Breaking News:

Warga Duduki Lahan PT Dua Perkasa Lestari

Puluhan masyarakat di Kecamatan Babahrot, Abdya, sejak Senin (2/6)malam hingga Selasa (3/6) sore, menduduki areal Hak

* Petani Binaan PT DPL Hadang Warga

BLANGPIDIE - Puluhan masyarakat di Kecamatan Babahrot, Abdya, sejak Senin (2/6)malam hingga Selasa (3/6) sore, menduduki areal Hak Guna Usaha (HGU) PT Dua Perkasa Lestari (DPL) yang mengelola perkebunan sawit di wilayah itu, kerena sebagian lahan itu diklaim sebagai lahan garapan oleh 29 kelompok petani yang merupakan warga setempat.

Aksi pendudukan lahan tersebut sempat memanas, karena pihak PT PDL juga menurunkan petani binaannya ke lokasi. Sehingga hampir saja terjadi bentrok antarwarga yang disebabkan oleh masalah perebutan lahan garapan. Warga pun mendesak Pemkab Abdya tegas menentukan batas lahan garapan masing-masing pihak. Karena jika batasnya jelas, maka konflik antarwarga bisa dicegah.

Pantauan Serambi, bentrok fisik antara masyarakat yang ingin menduduki lahan dengan petani binaan perusahaan tersebut, berhasil dicegah puluhan personel Polres Abdya yang sudah bersiaga di lokasi itu. Setelah suasana mereda, puluhan petani binaan, termasuk personel polisi meninggalkan lokasi areal HGU PT DPL yang berlokasi di Desa Ie Mirah, Senin (2/6) sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Tak lama kemudian, sekitar 40-an masyarakat yang mengaku berasal dari 29 kelompok tani Desa Pantee Cermin, memasuki areal HGU PT DPL, melewati Jalan 30 (Jalan Lingkar Babahrot). Di lokasi, mereka mendirikan tenda dan menginap di lokasi lahan yang diklaim sebagai lahan garapan kelompok tani tersebut.

Pada Selasa (3/6) pagi, Manajemen PT DPL kembali meminta pengamanan ke Polres Abdya dengan melibatkan anggota Brimob Kompi V Kuala, Kabupaten Nagan Raya, ke lokasi tersebut.

Kapolres Abdya AKBP Eko Budi Susilo SiK melalui Kabag Ops Kompol Muslim menjelaskan, keberadaan aparat kepolisian baik dari Polres Abdya maupun dari Brimob Kompi V Kuala, Nagan Raya, karena diminta pihak perusahan untuk mencegah tindakan anarkis. “Situasi di lokasi PT DPL sudah normal kembali. Masyarakat yang sempat menginap di areal itu, sudah keluar dari lokasi setelah dilakukan upaya pendekatan,” ungkap Kompol Muslim yang turun langsung ke lokasi.

Direktur Utama (Dirut) PT Dua Perkasa Lestari (PT DPL), H Said  Syamsul Bahri yang dikonfirmasi Serambi menjelaskan, lahan yang diklaim oleh sebagian warga sebagai milik anggota kelompok tani itu, adalah lahan HGU perusahaan miliknya, sesuai sertifikat HGU tahun 2009 dengan luas areal 2.559 hektare. “Sabagian lahan tersebut, tidak akan kami keluarkan dari areal HGU yang sudah bersertifikat,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, pihaknya tetap membina petani di sekitar HGU itu sebagai petani plasma. Dari 2.559 hektare lahan HGU, 20 persen di antaranya (500 hektare) diperuntukkan bagi petani binaan (plasma) sebanyak 250 KK, dimana setiap kepala keluarga (KK) mendapat 2 hektare lahan untuk dikelola.

Dirut PT DPL tersebut mengakui meminta pengamanan dari Polres Abdya, termasuk ke Brimob Nagan Raya, setelah mendapat informasi adanya puluhan warga yang ingin menduduki lahan HGU miliknya.

“Kami khawatir terjadi bentrok antara petani binaan dengan warga yang akan menguasai lahan HGU, sehingga kami minta bantuan pengamanan kepada aparat kepolisian,” kata Said Syamsul Bahri.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved