Breaking News:

Opini

DPRA Baru dan Buta Huruf Abad 21

PARA Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) hasil Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu, kini telah terpilih dan telah

Oleh Jarjani Usman

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” (Alvin Toffler)

PARA Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) hasil Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu, kini telah terpilih dan telah ditetapkan. Mereka tinggal menunggu pengukuhan atau pelantikannya saja, meskipun sesungguhnya itu bukanlah tujuan. Itu hanya mekanisme awal atau alat untuk mencapai tujuan. Tujuan utamanya, sebagaimana diusung para caleg sewaktu kampanye, lebih kepada upaya memperjuangkan aspirasi rakyat Aceh dalam rangka mencapai kehidupan yang bertakwa, sejahtera, dan adil dan makmur. Ini tentunya sebuah kondisi ideal. Selama ini rakyat Aceh nampaknya belum meraih tujuan itu, sehingga muncul pertanyaan: Akan terwujudkah perubahan yang (mendekati) ideal setelah terpilih anggota-anggota DPRA baru?

Pertanyaan utama ini bisa dijawab, paling kurang, dengan melihat sumberdaya, struktur sosial, dan modal lain yang dimiliki Aceh.  Pertama, terpilihnya para pemuda tangguh di samping orang-orang tua adalah sebuah harapan besar. Para pemuda yang sebelumnya saya kenal sebagai penggerak masyarakat atau agen perubahan kini menjadi anggota DPRA antara lain: Teuku Irwan Djohan (Nasdem), Gufran (PKS, incumbent), Kautsar (PA), Iskandar (PA), Bardan Sahidi (PKS, sebelumnya di DPRK Aceh Tengah) and Tanwir Mahdi (Demokrat, incumbent).

 Menjadi lokomotif
Saya yakin para aktivis (kampus dan luar kampus) yang kini menjadi wakil rakyat bukan hanya muda dilihat dari segi usia, tetapi juga memiliki modal pengalaman lapangan, sehingga bisa menjadi lokomotif dalam bekerja dengan anggota-anggota lain untuk menghasilkan konsep dan mengakselerasi pembangunan kemanusiaan dan non-kemanusiaan di Aceh.

Tentunya tak ingin mengulang pernyataan Teuku Adli Bawareth dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dulu, “idealisme para aktivis pernah terhenti di Kijang Innova” di masa BRR Aceh-Nias. Dengan kata lain, dalam konteks kekinian, apakah idealisme para aktivis itu akan terhenti di mobil Fortuner? Bisa jadi. Kalau ini terjadi, peran-peran aktivis selama ini tak lebih dari sekadar usaha marketing diri, agar dikenal luas oleh rakyat. Tapi kita tentunya tidak berharap demikian, apalagi Nabi Muhammad saw mengharapkan umatnya untuk tidak terjebak dalam lobang yang sama.

Kalau tidak berharap demikian, tentunya para anggota DPRA perlu memikirkan strategi baru untuk mewujudkan perubahan. Seorang pakar perubahan yang bernama Kurt Lewin mengajukan sebuah strategi untuk melakukan perubahan, yaitu unfreezing (mencairkan pola lama), moving (melakukan gerakan perubahan), dan refreezing (membekukan kembali pola baru) (Cummings & Worley, 2006). Dalam istilah Avin Toffler, disebut unlearning (belajar meninggalkan ketidakbaikan lama), movement (melakukan gerakan) dan relearning (belajar kembali yang baru). Lantas mengapa harus ada tiga langkah tersebut dan apa relevansinya dengan DPRA?

Pertama, DPRA perlu meninggalkan cara-cara kerja lama yang tidak produktif dan bahkan kontraproduktif. Sudah jamak diketahui, banyak cara lama yang dilakukan DPRA yang tidak menghasilkan perubahan. Di antara contohnya, banyak anggota DPRA berkunjung ke luar negeri, tetapi tidak mengambil contoh-contoh yang baik untuk negerinya.  Contohnya, di negeri yang dikunjungi seperti Eropa dan Australia, jalan-jalan yang dibangun memberikan kenyamanan, toko-toko tidak berdesak-desakan di suatu wilayah, orang-orang difabel mendapat keutamaan di fasilitas-fasilitas umum, dan pusat-pusat masyarakat di ruang terbuka yang luas dibangun di setiap wilayah seluas kemukiman dan kecamatan.            

Namun dari kunjungan-kunjungan ke luar negeri sebelumnya, belum terlihat DPRA mendesak atau menghasilkan qanun-qanun tentang hal-hal seperti itu. Untuk jalan, misalnya, umumnya masih dibiarkan sejalur meskipun untuk dua arah, rambu-rambu lalu lintas untuk tingkat kecepatan lari di jalan-jalan yang padat penduduk dan wilayah tak berpenduduk belum jelas, parkir sembarangan, dan tak ada fasilitas khusus untuk parkir bagi orang-orang cacat. Tangga-tangga khusus untuk orang cacat pun belum dibangun di kantor-kantor atau bahkan di tempat-tempat ibadah. Toko-toko pun banyak menumpuk di suatu tempat, dan kalau perlu ditambah lagi di sana, tanpa memikirkan tempat parkir yang layak. Di ibukota Provinsi saja belum ada tempat parkir khusus, apalagi di daerah lain. Malah di Banda Aceh, sepanjang jalan dibangun toko berbaris, meskipun bisa dibangun melingkar.

 Wajib ditinggalkan
Idealnya, kunjungan ke mana pun, termasuk ke luar negeri harus dimaknakan sebagai investasi (investment), yang perlu menghasilkan keuntungan (return), sehingga menghasilkan keseimbangan sebagaimana rumus ROI (return on investment). Pasalnya, uang, tenaga, dan waktu yang diinvestasikan atau ditanam untuk kegiatan tersebut tidaklah sedikit. Katakanlah kalau seorang anggota DPRA mendapat Rp 30 juta per bulan (termasuk gaji dan berbagai tunjangan lain) dari uang rakyat, maka per hari adalah Rp 1 juta. Kalau seminggu berkunjung ke luar negeri, berarti menggunakan hari yang bernilai Rp 7 juta, ditambah dengan ongkos bolak balik dan uang perjalanan lainnya yang puluhan juta rupiah per orang. Apa maknanya semua itu bagi rakyat?

Cara-cara yang tidak produktif dan kontraproduktif seperti dilakukan sebelumnya, sepantasnya dan bahkan wajib ditinggalkan (unlearning) untuk memberi ruang yang lebar bagi jalannya perubahan ke arah yang lebih baik bagi negeri. Kalau tidak, sama saja dengan anggota DPRA ingkar janji. Bahkan, yang tidak belajar dari kesalahan lama, oleh Alvin Toffler disebut orang buta huruf abad 21. Sebagaimana pernyataannya: “Orang yang buta huruf di abad 21 adalah bukan orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak bisa belajar, yang tidak bisa belajar meninggalkan (yang buruk), dan tak bisa belajar lagi (yang baik). 

* Jarjani Usman, Mahasiswa Program Doktoral (Kandidat Ph.D) di Autralia. Email: jarjani@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved