Cerpen

Perjumpaan di Wakhan

WAKTU kehabisan bekal, aku berpapasan dengan kafilah dagang yang berarak dari timur. Kalau tak salah hitung

Perjumpaan di Wakhan

Karya Wendy Fermana

WAKTU kehabisan bekal, aku berpapasan dengan kafilah dagang yang berarak dari timur. Kalau tak salah hitung, seingatku ada sepuluh orang lelaki dengan dua puluh ekor keledai mengiringi, yang di punggungnya dibebankan barang-barang dagangan.

Aku terduduk di gurun pasir itu selama setengah hari karena kehausan, di hadapanku terbayang sebuah oase dengan satu pokok pohon kurma digoyang-goyangkan angin hangat. Kukejar tempat itu di kejauhan, aku terduduk lesu karena oase itu lenyap dan di sana hanya ada tumpukan batu dan kaktus. Terduduklah aku di bawah kaktus raksasa itu. Pernah kudengar pesan pamanku kalau kehausan dan tak ada air maka carilah kaktus. Kaktus adalah kantong cadangan air di padang gurun. Tapi aku tidak kuasa lagi untuk mematahkan batang hijau tanaman itu. Selain aku tidak punya pisau untuk memotongnya, aku juga curiga bahwa kaktus itu hanya fatamorgana, seperti oase tadi. Maka aku terduduk lemas bersandar pada batu. Kurasakan pasir beterbangan. Apakah ada badai pasir?

Kalau memang benar ada badai itu, menunggu waktu aku akan mati. Badai gurun begitu menakutkan. Ia bisa memindahkan tumpukan bukit pasir ke tempat lain dalam waktu sangat cepat. Dan ia akan menguburku ke dalam pasir. Berakhirlah aku saat itu.

Setelah merasa pasir tidak lagi menyerbu, mungkin aku sudah tidak bisa lagi merasakan badai itu, syaraf-syaraf tubuhku tidak lagi peka, sudah mati kah? Aku tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Aku membuka mata, pandanganku sama seperti semula, hanya pasir dan pasir. Hanya saja di kejauhan, bukit pasir telah berpindah tempat dari sisi kiri, kini mengonggok di sisi kananku. Betapa cepat semua berubah, betapa beruntung aku tak diterbangkannya. Ah, atau betapa kasihannya aku tidak bebas dari hidup ini. Kalau misalnya aku ditimbun pasir itu, penderitaannku sudah berakhir, tidak perlu mengharapkan datangnya seteguk air untuk bertahan hidup.

Dari jauh, dalam keadaan mata yang kabur aku lihat noktah hitam bergerak menujuku. Semakin lama semakin besar. Kuduga itu serombongan kafilah dagang. Tapi, aku tidak peduli, mata ini tidak bisa dipercaya lagi. Siapa tahu itu juga fatamorgana, sehingga aku tidak berusaha memanggil minta selamatkan. Kalau memang itu fatamorgana, aku tidak perlu mengejarnya, sehingga tenagaku tidak terkuras habis lagi. Mataku makin lelah.

“Air! Air! Air!”

Suara gaduh itu mengepungku. Di hadapanku ada orang-orang yang berdiri memperhatikanku. Ah, Tuhan sudah sampai waktuku? Apakah mereka malaikat yang Kauutus? Atau fatamorgana, ah aku benar-benar sudah haus. Seketika sebuah tangan menegakkan tubuhku, dan mengalirkan air di rongga mulut, turun mengisi tenggorokan. Terasa segar. Kini halusinasiku semakin menjadi-jadi. Aku merasa telah melepas dahaga.

“Sadarlah!” Wajahku ditepuk-tepuk.

Aku melirih kesakitan. “Fatamorgana ini menyiksaku, Tuhan.”

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved