Piala Dunia 2014
Menunggu Kokok Si Ayam Jantan
AWAN kelabu sepertinya masih enggan menjauh dari langit tim nasional Prancis
AWAN kelabu sepertinya masih enggan menjauh dari langit tim nasional Prancis. Sang dewi fortuna yang sempat menghampiri pada gelaran Piala Dunia 2006 di Jerman, sepertinya telah benar-benar menjauh dari kandang si Ayam Jantan.
Sejarah mencatat, di Stadion Stade de France pada final Piala Dunia 1998, Prancis yang tampil dengan sepuluh pemian sejak menit 68, usai diekspulsonya Marcel Desaily, menggulung Brazil yang sedang memburu titel penta campeone (juara ke lima kali) Piala Dunia dengan skor 3-0. Lewat dua gol Zinedine Zidane dan Emmanuel Petit.
Final yang menyesakkan bagi Brazil serta menyisakan misteri atas kondisi mega star mereka Ronaldo. Isu sakit, asmara yang kacau hingga terkena santet, menimpa Ronaldo kala itu. Brazil gagal mengulang sejarah meraih titel Piala Dunia 1962 tanpa kehadiran Pele yang cedera kala itu.
Setelah prestasi emas Piala Dunia FIFA 1998, Prancis yang berstatus juara bertahan, tampil sangat mengenaskan pada Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Tim yang masih bertabur bintang ini tidak mampu mencetak sebiji pun gol ke gawang lawan. Laurent Blanc cs harus pulang sejenak fase grup dituntaskan.
Empat tahun setelah kekalahan memalukan, memaksa pelatih Pelatih Prancis, Raymond Domenech, memanggil kembali sang maestro sepakbola, Zinedine Zidane untuk membantu timnya pada gelaran Piala Dunia 2006 di Jerman.
A Tribute to Zinedine Zidane, begitulah kalimat yang tepat untuk menghargai kembalinya Zidane ke lapangan hijau. Pemain terbesar yang pernah dimiliki Prancis ini sudah menyatakan mundur usai Euro 2004, tapi kemudian ia kembali dan membawa Perancis, yang hampir tidak lolos berlaga di ajang Piala Dunia 2006, memberikan kejutan.
Meski dinodai dengan insiden tandukan Zidane terhadap Materazzi, saat Prancis berhadapan dengan Itala di Final, namun Prancis tetap pulang dengan kepala tegak. Pasukan Les Bleus kalah 5-3 melalui adu penalti, setelah berbagi angka 1-1 pada babak normal.
Zidane yang anak imigran Aljazair itu terlihat menangis saat meninggalkan lapangan usai diusir dengan kartu merah oleh wasit. Namun, setidaknya Zidane yang pernah memecahkan rekor transfer dari Juventus ke Madrid itu telah membuktikan diri sebagai pemain terbesar yang pernah dilahirkan negara Napoleon Bonaparte ini.
Setelah Zidane pensiun, timnas Prancis menjadi sasaran caci maki dari seluruh pelosok negeri saat pulang dari Afrika Selatan, tempat Piala Dunia 2010 digelar. Skuad Les Bleus juga angkat koper lebih awal setelah menjadi juru kunci Grup A, kalah bersaing dari Meksiko, Uruguay, dan Afrika Selatan.
Hasil buruk ini seakan menjadi karma bagi Prancis yang dinilai lolos ke Afrika Selatan secara ‘haram’. Handsball Thiery Henry di leg kedua babak play-off melawan Irlandia menyisakan kontroversi tak berujung hingga kini.
Penampilan buruk Ayam Jantan di Afrika Selatan ini tidak terlepas dari prilaku buruk para pemainnya yang melakukan ‘kudeta’ terhadap pelatih Raymond Domenech. Menyusul keputusan memecat Anelka di tengah perjalanan Piala Dunia.
Sungguh kejadian memalukan sepakbola Perancis ketika itu. Para pemain dikritik habis-habisan di negaranya. Sampai akhirnya FFF menskors 23 pemain yang tampil di Piala Dunia 2010 untuk membela tim nasional Prancis pada pertandingan berikutnya. Inilah sejarah hitam bagi skuad timnas yang seharusnya terhitung mapan dalam bersikap.
Tak kurang dari Menteri Kesehatan dan Olahraga Perancis, Roselyne Bachelot, kala itu angkat bicara. “Saya mengatakan kepada para pemain bahwa mereka telah mencoreng citra Perancis. Saya juga mengatakan mereka tidak bisa lagi menjadi pahlawan bagi anak-anak kami. Mereka telah menghancurkan mimpi satu negara, teman-teman dan seluruh fans di negeri ini.”
Efek domino kegagalan itu pun berlanjut kepada pengunduran diri Presiden Federasi Sepak Bola Perancis, Jean-Pierre Escalettes. Pun halnya dengan pelatih Raymond Domenech yang kemudian digantikan oleh el kapiten Les Bleus saat Piala Dunia 1998, Laurent Blanc.
Kini, jelang perhelatan Copa do Mundo Brazil 2014, Timnas Prancis kembali direcoki intrik internal. Benih-benih perpecahan pasukan Les Bleus mulai mencuat ke publik setelah pelatih Didier Deschamps menuntut kekasih gelandang Manchester City Samir Nasri lantaran dianggap menghina dirinya lewat akun twitter.
Pengacara Deschamps mengatakan kliennya telah mengajukan gugatan hukum untuk ‘penghinaan di depan umum’ terhadap Anara Atanes. “Untuk pesan-pesan yang ia tulis di media sosial setelah Nasri dicoret dari tim sementara Prancis untuk Piala Dunia,” tutur sang pengacara seperti dilansir Reuters, Jumat (16/5).
Deschamps menegaskan berbagai alasan untuk tidak memilih Nasri, antara lain, karena sang pemain tidak tampil cukup baik, dan sikapnya dapat melemahkan semangat tim sepanjang 6 pekan bersama di Piala Dunia Brazil.
Pencoretan Nasri menimbulkan reaksi dari legenda Prancis Patrick Vieira. Ia pun mengkritik keputusan pelatih timnas Prancis Didier Deschamps yang meminggirkan Nasri dari skuad Les Bleus. “Saya pikir di Prancis terkadang mereka tidak cukup kuat untuk mengatasi masalah personal dengan pemain. Kenyataan ini sungguh mengejutkan, karena Deschamps sosok pelatih yang memiliki personalitas dan pengalaman,” ujarnya.
Vieira pun menilai absennya Nasri bisa mengancam kesempatan Prancis mengulang sukses juara Piala Dunia, seperti pada 1998. Menurut dia, Prancis harus memanggil pemain terbaik seperti Nasri, agar bisa juara. Tapi, itu tidak dilakukan.
Perpecahan yang terjadi hanya sebulan menjelang perhelatan Piala Dunia Brazil 2014 ini tentu menyisakan pertanyaan di benak fans, mungkinkah si “ayam jantan” yang bertabur bintang ini, akan berkokok kembali senyaring kokoknya tahun 1998 lalu? Ataukah mereka akan kembali mengulang kisah kelam empat tahun lalu, dan menjadi bulan-bulanan tiga pesaingnya di grup E, yaitu Swiss, Ekuador, dan Honduras? Mari kita tunggu.(zainal arifin/dbs)