Cerpen

Surat dari Gaza

Aku telah menerima suratmu. Kau menulis bahwa kau telah melakukan apa yang perlu dilakukan agar aku bisa tinggal

Surat dari Gaza

Kau mengerti perasaan ini, Mustafa, karena kau pernah mengalaminya. Ikatan jahanam macam apa yang telah membelenggu kita dengan Gaza sehingga menumpulkan semangat kita untuk pergi? Kenapa kita tidak telaah persoalan ini agar semua lebih jelas? Kenapa kita tidak meninggalkan kekalahan ini bersama luka-lukanya di belakang kita, lalu pergi menuju masa depan yang lebih cerah yang akan memberi kita hiburan yang mendalam! Kenapa? Kita tidak pernah tahu secara pasti.

Ketika aku pergi berlibur di bulan Juni dan membawa segala hal yang berkaitan dengan diriku, mengharapkan keberangkatan yang menyenangkan, memulai menuju hal-hal kecil yang dapat memberikan hidup menjadi lebih cemerlang. Aku mendapati Gaza sebagaimana yang telah kukenali, tertutup seperti cangkang siput yang berkarat dan terhempas oleh ombak ke atas pantai berpasir dan lengket di dekat sebuah rumah jagal.  Gaza ini lebih terpuruk dari pikiran orang yang sedang bermimpi buruk, dengan jalan-jalan yang sempit dan berbau khas, bau kekalahan dan kemiskinan, rumah-rumah dengan balkoni membengkak....Gaza ini! Tapi alasan apa yang menghalangi menarik seorang laki-laki kepada keluarganya, rumahnya, kenangan-kenangannya, seperti musim semi yang menarik sekawanan kambing gunung? Aku tidak tahu. Apa yang akutahu adalah aku pergi ke rumah ibuku pagi itu. Ketika aku tiba di sana, janda abangku menemuiku dan meminta kepadaku sambil bercucuran air mata, apakah aku mau memenuhi permintaan Nadia,  gadis kecilnya yang terluka, untuk menjenguknya di Rumah Sakit Gaza sore itu. Kau kenal Nadia kan, sepupuku berusia 13 tahun yang cantik?

Sore itu aku membelisekilo apel dan berangkat menuju rumah sakit untuk membezuk Nadia. Aku tahu ada sesuatu yang tidak diceritakan oleh ibu dan kakak iparku. Sesuatu yang membuat lidah mereka kelu, sesuatu yang aneh dan tak bisa kutebak. Aku menyayangi Nadia dari kebiasaan, kebiasaan yang sama yang telah membuatku mencintai semua anak-anak generasinya yang telah tumbuh dalam penindasan dan pengungsian serta membuat mereka berpikir bahwa hidup bahagia itu hanyalah sejenis penyimpangan sosial.

Apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu? Aku tidak tahu. Aku memasuki ruang berwarna putih dengan sangat tenang. Anak-anak yang cederamempunyai semacam kesucian, terlebih apabila anak-anak yang sakit akibat kekejaman, luka yang menyakitkan. Nadia terbaring di kasurnya, punggungnya tersangga pada bantal besar dan di atas bantal itu rambutnya tergerai seperti kulit bulu yang tebal. Ada kesunyian mendalam dalam matanya yang lebar dan air mata terus berkaca-kaca dalam mata hitamnya. Wajahnya tenang dan kaku, tetapi tabahseperti wajah seorang nabi yang sedang disiksa. Nadia masih anak-anak, tapi ia kelihatan lebih dari sekedar anak-anak, jauh lebih dewasa daripada anak-anak, jauh dewasa.

“Nadia!”

Aku tidak tahu apakah aku yang mengucapkankannya atau orang lain yang berdiri di belakangku. Tapi ia mengarahkan kedua matanya ke wajahku dan aku merasa dua mata itu membuatku larut seperti gula yang jatuh ke dalam secangkir teh yang panas.

Bersama dengan senyum tipisnya aku mendengar suaranya, “Paman! Apakah kau baru pulang dari Kuwait?”

Suara itu pecah di kerongkongannya, dan ia mencoba bangkit dengan bantuan kedua tangannya dan menengadah ke arahku. Aku mengelus bahunya dan duduk di didekatnya.

“Nadia! Paman membawamu banyak hadiah dari Kuwait, banyak sekali. Paman akan menunggu sampai engkau bisa jalan dan betul-betul sembuh. Kau akan ke rumahku dan aku akan memberikan semua hadiah itu untukmu. Aku membawamu  celana panjang merah sebagaimana yang telah kautulisdan minta padaku. Iya, aku telah membelinya semua.”

Itu sebuah kebohongan, yang lahir dari situasi tegang, tapi ketika aku mengutarakannya aku merasa seolah-olah sedang mengucapkan kebenaran untuk pertama kalinya. Nadia menggigil seolah-olah dia tersengat oleh arus listrik dan merebahkan kepalanya dalam keheningan yang mengerikan. Aku merasakan air matanya mengalir memabasahi tanganku.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved