Warga Turunan Gelar Resepsi Perkawinan dalam Adat Aceh
“DI MANA bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Penggalan pepatah lama ini tampaknya cocok untuk mengapresiasikan sikap
“DI MANA bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Penggalan pepatah lama ini tampaknya cocok untuk mengapresiasikan sikap yang ditunjukkan Atek (50), seorang warga turunan Tionghoa di Langsa, yang Kamis (19/12) lalu menggelar pesta perkawinan anaknya dengan adat Aceh.
Atek yang sudah sejak puluhan tahun menetap di Langsa, menggelar resepsi perkawinan anak lelakinya, Eko Priandi Angkasa dengan Silvia dari Medan, Sumatera Utara, dalam balutan pakaian adat dan pelaminan Aceh. Sekitar 1.500 undangan pun disebarkan.
Para tamu yang hadir, selain warga Tionghoa, tampak banyak pula warga Kota Langsa yang sudah menjadi teman bergaul Atek saban hari. Bahkan, Wali Kota Langsa, Usman Abdullah SE, juga tampak menghadiri resepsi tersebut. Atek sendiri sehari-hari bekerja sebagai pedagang emas di Kota Langsa.
Eko Priandi Angkasa dan istrinya Silvia tampak duduk di atas pelaminan bagai raja dan permaisuri Aceh. Resepsi dalam budaya lokal itu menjadi yang pertama sekali di Kota Langsa. “Ide ini dari saya juga, dan saya tanyakan ke keuchik dan orang tua, mereka bilang nggak apa-apa, makanya saya beranikan diri,” kata Atek.
Karena adanya persetujuan dari aparatur gampong, lantas Atek mengomunikasikan keinginannya itu dengan anaknya, Eko. “Saya komunikasikan juga dengan Eko juga. Bahkan, Eko juga konsultasi ke calon istrinya, dan mereka semua setuju,” kata Atek bersemangat.
Karena tidak ada kendala dari keluarga pengantin wanita, Atek lantas segera menyiapkan busana dan segala kebutuhan pelaminan dalam adat Aceh. “Saya kira sebagai orang tua, ini menjadi hal yang bermanfaat, terutama dengan teman-teman saya semua di sini,” tambahnya.
Keinginan mengadakan resepsi perkawinan ala Aceh, sudah sekian lama terpatri di hati Atek. Saat Eko anaknya inilah, Atek bisa menumpahkan hajatannya itu saat ini. “Saya bangga bisa melakukan yang terbaik untuk keluarga, teman-teman dan masyarakat saya,” kata Atek.
Sementara itu, Wali Kota Langsa, Usman Abdullah kepada Serambi mengatakan, ia sangat mengapresiasikan sikap toleransi masyarakat Tionghoa di Kota Langsa yang sangat menghargai adat istiadat Aceh. “Ini menjadi bukti kedekatan kita dan penghargaan yang luar biasa dari warga turunan di Langsa,” kata pria yang kerap disapa Toke Seuem ini.
Ia menambahkan, sikap toleransi dan kebersamaan masyarakat sudah terajut sejak lama. “Dan pernikahan ini menjadi salah satu bukti nyata itu. Selaku orang Aceh, saya bangga melihat ini,” tegas Toke Seuem.
Sementara itu, Keuchik Peukan Langsa, Syarifuddin Z Kami dari perangkat Gampong Peukan sangat menyambut baik, prosesi acara pernikahan menggunakan pelaminan dan pakaian adat Aceh. “Ini sebagai bukti bahwa Kota Langsa dengan warganya yang majemuk bisa hidup rukun berdampingan,” katanya.
Kisah perkawinan Eko Priandi Angkasa dan Silvia itu menjadi tonggak baru sikap toleransi dalam upaya merajut hubungan yang lebih dalam antara masyarakat Aceh dengan warga turunan Tiongha di Kota Langsa. (yusmadi yusuf)