.
Identifikasi gangguan pendengaran pada anak secara awal dengan cara pengamatan reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi pendengaran dengan metode dan peralatan yang sederhana. Dikatakan, jika anak berumur 1 sampai dengan 3 bulan tidak bereaksi terhadap suara keras, maka orang tua harus waspada terhadap kejadian itu. Karena pada saat usia tersebut, seorang bayi normal akan bereaksi terhadap suara bahkan akan terbangun dari tidurnya apabila terdengar suara keras. “Apabila bayi tidak bereaksi terhadap suara tersebut, bisa jadi mengalami gangguan pendengaran,” kata Prof. Dr. dr. Jenny Bashirudin Sp.THT-KL (K), yang juga menjadi pemateri dalam acara tersebut.
Guru Besar dari FKUI itu juga mengatakan bahwa apabila orang tua tidak mencermati beberapa faktor yang menyebabkan gangguan pendengaran, maka akan berakibat fatal bagi jabang bayi. Seorang jabang bayi yang mengalami gangguan pendengaran atau ketulian, bisa berakibat tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Jika seorang bayi tidak bisa berkomunikasi dengan baik, maka sang bayi tersebut akan terhambat perkembangan intelektualitasnya. Ini menjadi sebuah pertanda lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak berkualitas.
Seminar tersebut merupakan kerja sama SMF/Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin. “Kita membuat Symposium dan Workshop Ear Nose Throat Emergency Management ini karena sangat penting bagi masyarakat Aceh dan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan ini,” kata dr Fadhlia, M.Ked (ORL-HNS) Sp.THT-KL, yang juga ketua panitia pelaksana kegiatan. Selain seminar, juga digelar kegiatan bakti sosial berupa operasi di Instalasi Bedah Sentral RSUZA, kemarin. (sak)