Serambi Kuliner

Tradisi Si Manis dari Aceh

KUE bhoi bukan hanya sebagai cemilan atau makanan kecil. Penganan ini juga memiliki tradisi sendiri

Editor: hasyim

KUE bhoi bukan hanya sebagai cemilan atau makanan kecil. Penganan ini juga memiliki tradisi sendiri.

Biasanya, kue bhoi dibawa ketika mengunjungi sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan serta pesta. Seperti halnya sunatan dan kelahiran. Kue Bhoi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria, untuk calon pengantin perempuan saat acara pernikahan.

Selain itu, bhoi khas Aceh juga biasanya disertakan dalam acara seserahan alias ba ranub sebelum menginjak pada acara pernikahan adat Aceh. Pada upacara adat perkawinan Aceh, ada beberapa tahapan. Pertama, ba ranup yang telah mentradisi secara turun temurun. Kebiasaan ini dimaksudkan untuk untuk mencari jodoh bagi anak laki-laki yang sudah dianggap dewasa.

Pihak keluarga juga akan mengirim seseorang yang dirasa bijak dalam berbicara atau seulangke untuk mengurusi perjodohan ini. Nah... saat seulangke bertandang ke rumah calon dara baroe (pengantin perempuan-red), kue bhoi kerap dibawa.

Seusai itu, disepakati tahapan pertunangan, yang dalam bahasa Aceh disebut jakba tanda. Bila lamaran diterima, keluarga pria kembali datang ke rumah sicalon pengantin wanita, untuk melakukan peukeong haba, yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan. Termasuk menetapkan berapa besar uang mahar yang diterima (disebut jeunamee) yang diminta, dan berapa banyak tamu yang akan diundang.

Biasanya, pada upacara pertunangan ini, pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita, perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria, termasuk kue bhoi.

Tahap berikutnya yakni resepsi perkawinan setelah melangsungkan pernikahan antara sang calon pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan. Ini merupakan tradisi atau kebiasaan yang tidak pernah hilang di dalam kultur budaya Aceh.

Pada resepsi ini, juga terbagi dua tradisi. Pertama tueng dara baroe atau penjemputan secara hukum adat atau dalam tradisi Aceh. Saat tueng dara moroe ini, kue bhoi juga ikut serta dalam seserahan keluarga pria pada wanita.

Berikutnya yakni tradisi tueng linto baroe yang dilakukan oleh pihak perempuan untuk menjemput secara hukum adat atau dalam tradisi Aceh. Kali ini, keluarga mempelai wanita membalas seserahan bentuk makanan, yang juga memberikan kue bhoi kepada mempelai pria.

Dari jalinan tradisi tersebut, dapat dipastikan, kue bhoi sering ditemui di setiap acara tradisi. Karena itu, kudapan yang satu ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Aceh.(*)

RESEP

Bahan:
- 250 Gram tepung terigu
- 250 Gram gula pasir
- 5 Butir telur ayam
- 2 Bungkus vanili
- ¼ Sendok soda

Alat
- Mixer (pengocok telur)
- Baskom ukuran sedang
- Kompor 22 sumbu
- Oven
- Cetakan (bolu kecil)
- Baskom kecil
- Sendok makan

Cara membuat:
- Masukkan telur dan tambahkan gula pada baskom atau wadah lain.
- Kocok sampai mengembang.
- Masukkan vanili dan soda.
- Kocok lagi sampai menyatu.
- Masukkan tepung terigu sambil aduk hingga rata.
- Masukkan adonan ke dalam cetakan.
- Panggang sampai matang.
- Bhoi siap dinikmati.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved