Balai Bahasa
Etika Bertamu dalam Sanggamara
Kita dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi sosial dengan orang-orang yang berada di sekitar kita
Nurhaida, Staf bidang Pengkaji Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Banda Aceh
Kita dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi sosial dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Hal ini termasuk ketika kita berkunjung ke rumah orang lain yang biasa disebut dengan bertamu. Ketika kita datang ke rumah orang lain, agar interaksi yang terjalin dengan tuan rumah berlangsung dengan baik tentunya ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan.
Masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang hidup dalam nuansa agama, adat dan budaya juga memiliki etika dalam bertamu. Salah satunya tertuang dalam buku Sanggamara. Buku ini ditulis tahun 1929 oleh Teukoe Mansoer yang berasal dari Leupueng, Aceh besar. Buku ini berisikan tuntunan sopan santun untuk memperhalus budi pekerti termasuk etika bertamu.
Ketika kita bertamu, sebaiknya kita memberikan salam setelah kita sampai di rumah yang kita tuju. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kita kepada tuan rumah. Hal tersebut dapat dapat dilihat dalam kutipan Sanggamara berikut ini.
Ureueng teuka puphon saleuem,
akan ureueng njang po tangga.
Terjemahan
Orang yang datang yang memulai mengucapkan salam, kepada orang yang memiliki tangga rumah (pemilik rumah). Etika bertamu ini juga berlaku ketika kita menghadiri suatu undangan dari tuan rumah. Setelah makan, kita hendaknya tidak banyak mengeluarkan komentar terutama yang berhubungan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kita hendaknya menghargai makanan yang dihidangkan. Meskipun makanan yang dihidangkan tidak sesuai dengan selera kita. kita hendaknya menahan ucapan agar tidak keluar kata-kata yang mencaci makanan yang sudah kita makan. Kita harus mengingat keadaan orang fakir miskin yang hidup dalam kekurangan sehingga kita bersyukur terhadap makanan yang sudah kita makan. Mereka juga hendaknya diberikan kesempatan untuk makan. Ini tampak dalam kutipan di bawah ini.
Lheueh pumadjoh bek le tjakri,
le that faqir dong dilua.
Terjemahan
Setelah makan jangan banyak berkomentar, banyak fakir berdiri di luar.
Ketika kita bertamu ke rumah orang lain kita juga hendaknya mengetahui batas waktu berkunjung. Apabila kita terlalu lama berada di rumah orang lain, kehadiran kita dapat menganggu jadwal aktivitas si pemilik rumah. Apalagi ketika waktu makan tiba, kehadiran kita dapat menganggu kenyamanan si pemilik rumah. Kita hendaknya segera meminta izin untuk pulang segera setelah urusan kita selesai agar tuan rumah tidak terganggu dengan kehadiran kita. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini.
Bak watee bu beutaingat, bek roh lambat geupreh gata.
Kadang na buet njang meukarat,
kadang kasad djak pok idja.
Nyang po rumoh meujak ublang,
Bek jeut rintang seubab gata.
Terjemahan
Waktu makan (tuan rumah) hendaknya kita ingat, jangan sampai lambat karena menunggu Anda.
Kadang ada pekerjaan yang mendesak, kadang hendak mencuci pakaian. Yang memiliki rumah hendak ke ladang, jangan sampai terhalangi karena Anda.
Kita juga harus mengingat batas waktu ketika kita menginap di rumah orang lain. Kehadiran kita yang terlalu lama dapat menyebabkan rasa tidak suka dari si pemilik rumah. Si pemilik rumah tidak mendapatkan keleluasaan di dalam rumahnya sendiri dengan adanya kehadiran kita yang terlalu lama. Kepedulian yang dimiliki tuan rumah terhadap kita sebagai tamu dapat hilang berganti rasa tidak suka ketika kita terlalu lama menginap di rumahnya. Hal tersebut digambarkan dalam kutipan berikut ini.
Dom rumoh gob beutaingat,
meunjo treb that han get rasa.
Keusukaran menjo lambat,
gadoh adab beuntji teuka.
Seubab gata gob meuikat,
peue njang hadjat ka meusangga.
Terjemahan
Menginap di rumah orang hendaknya kita ingat, Kalau terlalu lama timbul hal yang tidak menyenangkan.
Timbul kesukaran jika lama, hilang kesopanan berganti kebencian. Karena Anda orang terikat, yang hendak dilakukan menjadi tertunda.
Kita juga hendaknya tidak berusaha mengetahui keadaan kehidupan orang lain di dalam rumahnya. Ini dapat dilihat dalam kutipan di berikut ini.
Kaja gasien po rumoh njan, na deungon tan bek pareksa.
Terjemahan
Kaya miskin yang memiliki rumah itu,berada atau tidak berada jangan periksa. Demikianlah beberapa kutipan tuntunan dalam bertamu yang terdapat dalam buku Sanggamara. Etika bertamu merupakan salah satu hal yang harus kita perhatikan untuk menjalin interaksi sosial yang baik dengan orang lain dalam kehidupan ini.