Serambi Property

Rumah Murah Tetap Terjangkau

Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang ingin memiliki rumah murah layak huni di Aceh masih dalam kawasan terjangkau

Editor: bakri

* Masih Kawasan Perkotaan

BANDA ACEH - Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang ingin memiliki rumah murah layak huni di Aceh masih dalam kawasan terjangkau, bahkan harga juga masih mampu dijangkau, antara Rp 95 juta sampai Rp 115 juta/unit, tergantung lokasi. Bahkan, uang muka atau DP yang dibebankan ke calon pembeli bervariasi, antara 0 sampai 10 persen.

Para calon debitur juga tidak perlu khawatir, cicilan bulanan yang mendapat subsidi pemerintah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tidak mencapai satu jutaan rupiah per bulan dengan suku bunga tetap 7,25 % sepanjang jangka waktu kredit. Misalnya, rumah Rp 115 juta dengan uang muka 10%, maka angsuran sekitar Rp 962 ribu/bulan selama 15 tahun.

Namun, jika uang muka 0%, maka cicilan sekitar Rp 1 juta/bulan. Demikian juga perhitungan dengan rumah murah 0% berharga Rp 95 juta, cicilan sekitar Rp 890 ribu/bulan, dan Rp 105 juta/unit, cicilan Rp 980 ribu/bulan selama 15 tahun. Tetapi, jika ada uang muka, maka cicilan akan lebih ringan lagi.

Jika dibandingkan dengan KPR umum, maka cicilan akan lebih besar lagi, karena suku bunga di atas 10% per tahun. Sehingga, rumah murah masih disebut sangat terjangkau untuk dimiliki, dibandingkan rumah komersil yang di atas Rp 250 juta/unit dengan DP minimal 30 persen. Contohnya, satu unit rumah yang dibangun salah seorang anggota REI Aceh di Ie Masen Ulee Kareng, Banda Aceh dibandrol Rp 350 juta bertype 64 m2 dengan luas tanah hanya 114 m2.

Terlepas dari itu, rumah murah tetap menjadi primadona bagi warga Aceh, karena masih berada dalam seputaran kota, tidak seperti di Pulau Jawa, yang sudah berada di pedalaman.

Rumah murah yang mulai tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh tidak jauh dari pusat perkotaan, seperti wilayah timur dan barat Aceh, termasuk pinggiran Banda Aceh dan Aceh Besar. Berdasarkan catatan Serambi, harga rumah murah telah naik dari Rp 88 juta/unit menjadi Rp 95 sampai Rp 115 juta/unit sejak awal tahun ini.

Padahal, pemerintah belum memastikan rencana penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas rumah murah, karena Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sama-sama menunggu. Sebelumnya, Menteri PU meminta pembebasan PPN rumah murah karena berencana untuk menaikkan harga rumah dari Rp 88 juta menjadi Rp 105 juta per unit.

Tetapi, khusus Aceh, dengan material bangunan terus meroket, harga rumah murah dinaikkan oleh dua asosiasi perumahan resmi pemerintah,  RealEstat Indonesia (REI) dan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Aceh.

Ketua Apersi Aceh, Afwal Winardi ST MT, Sabtu (22/2) menyatakan harga rumah murah di Aceh telah mengalami kenaikan sejak awal tahun, dari Rp 88 juta menjadi Rp 95 juta sampai Rp 115 juta unit. Disebutkan, untuk rumah murah di Lamtrieng, Kecamatan Kutabaro, Aceh Besar yang berjarak sekitar 8 km dari Kota Banda Aceh dibandrol Rp 115 juta/unit dan akan dimulai dibangun pada pekan depan.

Sedangkan rumah murah di Nagan Raya telah naik dari Rp 88 juta jadi Rp 105 juta/unit. Tetapi, 36 calon pembeli pertama, 16 di antaranya akan akad kredit pekan depan di BTN Banda Aceh masih Rp 88 juta/unit. Dia menyebutkan, 80 pembeli lainnya dibandrol Rp 105 juta/unit.

Untuk rumah murah di Gunong Meueh, Aceh Barat dibandrol Rp 95 juta. Apersi yang menargetkan 1.700 unit rumah murah tahun ini juga membangun rumah murah di kawasan timur Aceh, seperti Tamiang, Lhokseumawe dan Idi. Untuk lahan baru, direncanakan di Leuhan, Johan Pahlawan, Aceh Barat sebanyak 80 unit.

Selain itu, Afwal juga mengajak para pengembang untuk bergabung dengan Apersi Aceh, agar dapat melakukan koordinasi dalam mendapat PSU dari pemerintah pusat. “Kami siap menerima anggota baru,” ujarnya.(muh)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved