Serambi Kuliner

Ada Sejak 1972

LINCAH mameh Kutablang merupakan minuman utama untuk berbuka puasa dan minuman pemuas dahaga di hari-hari biasa

LINCAH mameh Kutablang merupakan minuman utama untuk berbuka puasa dan minuman pemuas dahaga di hari-hari biasa. Penikmat lincah mameh itu pun sudah berganti masa. Rupanya, rujak manis Kutablang usaha keluarga Pak Guru itu sudah berusia 41 tahun. Dimulai sejak 1972.

Awalnya, usaha rujak manis dirajut secara kecil-kecilan. Cukup untuk beberapa pelanggan sekitaran Kutablang. Kini, penikmat lincah mameh itu sudah mendunia. Selain harganya murah-meriah, Rp 5.000 per gelas, rasa campuran buah seperti mangga, sawo, timun, jambu, nenas, dan lainnya yang diparut halus, cukup manis dan kental.

Untuk membuat rujak manis itu, dalam sehari Jafar bisa menghabiskan dua hingga empat karung buah-buahan. Sedangkan gula pasir putih satu sak atau 40-50 kilogram. Bahkan, hari-hari libur seperti Sabtu dan Minggu atau Lebaran bisa dua kali lipat. Bagi Pak Guru, tidak ada hari libur pada usahanya tersebut.

Karena peminat terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan saat bulan Ramadhan, permintaan melonjak hingga berkali-kali lipat. Hal itu ditandai dari banyaknya pembeli lokal dan luar atau pendatang, rela antre dari pukul empat sore hingga menjelang azan magrib.

Kendati banyak pedagang kaki lima lain memanfaatkan rujak manis Kutablang ini untuk diproduksi sendiri, pembeli sudah sangat mengenal keaslian lincah mameh Kutablang yang belum membuka cabang di tempat lain. Kecuali itu, bila ada acara resepsi perkawinan atau hajatan khusus, Pak Guru banyak juga mendapat order. Pelanggan yang memesan rujakmanisnya tersebut, tak punya segmen. Anak-anak, remaja, maupun orang tua, semua menggemari lincah mameh Kutablang.(*)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved