Obituari

Doel CP, Penyair Mencatat Kota-kota

BOLEH jadi Doel CP Allisah, adalah penyair yang paling rajin mengabadikan nama tempat dalam sajak. Itu memperlihatkan

Oleh Fikar W Eda

BOLEH jadi Doel CP Allisah, adalah penyair yang paling rajin mengabadikan nama tempat dalam sajak. Itu memperlihatkan kegemarannya melakukan perjalanan sastra. Rekaman tentang sosok Doel CP Allisah adalah rekaman seorang pengembara dan pejalan kaki. Ia menyusuri banyak tempat dan singgah di sejumlah kota.  Itu sebabnya,  ia banyak menulis puisi tentang nama kota, sebagai refleksi dari kegemarannya mencatatkan kenangan.

Soal kegemaran berjalan kaki, itu  dilakukan Doel sejak lama. Kami berjalan kaki dari Kantin Pak Man di lingkungan FKIP Unsyiah Darussalam ke Banda Aceh pada pertengahan 80-an, sambil ia menenteng mesin tik Brother  kebanggaannya. Mesin tik putih yang  telah kusam. Kala itu, tidak banyak yang punya mesin tik, dan Doel CP adalah salah seorang dari yang sedikit itu. Ia menuliskan puisinya dengan rapi dengan mesin tersebut.

Ia menulis Blok M, Teunom, Kutaraja, Pante Teungoh, Sigli, Laut Tawar dan sebagainya.  Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh, 2004, Doel CP,  berkeras hati  menerbitkan  “Koetaradja Banda Aceh,” (2008) antologi puisi penyair Aceh yang memuat riwayat banyak tempat di Koetaradja yang berhasil direkam dalam puisi. Ia membongkar arsip untuk menemukan puisi tentang “Koetaradja.”  Ia juga menyimpan puisi lama saya “Taman Sari” yang ia terbitkan dalam antologi tersebut.

“Kita harus menyelamatkan Koetaradja,” katanya kemudian, setelah buku itu terbit.

Doel CP  benar, peristiwa gempa dan tsunami telah menenggelamkan banyak tempat dan mengubah wajah “Koetaradja,” menjadi sesuatu yang baru. Puisi, ditulis para penyair, memberi sumbangan besar terhadap kelestarian ingatan tentang sebuah kota, atau apa saja. Banyak yang berubah dari Kota Banda Aceh dan itu bisa dibaca kembali melalui serangkaian puisi.

Belakangan ia juga sangat rajin melakukan perjalanan sastra ke banyak tempat di dalam  dan luar negeri, terutama Asia Tenggara. Doel memang memiliki jaringan sangat luas di kalangan penyair Indonesia. Jaringan bukan saja di kalangan sastrawan, melainkan juga para penggemar batu akik yang banyak dikoleksinya. Soal kegemarannya terhadap batu, bagi saya, benar-benar sesuatu yang baru. Sama sekali tak pernah terlintas dalam benak saya,  selama pergaulan  sastra kami sejak 1980-an bahwa Doel CP juga  penggemar batu.

Nani HS, cerpenis yang mendampingi Doel CP sampai akhir hayat, pernah “protes” terhadap cara Doel CP  menghadapi para peminat batu yang datang ke rumahnya. Ia  tak pernah memberi harga, bahkan banyak yang diberikan cuma-cuma. Doel CP melalui “Aliansi Sastrawan Aceh” menerbitkan banyak buku sastra, sebagai bagian dari kekerasan hatinya merawat ingatan. Dari tangan Doel CP itulah, publik sastra di Aceh bisa membaca kembali karya-karya penyair dan sastrawan Aceh seperti Hasyim KS, Maskirbi, AR Nasution dan lain-lain.

Wak Doel, begitu saya memanggilnya, adalah juga seorang arsiparis yang teliti. Ia mendokumentasi  banyak catatan, yang kemudian ia ruangkan di rumahnya di Lamreung. Ia juga melakuan dokumentasi melalui web, bisa diakses melalui “Aceh Literary Alliance.”

Penyair Doel CP Allisah menyempurnakan pekerjaannya sebagai “perawat ingatan” pada Rabu 2 April 2014 silam. Ia berpulang ke haribaan Allah SWT, membawa kenangan mendalam dan meninggalkan jejak peradaban di tanah Aceh, tanah yang ia cintai.

Ia memang sakit, dan itu sudah ia kabarkan sejak lama dengan nada gembira. Tapi ia merasa sehat. Ia tetap berpergian, meski sebetulnya, untuk jalan jauh tidak mungkin lagi. Tapi ia sosok yang keras hati. Nani HS, sang istri, seringkali harus memandu melalui saluran telepon untuk obat-obat yang harus ia minum secara rutin. Penyair Doel CP adalah jiwa yang gembira, dan tentu saja sangat romantis, seperti pilihan kata dalam penggalan puisi  “Di Kota Laut Tawar,” di bawah ini;
dalam bergelas-gelas gayo kopi yang kureguk
mengaduk-aduk rinduku dalam terawang jauh danau itu
satu-satu berbaris dalam nafasku
Saiful Hadi-Unay-Prapto,Fikar,
ibu yang memasak ikan depik di ruko,
rumah kak Dumasari di dataran bukit kecil,
desir angin Asi Asir dan hulu sungai Peusangan,
atau saat terlelap di Time Ruang
setiap gelas kopi Gayo yang kuteguk,
bukan hanya ritual sehar-hari
ada kalian bergandengan di antaranya
ada nikmat hangat dan sejuk angin danau yang menerpa tiba-tiba
ada kita larut di dalamnya
dan berlari jauh kesetiap sudut dunia.

(1987 - 2012)

Aceh memang telah kehilangan penyair romantik terbaiknya. Innalillahi wainnailaihi raji’un.

* Fikar W Eda, budayawan

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved