Minggu, 26 April 2026

Opini

Selamat Datang Ramadhan

SEBELUMNYA, tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, tapi hanya sebagai bahan instropeksi diri, termasuk untuk diri saya sendiri

Editor: hasyim

Oleh Asmaul Husna

SEBELUMNYA, tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun, tapi hanya sebagai bahan instropeksi diri, termasuk untuk diri saya sendiri. Jika ini bisa bermanfaat bagi orang lain, maka saya pun akan berbahagia. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi dari Afghanistan, bahwa setiap dan semua bagian dari dunia ini adalah perangkap bagi mereka yang jahil dan perangkat kebahagiaan bagi mereka yang bijak.

Bersyukurlah, tahun ini Tuhan masih mengizinkan kita untuk kembali bertemu dengan bulanNya yang penuh berkah. Bulan yang selalu dinanti oleh segenap mukmin di penjuru bumi. Bulan penghapus noda untuk sebelas bulan sebelumnya. Ibarat kemarau panjang, kemudian diguyur oleh hujan sehari. Sudah lama dinanti dan walau sehari, tapi ia cukup membasahi keringnya kehidupan sebelumnya tanpa rintik rahmat Tuhan itu. Karena jika semua bulan adalah noda, maka Ramadhan adalah pembersihnya.

Kegembiraan menyambut ramadhan pun begitu terasa denyutnya di setiap tempat, termasuk di Aceh. Selain itu, seminggu menjelang ramadhan, biasanya tempat-tempat wisata juga ramai dikunjungi masyarakat. Alasan yang sering dikemukakan adalah adanya istilah ‘minggu terakhir’ untuk bisa bersenang ria sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Walau saya sendiri merasa sedikit janggal dengan istilah tersebut, yang seolah tidak ada minggu selanjutnya. Tetapi ini juga bagian dari rupa-rupa kebiasaan masyarakat sebelum bulan suci itu datang.

 Berbagai persiapan
Di Aceh sendiri, untuk menyambut Ramadhan, berbagai tradisi dan persiapan dilakukan. Dimulai dari tradisi membeli daging meugang oleh kaum adam (yang di Aceh sering dianggap sebagai harga diri seorang lelaki) dan memasaknya oleh kaum hawa (yang juga dilihat bagaimana kepiawaian perempuan dalam meracik bumbu). Selain itu, di gampong-gampong juga masih terlihat potret kaum ibu yang kerap mencari kayu bakar dalam jumlah banyak sebagai persediaan untuk memasak selama bulan Ramadhan.

Beberapa bulan sebelumnya, sebagian masyarakat juga mempersiapkan kebutuhan sayur mayurnya selama bulan ramadhan dengan berkebun. Banyak yang ditanam, mulai dari kacang panjang sampai boh timon wah (timun suri) yang menjadi minuman khas masyarakat Aceh selama bulan suci tersebut. Uniknya, boh timon wah ini biasanya hanya ada di bulan ramadhan, tidak dibulan lain. Jadi jika masih ingin mereguk kesegarannya, terpaksa harus tunggu ramadhan selanjutnya. Selain itu, menjelang ramadhan datang, toko-toko juga dipenuhi oleh pengunjung yang ingin membeli perangkat salat seperti mukena dan sarung baru untuk persiapan tarawih.

Inilah beberapa persiapan yang rutin dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Aceh. Namun ada hal yang harusnya disadari bahwa makna menyambut Ramadhan itu tentu saja tidak hanya sebatas kenduri meugang, mukena baru, atau pun sekedar boh timon wah. Tetapi harus dipahami bahwa menyambut bulan suci berarti memperbaiki pribadi dan meluruhkan dosa yang terlanjur melekat dalam diri. Ia jangan hanya sekedar dipahami sebagai ajang menahan haus dan lapar, tapi juga ajang meningkatkan ibadah dan kualitas diri.

Sebelumnya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua persiapan di atas salah. Tidak. Karena itu sudah menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Aceh. Namun terkadang kita melupakan subtansi dasar dari tujuan kita berpuasa dan apa yang seharusnya yang lebih penting kita persiapkan. Kita lupa mempersiapkan diri untuk siap beribadah lebih dan meningkatkan kualitasnya. Kita juga juga kerap mengabaikan belajar memaknai bahwa puasa mengajarkan kita bagaimana rasanya lapar yang mendera orang miskin.

Kebiasaan yang terjadi selama ini adalah sepanjang hari berpuasa, kita hanya kerap menunggu suara bedug berbuka yang ditabuh. Ada juga yang memilih untuk tidur seharian dan hanya bangun untuk menunaikan shalat fardhu. Inilah beberapa perilaku dan kebiasaan orang berpuasa yang sudah sepatutnya kita ubah. Karena berpuasa bukan berarti menghentikan segala aktivitas yang ada, tapi meniatkan bahwa bekerja juga bagian dari ibadah.

 Introspeksi diri
Untuk menyambut Ramadhan datang kembali, setiap mukmin baiknya belajar mengintrospeksi diri. Belajar melihat dan merasakan apakah kita sudah benar-benar menghamba pada Tuhan untuk menjadi hambaNya yang patuh. Belajar melihat sejauh mana peningkatan kualitas ibadah puasa kita setiap tahunnya. Ada yang mengatakan bahwa 11 bulan untuk mencari, tapi berhentilah untuk sebulan dan nikmatilah apa yang kau cari selama 11 bulan itu untuk meningkatkan intensitas dan kualitas ibadahmu.

Kalimat itu juga seolah menyiratkan bahwa selama 11 bulan ini kita mengejar sesuatu yang berbau duniawi. Dari itu sebulan selama ramadhan, setiap muslim diminta menyisihkan waktunya untuk melebihkan kegiatan ibadahnya. Mungkin ada baiknya jika kita kembali mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Ibnu Al Qayyim bahwa dunia ini ibarat bayangan; kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya; balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.

Saban tahun kita juga selalu diingatkan tentang kewajiban berpuasa sebagaimana firman Allah Swt: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Puasa menjadi istimewa karena ia adalah ibadah rahasia setiap muslim. Ia tidak dapat dilihat seperti salat, tapi hanya bisa dirasa dan hanya yang mengerjakannya serta Tuhan saja yang tahu.

Keistimewaan orang berpuasa juga dilisankan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya: “Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah daripada wanginya misk (kasturi). Ia meninggalkan makan, minum dan nafsu hanya karena Aku. Setiap amalan anak cucu Adam adalah untuknya sendiri, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untukKu dan Aku akan memberikan ganjaran (pahala)nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya terlepas dari itu semua, puasa jangan hanya diartikan sebagai kegiatan menahan lapar dari subuh hingga magrib menjelang, tapi juga bagaimana menata hati menahan amarah yang kerap mendera. Menyambut ramadhan juga bukan hanya sekedar mempersiapkan mukena baru untuk dipamerkan di salat tarawih, ataupun dengan pantun ucapan selamat ramadhan melalui SMS, tapi juga perlu menyiapkan diri untuk meningkatkan intensitas dan kualitas ibadah.

Seiring dengan itu, perlu juga mengingat kembali apa yang pernah dikatakan oleh Imam Hasan Al Basri, seorang ulama thabi’in di kota Basrah (Irak), bahwa dunia ini hanya terdiri atas tiga hari. Kemarin, ia telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Besok, engkau mungkin takkan pernah menemuinya. Hari ini, itulah yang kau punya, jadi beramallah di sana.
Selamat datang Ramadhan!

Asmaul Husna, Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, dan Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU). Email: hasmaul64@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved