Serambi Kuliner

Inilah, Mi Made In Singkil

RATUSAN warga dari penjuru Aceh Singkil menyemut di Stadion Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara

Inilah, Mi Made In Singkil

MI bukan makanan asing bagi lidah masyarakat Indonesia. Berdasarkan penelitian, konsumsi mi di Indonesia, terbesar kedua setelah Tionghoa. Hampir semua warga mulai Sabang sampai Meurake, pernah menyantap makanan yang satu itu. Masyarakat menyukai mi karena penyajiannya praktis. Selain itu, murah serta mudah didapat. Tak terkecuali di Singkil. Bedanya, di daerah itu, terdapat mi berbahan baku utama sagu. Ada sensasi rasa berbeda begitu menikmati semangkuk mi sagu yang mulai diproduksi untuk dijual. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Dede Rosadi berbagi tips pembuatan dan penyajian mi sagu khas Aceh Singkil.(*)

RATUSAN warga dari penjuru Aceh Singkil menyemut di Stadion Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara. Mereka rela datang sejak siang kendati cuaca masih menyengat, untuk melihat secara langsung pameran dalam rangka Ulang Tahun Ke-15 Aceh Singkil.

Dari puluhan stand yang meramaikan acara itu, ada hal berbeda yang terlihat di pojok kiri stadion, Rabu (30/4) lalu. Kaum perempuan muda menyesaki stand Badan Pelaksana Penyuluh dan Ketahanan Pangan (BPPKP) setempat. Tujuan mereka cuma satu: melihat secara langsung demonstrasi pembuatan mi sagu.

Dipilih sagu sebagai bahan bakunya lantaran pohon yang bernama ilmiah metroxylon sagu itu tumbuh subur di Bumi Sada Kata. Karena itu, bukan perkara sulit untuk mendapatkan bahan baku mi tersebut.

Umumnya, kaum hawa yang berdesakan pada stand berukuran empat kali delapan meter dimaksud berasal dari Danau Paris, Simpang Kanan, dan kecamatan penghasil sagu lainnya di Bumi Syekh Abdurrauf As Singkili. Antusiasme mereka terlihat saat demonstrasi memasak mi tersebut. Ada yang langsung bertekad, bisa menyajikan untuk suami tercinta maupun keluarga di rumah.

Dengan catatan di tangan, sesekali para perempuan memprotes temannya yang nekat berdiri, untuk mencium aroma mi yang sedang dimasak oleh Cut Kemalawati. Dalam sesi yang dipandu Syamsir, salah seorang pegawai BPPKP Aceh Singkil, ibu-ibu sigap mencatat bahan serta cara pengolahan hingga ke penyajiannya.

Mulai dari perlengkapan yang harus disediakan, cara pengadonan tepung, pencetakan mi hingga proses pengemasan. Pembuatan mi sagu yang dipraktikkan pun menggunakan peralatan serbalistrik. Mulai mesin adonan, pencetak mi, sampai ke pengeringan, menggunakan oven listrik.

Antusiasme warga kian membuncah ketika sampai ke sesi cara memasak mi sagu. Bumbu memasak tidak jauh berbeda dengan menyajikan hidangan mi pada umumnya. Ada bawang, cabai, sayuran, telur, dan lainnya, diramu sesuai selera.

Namun, perlu pelajaran khusus agar mi tidak hancur saat dimasak. Mengenai bumbu dapat disesuaikan dengan selera. Mi sagu ini bisa disajikan dalam bentuk mi goreng atau mi kuah. Sementara yang dibuat hari itu, mi goreng basah.

Tips yang harus diingat dalam memasak mi sagu goreng maupun mi kuah, hanya dalam proses pengadukan. Ketika dimasukkan dalam kuali, mi sagu harus diaduk lembut. Tujuannya untuk mencegah agar mi tidak hancur. Karena mi, sagu harus direndam air mendidih dulu agar teksturnya lunak.

Sedangkan mi rebus, wajib menggunakan air mendidih. Jika hanya air panas, mi sagu yang telah dikeringkan tidak akan mengembang. “Mengaduk mi sagu harus penuh perasaan. Kalau keras-keras bisa hancur,” kata Cut Kemalawati.

Setelah menunggu hampir dua jam--mulai membuat mi hingga dimasak, senyum sumringah terpancar terutama dari pengunjung. Selain telah mendapat ilmu, mereka juga bisa menikmati sepiring mi sagu yang dari tadi ditunggu.

Ada sensasi rasa berbeda begitu menikmati semangkuk mi tersebut. Belum semuanya kebagian, sudah ada yang berteriak minta tambah.

Selesai makan, saatnya pulang, juga ternyata mendapat buah tangan. Dua bungkus mi dalam bentuk kemasan boleh diboyong ke rumah. “Lumayan bisa memperaktikkan cara masak di rumah,” kata Eva, salah seorang pengunjung stand.

Meski baru sekali didemonstrasikan pembuatannya, keberadaan mi sagu menyedot perhatian pengunjung pameran. Bahkan, menjadi buah bibir penduduk Aceh Singkil. Rasanya yang nikmat serta gurihnya mi, menjadi sensasi tersendiri menikmati mi made in Aceh Singkil ini.(*)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved