Puisi

Merak Selasih

mengembang lunglai di peratas putih menyulut lirih napas dihela

Karya Herman RN

mengembang lunglai di peratas putih
menyulut lirih napas dihela
sayapnya terkatup menuai risih
liur tak berbuih kata dieja

saban tahun berganti bersih
sebulan tak lebih orang puasa
lima waku tambah tarawih
mulut bertasbih setiap kala

lihat pelapon tiada berdalih
umpama buih mengenang dosa
keluh sesal dihimpun rintih
mengingat tersisih di yaumil mashya

o merak di pokok selasih
ke mana kau simpan sayap merah saga
pada muka kertas belatih
tatap menatih di alif ba ta

bila sampai bulan fitri
mengatup jari dekap di dada
riwayat salam dihitung peri
salawat nabi tiada terlupa

kala usai bulan berganti
berlalu pergi tiada cela
amal laksana tiga puluh hari
insaf diri entah sampai bila

Pattani,  Juni 2014

Wassalamu

kutelusuri deret ukur dalam barisan aksara membentuk pedang
fatah kasrah dlammah tanwin jadi ejaan panjang yang menentukan

kucari deret hitung pada lingkaran wakaf
ain terakhir lenyapkan saktah tarikan nafsu

dalam gamak sedak sanksi pula gamang
alif patah pada desak hamzah setelah lam disambung tegak
aku melihat ta marbutah lesap bertitik dua pada hentian lafal
pada akhir napas waw hilang bentuk

ucap menjelma doa yang tak henti
lain rangai lain ditasdikkan hati
sadar akhir lafal adalah wassalamu
walau dimungkinkan lupa memula taqabalallahu

ini bulan datang dengan tasyadu
membawa nuzul Alquran dalam lembar syahdu
padanya orang-orang berpegangan
padanya orang-orang bertentangan

alhijr
alhijr
innaa nahnu nazzalna zikra
innaa lahu laha fidhun

Aceh Darussalam, 1433-1434 H.

* Herman RN, lahir di Aceh Selatan. Menulis cerpen, puisi, esai, resensi di berbagai media. Saat ini mengajar di Fakultas Sastra, Universitas Fatoni, Thailand.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved