Serambi Kuliner

Melayani Konsumen Sampai Jakarta

SETELAH tamat Sekolah Dasar (SD), Zidan (34) sudah bekerja di warung mi kocok di Blangpidie. Di Warung Sabar, Jalan H Ilyas

Melayani Konsumen Sampai Jakarta

PADA Serambi Kuliner Edisi 9 November 2013 lalu, kita telah menelisik  sajian mi kocok ala Abdya yang sangat terkenal. Ketenarannya kini menjadi salah satu menu favorit kuliner di beberapa tempat di Aceh. Di Banda Aceh, terdapat beberapa gerai dan outlet yang menyajikan mi kocok Abdya. Ini menandakan, kuliner khas kabupaten yang dihuni 130 ribu jiwa lebih itu kian diminati. Ternyata, mi kocok yang memiliki cita rasa tersendiri itu tak hanya dikenal di ibukota Provinsi Aceh. Penjual mi kocok Abdya, hampir saban hari “diserbu” orderan dari Medan bahkan Jakarta. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Zainun Yusuf menyajikan penggalan kisah lain dari makanan yang menyajikan kelezatan tiada tara.

SETELAH tamat Sekolah Dasar (SD), Zidan (34) sudah bekerja di warung mi  kocok di Blangpidie. Di Warung Sabar, Jalan H Ilyas, dia bekerja sekitar delapan tahun. Dari pengalaman tersebut, kini Zidan bukan saja ahli meracik mi putih dan memasak sop ayam, Zidan juga sangat memahami bagaimana selera konsumen terhadap mi kocok.

Sekitar tiga tahun terakhir, Zidan bersama istrinya membuka usaha sendiri. Lokasi gerai yang dibukanya di kepala jembatan Krueng Beukah Seunaloh. “Alhamdulillah, mi kocok racikan kami sesuai dengan selera konsumen,” ungkapnya kepada Serambi.

Pengunjung Warung Zidan di tepi aliran Krueng Beukah itu terdiri dari kalangan pengusaha, Pegawai Negeri Sipil (PNS), karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), karyawan swasta, serta masyarakat umum.

Agar mi kocok bisa dinikmati semua kalangan, Zidan pintar memanjakan konsumennya. PNS yang tidak bisa keluar kantor karena terikat jam kerja, dilayani pesanan melalui handphone. Kemudian, mi kocok yang telah dibungkus didelivery langsung ke tempat tujuan.

Dia juga sering melayani pesanan dalam jumlah ratusan bungkus mi kocok yang diorder pihak pemerintah setempat untuk menjamu tamu. Pesanan juga dilayani sampai ke sekolah-sekolah di Blangpidie, malah sampai di Kecamatan Manggeng.

“Kalau pesanan dalam jumlah banyak, order satu hari sebelumnya. Karenaproses pembuatan mi putih dari tepung beras perlu waktu. Hari ini dibuat, baru dapat digunakan atau dimasak besok hari,” kata Zidan.

Bukan saja konsumen di Blangpidie, Zidan melayani pencinta rasa mi kocok yang berada di luar daerah, Banda Aceh, Medan, dan Jakarta. “Ada kala dipesan langsung melalui telepon, banyak juga dipesan melalui anggota keluarga di Abdya untuk dikirim mi kocok yang belum dimasak,” ungkap Zidan.

Untuk pesanan seperti itu, disediakan mi kocok yang belum dimasak, kemudian dipisahkan kuah dan bumbu-bumbunya. Usai itu, mi kocok dikirim mengunakan jasa angkutan umum. “Tiba di sana, baru dimasak,” katanya.

Satu hari, Warung Zidan bisa menghabiskan 30 kilogram mi putih dan 30 kilogram mi kuning. Satu kilogram mi, bisa dimasak sedikitnya 10 piring mi kocok.(*)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved