Serambi Kuliner
Meuseukat, Pemulia Pelawat Berkasta Tinggi
PEUMULIA jamee adat geutanyoe. Begitulah adagium masyarakat Aceh untuk memuliakan tamu. Pepatah yang berarti
RAMAH dan bersahabat melekat pada diri masyarakat Aceh. Tradisi ini telah dipraktikkan sejak dahulu kala. Sikap tersebut merupakan wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, dan hukum masyarakat Serambi Mekkah. Perilaku itu tercermin dari cara masyarakat Aceh menyambut tamu. Lazimnya, masyarakat di Bumi Iskandar Muda ini memuliakan tamu-tamunya. Kemuliaan itu bukan hanya dari sikap, tetapi juga dicerminkan dalam bentuk lain. Salah satunya dengan kuliner. Masyarakat Aceh memiliki kuliner khas diperuntukkan menyambut tamu yang diagungkan. Seperti halnya meuseukat. Makanan jenis ini hanya dihadirkan pada acara-acara tertentu. Biasanya pada hajatan atau hari besar saat pemilik rumah menerima tamu. Rasanya manis dan warnanya putih mempunyai filosofi yang dikaitkan dengan memuliakan tamu. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Azwani Awi mengisahkan tentang kelezatan meuseukat ini.
PEUMULIA jamee adat geutanyoe. Begitulah adagium masyarakat Aceh untuk memuliakan tamu. Pepatah yang berarti “Memuliakan tetamu adalah kelaziman kita” tersebut sekaligus mencirikan masyarakat di provinsi paling barat di Indonesia ini sangat memuliakan siapapun yang berkunjung ke Aceh.
Cara masyarakat Aceh memuliakan tamu bukan hanya melalui perilaku. Namun juga dicirikan melalui kuliner tradisional. Salah satunya penganan khas Aceh yang dimaksudkan sebagai pertanda memuliakan tamu adalah meuseukat.
Kudapan ini merupakan makanan khas Aceh yang dibuat dari tepung terigu dan campuran buah nanas. Secara fisik mirip seperti dodol. Teksturnya lunak dan rasa cukup manis. Sebagian orang menyebutnya dodol nanas khas Aceh. Paduan komposisi unik ini menghasilkan cita rasa yang khas.
Rasa manis makanan ini berasal dari gula yang digunakan sebagai bahan baku utama. Tapi, tak melulu manis yang terasa di lidah. Bila dicicipi dengan seksama, terasa sedikit asam pada meuseukat. Rasa asam ini dihasilkan dari pati buah nanas yang ditambahkan ke dalam adonan. Cita rasa yang khasserta rasanya lezat membuat penganan ini sangat digemari masyarakat Aceh.
Membuat meuseukat sama saja seperti membuat dodol. Hanya saja, proses pembuatan meuseukat membutuhkan waktu lama dan ketelatenan. Ketika membuat adonan, sebelum ditambahkan gula, tepung terlebih dahulu dimasak dengan air putih, air jeruk, dan nanas. Jeruk dan nanas sebaiknya disaring menghindari adanya serat dalam adonan kue. Kemudian tambahkan mentega dan tepung dalam air gula dengan perbandingan satu banding lima. Usai itu, diaduk menggunakan sendok kayu dengan api kecil hingga adonan matang.
Selanjutnya, meuseukat dimasukkan ke wadah rata dan diberi alas plastik. Fungsinya untuk mencegah meuseukat tidak lengket dan mudah ketika dipotong.
Penganan ini terbilang unik karena tidak menggunakan santan, seperti umumnya kue khas Aceh. Di dalam adonan kue ini juga dimasukkan mentega. Tujuannya, agar kudapan dimaksud tetap legit dan tidak lengket. Selain itu, untuk memudahkan proses packaging agar memudahkan dibawa ke tempat seserahan atau dijadikan buah tangan.
Setelah seluruh bahan menyatu, akan terlihat permukaan meuseukat berwarna putih. Warna dimaksud mengikuti corak bahan baku tepung terigu dan gula, tanpa menggunakan pewarna makanan. Warna ini juga bisa ditafsirkan sebagai kejernihan hati masyarakat Aceh menyambut tamu. Karena itu, meuseukat hanya terdapat pada hari-hari tertentu, sebagai pertanda masyarakat Aceh tetap membuka pintu menyambut pelawat dengan hati ikhlas dan jernih.
Karena keistimewaannya, penganan ini sangat jarang ditemukan di pasar-pasar dan toko bakery. Pada hari biasa, juga tak pernah dijumpai tuan tumah menghidangkan meuseukat pada tamunya. Begitu juga di gerai kopi. Kecuali, di toko khusus yang menjual aneka makanan tradisional Aceh.
Biasanya, masyarakat Aceh menyediakan meuseukat pada acara perkawinan di rumah mempelai pria atau wanita. Penyuguhan penganan ini untuk memuliakan tamu baru yang akan menjadi anggota keluarga dari pihak linto dan dara baroe. Selain itu, juga sebagai hantaran pengantin.
Tak hanya itu, biasanya meuseukat juga tersedia hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, untuk menyambut keluarga dan handai taulan bersilaturrahmi. Andai ingin mencicipi meuseukat pada hari biasa, para penikmat harus memesan terlebih dahulu.
Kini, meuseukat tak hanya untuk memuliakan tamu Aceh. Akan tetapi telah populer juga di kalangan wisatawan. Para pelancong memburu kue tersebut untuk dijadikan oleh-oleh khas dari Aceh. Beberapa sentra kue tradisional Aceh, seperti kawasan Lampisang, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, atau beberapa supermarket gerai souvenir Aceh, sering didatangi wisatawan hanya untuk mendapatkan kuliner khas ini.
Rasanya yang dominan manis berasal dari sari gula, sari buah nanas dan jeruk ini, menawan lidah wisatawan untuk mencicipi. Apalagi setelah mengetahui kisah tentang keistimewaan meuseukat untuk memuliakan pelawat. Tak heran jika para wisatawan menyebut, kudapan lezat ini merupakan salah satu kue tradisional yang memiliki ‘kasta’ tinggi di kuliner Aceh.(*)
RESEP
BAHAN-BAHAN
Gula
Tepung terigu
Air putih
Jeruk
Nanas
CARA MEMBUAT
1. Jeruk dan nanas diperas.
2. Saring air jeruk dan air nanas hingga seratnya hilang.
3. Masak tepung dengan air putih, air jeruk, dan air nanas.
4. Masukkan mentega dalam adonan.
5. Aduk menggunakan sendok kayu dengan api kecil hingga adonan matang.
6. Meusekat siap dinikmati.
* Tepung dan mentega yang dimasukkan dalam air satu banding lima.