Serambi Kuliner

Payeh, Bukan Sekadar Pepes

RUANGAN itu tampak sempit, 3x2 meter. Kompor, meja makan, kursi plastik, lemari satu pintu, dan tabung gas berlomba

Payeh, Bukan Sekadar Pepes

MASYARAKAT Aceh mengenal makanan ini dengan sebutan payeh. Kuliner khas tersebut merupakan suatu cara mengolah bahan makanan ikan dengan bantuan daun pisang untuk membungkus beserta bumbunya. Dengan campuran bumbu dan rempah dihaluskan dan dibungkus daun pisang, payeh mencitrakan diri sebagai menu yang berbeda dengan pepes. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Azwani Awi akan berbagi selera kelezatan payeh kepada pembaca

RUANGAN itu tampak sempit, 3x2 meter. Kompor, meja makan, kursi plastik, lemari satu pintu, dan tabung gas berlomba meneriakkan kata “pengap.” Meski demikian, benda-benda dimaksud tetap tertata rapi di sana. Baskom dan piring letaknya di meja makan, sendok terselip di tumpukan piring.

Di sudut ruangan berdempetan dengan meja makan, dua perempuan muda duduk berhadapan. Jika ada seorang lagi meletakkan kakinya ke lantai ruangaan itu, pasti akan menyesaki ruangan. Di dapur dimaksud, slogan berbunyi “dilarang masuk yang tidak berkepentingan” berlaku efektif.

Dua gadis dimaksud serius memindahkan ikan teri basah yang dikombinasikan dengan belimbing wuluh dan bumbu lain di dalam baskom ke daun yang telah dibentang di telapak tangannya. Kemudian melipat ujung-ujung daun tersebut hingga terbungkus rapi. lalu, menyusun di atas talam terpisah.

Usai itu, dimasak dengan cara dikukus. Hasilnya, tersajilah hidangan pelengkap yang istimewa. Namanya payeh. Masyarakat daerah lain mengiranya pepes. Namun, payeh berbeda dengan pepes. Rasanya yang gurih dan lezat membikin siapapun berkeinginan mencoba.

Makanan ini menjadi menu favorit hampir setiap keluarga keluarga di Aceh. Bahan dan bumbu yang digunakan juga sangat mudah ditemukan. Semua tersedia di pasar tradisional maupun supermarket. Tak hanya itu, cara memasak kuliner ini mudah dan bisa dipraktikkan oleh semua orang.

Mulanya, bawang merah, bawang putih, cabai rawit hijau, cabai merah, kunyit dan jahe yang dibakar, digiling halus hingga menjadi bumbu. Berikutnya, campurkan bahan baku utama seperti ikan atau udang dengan garam dan air jeruk nipis. Kemudian, masukkan daun kunyit, jeruk purut, daun salam koja, dan aduk hingga rata. Usai itu, bubuhkan gula pasir dan belimbing wuluh yang telah diiris tipis. Setelah proses tersebut selesai, bungkus dengan daun pisang seperti pepes dan bakar di atas api sedang hingga matang.

Setelah beberapa saat, payeh diangkat dan siap dinikmati. Bila belum sempat membuat sendiri, tetap bisa menikmati makanan ini. Masakan ini hampir bisa ditemui di berbagai daerah di Aceh. Sebagian besar rumah makan kerap menyajikan menu tersebut. Apalagi sekarang, banyak warung tenda yang menjual makanan siap saji ymenyediakan payeh.

“Masakan ini juga aman dan sehat dikonsumsi semua orang. Dari anak kecil sampai orang dewasa bisa menikmati kelezatannya,” ujar FiraRoswita, warga Blower, Banda Aceh.

Banyak bahan baku yang bisa divariasikan untuk membuat payeh. Sajian yang mirip dengan pepes ikan teri bernama payeh bileh. Sementara yang menggunakan bahan baku udang disebut payeh udeueng. Bila menggunakan ikan bloso dinamakan payeh eungkot deued. Meski bahan baku utamanya berbeda, semua varian ini tetap menggunakan belimbing sayur. Penambahan belimbing sayur dalam resep itu membuat rasa payeh terasa segar. Setelah dibakar sesaat, payeh pun siap disajikan.

Rasanya yang lezat dan bergizi, sangat menggugah selera. Tak heran bila makanan ini menjadi menu favorit hampir di setiap keluarga. Kekhasan rasanya, menjadikan payeh ini bukan sekadar pepes. Mau makan nasi secara lahap dan nikmat? Payeh padanannya…(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved