Breaking News:

Bocor Jantung

Bocor Jantung, Gadis Yatim Ini Bergetar Saat Lelah

HARI-hari Sri Maulita, kini tidak lagi seindah tiga tahun lalu.

Penulis: RA Karamullah | Editor: snajli
Bocor Jantung, Gadis Yatim Ini Bergetar Saat Lelah - 01022014_Maulita1.jpg
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN
SRI Maulita, duduk di pangkuan ibunya, Darma, ditemani sang adik Khairun Nisa, di rumah mereka, Gampong Daboh Reubee, Kecamatan Delima, Pidie, Jumat (31/01/2014). SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN

Laporan Zainal Arifin M Nur | Banda Aceh

HARI-hari Sri Maulita (14), kini tidak lagi seindah tiga tahun lalu. Meski terlahir dalam keluarga miskin, kala itu Maulita masih bisa menikmati masa-masa kanak- kanak, seperti anak-anak lainnya di Gampong Meunasah Daboh, Reubee, Kecamatan Delima, Pidie.

Namun, hari-hari bahagia Maulita mulai terenggut saat sang ayah tercinta, Mukhlis Ibrahim, menghadap Ilahi pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu. Sejak itu, Sri Maulita hidup bersama ibundanya Darma (32), abangnya Arismunandar (kini berusia 16 tahun dan berstatus siswa MAN Delima), serta adik perempuannya, Khairun Nisa Fitri (12).

Kehidupan keluarganya yang serba kesulitan, telah menempa Sri Maulita menjadi anak yang tabah dan sabar menghadapi cobaan. Ia bersama abangnya, terkadang juga adiknya yang kini duduk di kelas 6 MIN Reubee, ikut bekerja membantu sang ibunda sebagai pekerja upahan menggarap sawah.

Awalnya semua berjalan normal, seperti kehidupan kebanyakan warga miskin dan yatim di pedalaman Aceh. Hingga sejak tiga bulan terakhir, tepatnya pada November 2013, Darma melihat perubahan pada diri putrinya.

Sri Maulita yang biasanya ceria, sering terlihat murung dan kerap menyendiri. Ia juga tidak lagi mampu mengayuh sepeda untuk menuju sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Gampong Aree, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari rumahnya.

"Terkadang, saya menemukan Maulita menangis sendiri. Saat kelelahan waktu pulang sekolah, tubuhnya kerap bergetar dan suhu badannya panas," ungkap Darma, ketika ditemui Serambinews.com, di rumahnya, Gampong Daboh Reubee, Pidie, Jumat (1/1/2014).

Saat itu, kami duduk di bawah rumah Darma yang berbentuk rumah adat Aceh. Sebagian rumah berkontruksi kayu itu mulai lapuk dimakan usia. Sesekali, Sekretaris Desa Meunasah Daboh, Ibrahim, angkat bicara menjelaskan kondisi Maulita. Di situ juga ada Nurhayati, istri Ibrahim yang juga kakak dari Darma.

Nurhayati lah yang selalu menemani Darma setiap kali membawa Maulita ke puskesmas, dokter di Sigli, hingga ke RSUZA di Banda Aceh. Sebab itu pula, cerita tentang ihwal penyakit Maulita lebih banyak keluar dari mulut Nurhayati. Sementara Darma sibuk menyuapkan nasi ke mulut Maulita.

"Dalam kondisi tidak capek seperti saat ini juga jantungnya berdebar kencang," kata Nurhayati sambil memegang dada keponakannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved