Cerpen

Sawaka

SEPANJANG senja, kebiasaan Sawaka adalah meratapi kematian suaminya. Ia betah berlama-lama menekur di bawah rerimbun dahan mangga

Sawaka

 Cerpen| Hendra Kasmi     


SEPANJANG senja, kebiasaan Sawaka adalah meratapi kematian suaminya. Ia betah  berlama-lama menekur di bawah rerimbun dahan mangga seraya menepuk-nepuk tanah kuburan yang tak lagi merah. Mulutnya terbata-bata menyebut nama mendiang sang suami seraya menyeka gerimis pada mendung wajahnya. Dia akan beranjak dari pusara itu ketika remang berganti malam. Memang tak ada yang menghalangi kelakuannya itu. Tak ada. Tak  seorang pun yang peduli. Orang-orang sudah menganggapnya setengah gila. Cuma Nur, anak semata wayangnya, yang mengomel. Kudengar suara anak itu menegur ibunya. Mungkin Nur malu pada orang sekampung. Hanya sesaat suara  itu menggelegar. Selebihnya senyap.

Tangis Sawaka kembali memecah hening ketika malam telah larut. Rintihan itu sungguh mengusik kenyamananku. Entah kenapa aku terjaga dari tidur dengan jantung berdebar saat mendengar suara itu. Peluh juga ikut melumuri sekujur tubuhku. Kadang aku seperti tersentak dari mimpi buruk. Sudah sangat sering aku melewati malam yang menyayat. Suara itu akan memudar perlahan-lahan hingga suasana kembali sunyi. Ketika hanya suara jangkrik yang mencabik kesunyian. Tapi hatiku tetap tidak tentram. Aku hampir tak bisa tidur hingga di penghujung pagi.

Tidur yang tak cukup berdampak buruk pada kesehatanku. Berat tubuhku terus menurun. Cermin tempat merias juga ikut memberi gambaran nyata, wajah yang pasi dan mata yang sayu. Pantas saja aku selalu terasa pusing dan sering menguap saat berada di kantor.  Hal itu tentu saja memberi penilaian yang tidak baik di mata rekan kerja dan anak buahku. Beberapa kali rekan kerja memandangku dengan sinis. Kalau sudah begini kebencian pada Sawaka kian menjadi. Kian hari aku semakin muak pada perempuan yang menghabiskan senjanya di depan pusara.  Ingin sekali kurajam perempuan gila itu saat rintihannya mengganggu tidurku.

“Aku sungguh tak tahan lagi!”ujarku pada istri.

“Mungkin ia sulit menghapus duka usai kematian suaminya. Tapi, bagaimana pun juga ia tetangga kita. Sudah selayaknya kita menghiburnya!”

Ah, ternyata istriku tak paham juga tentang kenyamananku yang terusik saban malam. Wajar saja, kulihat ia terlelap dengan tentram di ranjang saat suara Sawaka mencabik kesunyian. Susah menghapus duka katanya?  Dia pikir kematian suami Sawaka baru kemarin sore. Padahal sudah dua puluh tahun lebih lelaki itu meninggal. Luka hati yang seharusnya sudah lama tersembuhkan sebagaimana perasaaan kehilangan pada umumnya. Betul kata orang,  perempuan yang satu itu memang sudah tidak sehat lagi akalnya. Tapi jangan sampai juga penyakitnya menganggu orang.

“Menghiburnya? Lalu siapa yang menghibur diriku yang stres karena kelakuannya? Untuk apa kau membela tetangga macam itu!”
“Janganlah seperti itu. Ingat Bang! Penderitaannya yang dialaminya tak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah kita dapatkan.”

“Huh, tak usah kau kaitkan hal itu dengan jabatanku sekarang.”

Sungguh aku sangat kesal sekali pada orang-orang—tak terkecuali sang istri—yang  mengaitkan jabatanku sebagai angggota DPRD sebagai imbalan karena keberpihakanku pada suatu kelompok yang bertikai saat konflik di daerahku dulu. Bagiku, anggapan itu terlalu mengada-ada.  Ah, daripada meladeni pertengkaran yang tak berguna ini lebih baik kuselesaikan aral Sawaka  hari ini juga biar tak berlarut-larut. Biar aku sendiri ke rumah perempuan itu.

Rasa resah bercampur geram terus berkecamuk dalam benak sepanjang langkah kaki ini. Saat akan memasuki halaman rumahnya, kulihat Nur keluar dengan mengapit beberapa kitab. Mungkin ia ingin ke dayah. Aku  tertegun. Gadis berkulit kuning langsat dan berwajah oval itu selalu menjadi daya tarik bagi pemuda kampung ini. Tapi tidak denganku. Dadaku selalu bergemuruh saat menatap wajahnya.

“Maaf Pak Cek ada perlu apa?”ujarnya sembari tersenyum.

“Saya hanya mau melihat kondisi rumah warga untuk data penerimaan dana miskin. Kalau memang layak akan diberikan.”

“Silakan Pak Cek!”

“Terima kasih”

 “Pak Cek, bolehkah saya meminta pendapat dari Pak Cek.”

“Ya silakan.”

“Tiap malam ibu saya menyebut-nyebut nama ayah. Bahkan tak jarang beliau mengigau. Beliau menyamakan pembunuh ayah seperti anjing yang tak punya perasaan. Katanya mereka tak layak hidup di bumi Aceh yang damai bertabur berkah dan cinta. Sudah berulang kali saya menasehatinya. Hasilnya nihil. Katanya hidup beliau baru bisa tenang jika berhasil menikam pembunuh ayah.”
“Kira-kira apa yang perlu saya lakukan Pak Cek.”
 “Kamu tak usah risau. Tekanan psikologis yang dialami ibumu agak berat. Waktu akan membuat jiwa ibumu normal kembali. Kamu tenang saja, yang penting kamu rawat beliau dengan baik.”

Nur hanya tersenyum. Senyum khas dari  gadis desa yang  polos. Seorang gadis yang terlalu dini untuk bergumul dengan kemelut  hidup. Sorot  matanya yang teduh seakan menyiratkan seutas permohonan maaf dan maklum atas kelakuan ibunya hingga sebongkah iba itupun tumbuhdalam hatiku.  Sejak saat itu aku  tak peduli lagi terhadap kelakuan Sawaka. Biar saja dia meraung sekerasnya saban malam. Kalau memang menganggu kututup telingaku dengan bantal. Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dengan kondisi seperti ini. Hanya beberapa hari sejak peristiwa itu, aku terjaga dari lelap tanpa lagi tersentak saat mendengar tangisan Sawaka.

Beberapa minggu kemudian aku tak lagi terjaga saat tengah malam. Hal itu membuatku selalu bangun pagi dalam keadaan segar. Aktivitas yang kujalani sehari-hari kembali berjalan normal.  Rekan kerja mulai heran dengan kelakuanku yang mulai berubah drastis. Aku sekarang sadar bahwa Sawaka bukanlah penyebab kemelut hidup, namun semua itu bersumber dari penyakit hatiku sendiri.

Aku lebih tua dua tahun dari Sawaka. Namun, hanyalah orang sebaya, kerabat atau tetangga dekat yang percaya akan hal itu. Sedangkan orang yang baru mengenal kami akan menganggap bahwa usia Sawaka jauh lebih tua dariku. Wajar saja, beban hidup yang Sawaka tanggung telah melejitkan usianya melebihi batas normal. Luka hati yang nyaris tak tersembuhkan telah menggerus rona wajahnya yang cerah.  Padahal Sawaka adalah jelmaan Nur pada masanya. Kecantikan yang terpancar dari wajahnya telah membuat hampir semua pemuda kampung menggilainya pada masa itu.

Lukman,  misalnya, saudagar kaya yang sangat tersohor dari kampung seberang saat itu pernah ditolak lamarannya oleh Sawaka.

Sawaka pernah singgah dalam dunia asmaraku. Saat itu kami begitu akrab. Hatiku sempat berdebar juga ketika kusampaikan maksud hati membawa cinta yang bersemi ke jenjang pernikahan. Namun dengan senyum malu-malu ia mengatakan bahwa  belum terpikir ke arah itu. Ia akan mengabarkan padaku jika sudah tiba waktunya. Namun, sudah sekian lama aku menunggu, tetap saja tak ada kabar darinya. Sampai aku membujuk ayah agar mengirim utusan ke rumah Sawaka.

“Tak ada harapan lagi!” suara utusan ayah seperti petir yang menghantam ulu hatiku. Diam-diam ternyata Sawaka terpesona juga dengan kemilau kehidupan Lukman. Walau dulu ia pernah menolaknya. Gemuruh hatiku lama-kelamaan menjadi benih dendam yang tak sanggup kucabut.
Sampai suatu ketika huru-hara politik menjalar ke kampung kami. Banyak pemuda yang ditangkap karena diduga terlibat dalam aksi kerusuhan. Lukman juga terkena imbas dari kemelut itu. Ia diangkut orang-orang bersenjata dengan truk pada sepotong malam yang suram. Dua malam kemudian Sawaka menyusul. Kabar terakhir, seorang warga melihat mayat Lukman mengapung di sungai saat senja turun. Kondisi jasadnya sangat mengenaskan. Sedangkan Sawaka ditemukan terkapar lemas di belukar kaki Bukit Barisan. Lebih kurang setahun kemudian,  Sawaka melahirkan bayi mungil. Namun, wajahnya selalu mendung saat menatap sang bayi  yang kelak diberi nama Nur. Sejak saat itu ia menjadi perempuan pendiam dalam menjalani hari-hari yang pilu.

***

Aku tersentak mendengar kabar bahwa Sawaka meninggal dunia. Peristiwa itu terjadi begitu tiba-tiba. Menurut keterangan Nur, setelah terjatuh di kamar mandi, ia langsung tak sadarkan diri hingga menghembuskan nafas terakhir. Sawaka dimakamkan berdampingan dengan makam suaminya. Sejak saat itu tak ada lagi perempuan yang duduk di depan pusara ketika senja dan merintih di kala malam. Yang kulihat sekarang adalah dua gundukan tanah merah yang letaknya berdampingan. Seolah menyiratkan bahwa cinta sepasang suami istri itu tak pernah mati walau jasadnya telah melebur dengan tanah.

Hari ini, aku kembali melihat Sawaka melakukan kebiasaannya. Sawaka? Bukankah perempuan itu sudah mati? Lalu siapakah sosok berkerudung itu? Kuusap mata berkali-kali. Mungkin itu hanya ilusiku saja. Bukankah aku sangat kelelahan usai bekerja sejak pagi. Namun siluet itu tak juga memudar. Kuraba dinding dan kuhentakkan kaki ke tanah. Ternyata itu nyata, bukan mimpi. Aku mulai panik. Jantungku berdetak kencang. Bulu-bulu kulitku meregang. Jangan-jangan itu adalah arwah Sawaka. Segera aku beranjak dari kursi, tapi terasa  tak bisa berkutik ketika ia menatapku. Ya,  sorot mata itu  telah membawa ingatanku   pada sepotong malam nista dua puluh tahun silam, di bawah sinar rembulan yang terhalang  rerimbun meranti  Bukit Barisan, saat pesta gelak iblis berlangsung dan aku ikut menjadi bagian dari mereka. Dalam riang terhalang topeng, aku melampiaskan sisa gairah pada Sawaka. Saat itulah kulihat ada amarah yang membara di matanya.  Kini, bara itu kembali menyala pada mata Nur.

Banda Aceh, 10 Juni 2014


*Hendra Kasmi, seorang guru di Banda Aceh

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved