Menatap Aceh
Pesona Gle Raja
MENJULANG tinggi ke angkasa di antara pegunungan. Gunung ini pantas diberi nama Gle Raja, karena terbilang besar
MENJULANG tinggi ke angkasa di antara pegunungan. Gunung ini pantas diberi nama Gle Raja, karena terbilang besar dan ibarat seorang raja yang dikelilingi oleh para prajuritnya. Gle Raja berdiri kokoh di atas ketinggian 1658 mdpl dengan pesona alam berbeda dibanding gunung-gunung di Aceh lainnya. Dari nama yang melekat padanya, Gle Raja memiliki arti sebagai Gunung Raja menjulang di antara pesisir Krueng Raya, Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Lhong, Aceh Besar dan Lamno, Aceh Jaya. Gunung ini merupakan kawasan karst yang banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah juga menjadi pemasok ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya.
Bagi para pecinta alam, menjejakkan kaki ke puncak gunung ini adalah sebuah tantangan dan kenikmatan tiada tara. Adalah Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (METALIK) Fakultas Ekonomi Unsyiah untuk kesekian kalinya menggelar ekspedisi menjelajahi medan menantang yang disajikan Gle Raja menuju ke puncaknya. Beranggotakan sembilan personel, tim ekspedisi berhasil tiba dipuncak Gle Raja pada hari Ke-9 yang berada pada koordinat N05°22’30,8" E095°19’56,4" dengan ketinggian 1658 mdpl.
Tim ekspedisi memulai pendakian dari pintu rimba desa terakhir Lam Ara Tunong, Kecamatan Kuta Malaka, Aceh Besar. Ekspedisi berlangsung selama sembilan hari dimulai 26 Oktober sampai 3 November 2013.
Tim ekspedisi melalui berbagai medan dari hutan basah tropis, hutan berlumut, hutan perdu, hingga kawasan bebatuan cadas (karst) dengan kategori bebatuan silet (razor stone). Jalur yang ditempuh dalam ekspedisi kali ini cukup sulit selain melewati celah-celah bebatuan cadas, tim juga harus melewati celah-celah sumur (mulut gua vertikal) serta memanjati tebing cadas (karst).
Tim menemukan pilar trianggulasi (penanda puncak gunung) kolonial Belanda berseri T.3330 di atas batu dalam keadaan utuh. Adapun hasil pengamatan tim, pilar tersebut dibuat Belanda pada tahun 1938 yang dikomandoi oleh ENDO Marsose yang berasal dari Medan. Data tersebut diperoleh tim dari badan pilar.
Gle Raja memiliki pilar trianggulasi yang paling telat dibuat oleh Belanda. Menurut data pilar trianggulasi kolonial Belanda di pegunungan Aceh yang telah dihimpun dibuat antara tahun 1931 sampai dengan 1933. (*)
TEKS: DIDIK ARDIANSYAH
FOTO: METALIK FAKULTAS EKONOMI UNSYIAH