Balai Bahasa
Kesalahan dan Ketertiban Berbahasa
Berbahasa sebagai aktivitas manusia merupakan alat komunikasi utama dalam hidup bermasyaraka
Oleh Caswo, Guru SD Negeri 67 Percontohan, Banda Aceh
Berbahasa sebagai aktivitas manusia merupakan alat komunikasi utama dalam hidup bermasyarakat. Peranan bahasa merupakan hal yang penting, terbukti dengan laju perkembangan budaya dewasaini. Oleh karena itu, orang yang menyadari kedudukan dan fungsi bahasa akan selalu berusaha untuk memanfaatkan dan memelihara bahasanya dengan baik.
Ditinjau dari segi kebahasaan, bahasa tidak lain berupasekumpulan bunyi yang diucapkan manusia sesuai dengan sistem yang berlaku. Bunyibunyi tersebut berbentuk satuan-satuan makna. Dengan satuan-satuan itulah masyarakat berkomunikasi.
Dalam pengertian yang sama dikemukakan bahwa suatu bahasaadalah seperangkat prinsip yang berhubungan dengan makna-makna dengan angkaian fonetik (Supriadi, 1986: 1-2). Bahasa yang tidak memenuhi ketentuan berbahasa menunjukkan adanya gejala kesalahan berbahasa.
Hal itu tampak dalam bentuk penyimpangan atau kejanggalan dalam menggunakan bentuk suatu bahasa bila ditinjau dari segi sistem bahasa ataupun kebiasaan berbahasa yang berlaku secara umum dalam bahasa tersebut. Bila kesalahan berbahasa itu dapat diatasi melalui sistem bahasanya dan mempunyai dampak positif terhadap efektivitas bahasanya, yang pada ulanya dinyatakan sebagai penyimpangan bahasa, akan diterima sebagai hasanah sistem bahasa yang bersangkutan.
Usaha seperti itu tergolong ke dalam istilah analisis kesalahan berbahasa. Menurut Badudu (1993) kesalahan berbahasa merupakan penyimpangan yang bersifat sistematis, konsisten, dan menggambarkan kemampuan pada tahap tertentu.
Beberapa Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa terjadi pada tataran kata, yaitu berkaitan bentuk kata baku dan kata yang tidak baku. Bentuk baku adalah bentuk yang telah dimodifikasi, diterima, dan difungsikan atau dipakai sebagai model oleh masyarakat Indonesia secara luas. Berikut ini senarai kata baku dan kata tidak baku.
Tataran Penalaran Kalimat
Orang sering menganggap bahwa kalimat yang strukturnya lengkap sudah merupakan kalimat benar. Anggapan itu memang ada benarnya sebab salah satu syarat kalimat yang benar memang strukturnya harus lengkap, misalnya ada subjek dan predikat (SP) atau subjek, predikat, dan objek (SPO).
Unsur penting yang sering kurang diperhatikan adalah penalaran.Akibatnya, sering ditemukan kalimat seperti berikut.
(a) Laporan ini terutama ditujukan untuk melengkapi kekurangan laporan pada semester yang lalu. Oleh karena itu, laporan ini hanya berisi teknis pelaksanaan kegiatan.
(b) Dokter di rumah sakit ini selalu berusaha kerasmenyembuhkan penyakit pasiennya.
(c) Ternyata Adun tidak hanyadapat mengejar ketinggalannya, tetapi juga dapatmemimpin pertandingan.
(d) Penduduk desa berbaris dengan tertib di tepi jalan menunggu iring-iringan jenazah Pak Sastra.
(e) Larutan ini dapat menghilangkan sariawan, panas dalam, hidung tersumbat, dan bibir pecah-pecah.
Pada kalimat di atas terdapat kesalahan penalaran. Bagaimanakah kesalahan yang dimaksud?
Ketertiban bahasa
Masalah bahasa danrealitas kehidupan sudah lama menjadi objek kajian ilmiah di kalangan ilmuwan (psikolog, filosof, antropolog). Hal ini wajar karena bahasa berada dalam ranah kehidupan manusia. Salah satu ranah hubungan ang dibahas adalah hubungan bahasa dengan pikiran.
Ada dua pandangan tentang hubungan tersebut. Pandangan pertama, menyatakan bahwa bahasa menentukan cara berpikir. Setiap bahasa memberikan pandangan keduniaan pada penutur. Hal ini berarti bahwa bahasa akan mempengaruhi penutur dalam mempersepsi dan mengorganisasi dunia, termasuk diri si penutur.
Pendapat ini dikenal dengan Hipotesis Saphir-Whorf. Pandangan kedua, menyatakan bahwa terdapat pengaruh struktur bahasa pada pikiran dan sebaliknya. Pikiran dapat juga mempengaruhi perilaku berbahasa. Hubungan yang terjadi di antara bahasa dan pikiran merupakan hubungan dua arah. Pendapat iniikemukakan oleh Clark & Clark. Ketertiban bahasa adalah kondisi yang menunjukkan penerapan kaidah bahasa dan kaidah penggunaan bahasa secara tertib.