Cerpen

Surat dari Gaza

Aku telah menerima suratmu. Kau menulis bahwa kau telah melakukan apa yang perlu dilakukan agar aku bisa tinggal

Surat dari Gaza

“Katakanlah sesuatu, Nadia! Apa engkau tidak mau celana panjang merah?” Ia menatapku dan menunjukkan seolah-olah ia ingin berbicara, tapi kemudian terhenti, giginya gemeretak dan aku mendengar suaranya, datang dari jauh.

“Paman!”

Ia mengulurkan tangan, mengangkat seprai berwarna putih dengan jemari tangannya dan menunjuk ke arah kakinya, yang diamputasi dari paha paling atas.

Kawanku, aku tidak akan pernah melupakan kaki Nadia, pangkal pahanya yang diamputasi. Tidak! aku juga tidak akan melupakan kedukaan yang terbentuk di wajahnya dan menjalar di sana untuk selamanya. Aku keluar dari Rumah Sakit Gaza hari itu, tanganku terkepal dalam kesunyian yang mencemooh karena sekiloapel yang kubawa untuk Nadia. Cahaya matahari menerpa jalan dengan warna darah. Dan Gaza adalah sesuatu yang baru, Mustafa! Kau dan aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Batu-batu yang tersusun mulai dari perempatan Shajiya dimana kita menyimpan kenangan, dan sepertinya batu-batu itu sengaja ditaruh di sana tanpa ada alasan lain kecuali untuk menjelaskan itu. Gaza tempat kita tinggal selama iniberserta orang-orangnya yang baik telah melewati tujuh tahun kekalahan adalah sesuatu yang baru. Buatku kelihatannya ini hanyalah sebuah permulaan. Aku tidak tahu mengapa aku berpikir demikian. Aku membayangkan jalan utama di mana aku berjalan sepanjang jalan pulang ke rumah hanyalah sebuah permulaan panjang, jalan panjang menuju Safad. Segala hal di Gaza iniberdenyut dengan kesedihan yang tidak menuntut untuk ditangisi. Ini merupakan tantangan: lebih dari itu, ini adalah sesuatu seperti tuntutan kembalinya kaki yang hilang.

Aku keluar menuju jalan Gaza, jalan yang diterpa cahaya matahari yang menyilaukan. Mereka bilang padaku bahwa Nadia kehilangan kakinya ketika ia melempar dirinya ke atas tubuh adik laki-laki dan adik perempuannya untuk melindungi mereka dari bom dan api yang cakar-cakarnya telah merambah hingga ke dalam rumah. Nadia sebenarnya bisa menyelamatkan dirinya sendiri, dia bisa melarikan diri untuk melindungi kakinya. Tapi ia tidak melakukannya.

Kenapa?

Tidak kawanku, aku tidak akan pergi ke Sacramento, dan aku tidak akan menyesal. Tidak, dan aku tidak akan melanjutkan apa yang telah kita mulai bersama sejak kita kecil. Perasaan-perasaan yang menghalangimu ketika kau hendak meninggalkan Gaza, perasaan kecil ini harus tumbuh membesar dalam dirimu. Ia harus melebar, kau harus mencarinya agar kau menemukan dirimu sendiri, di sini, di antara puing-puing kekalahan.

Aku tidak akan datang ke tempatmu. Tapi kau, harus kembali untuk kami! Kembalilah untuk belajar dari kaki Nadia, yang dipotong mulai dari paha paling atas, apaarti hidup danapakah keberadaan itu berarti.

Pulanglah, Kawan! Kami semua menunggumu.[]

* Ghassan Kanafani (1936-1972), adalah seorang sastrawan garda depan Palestina. Di Barat dia dikenal sebagai juru bicara Front Pembebasan Rakyat Palestina (PFLP) dan editor mingguan Al-Hadaf. Ia meninggal pada umur 36 tahun, dibunuh oleh MOSSAD dengan bom mobil di Beirut pada 8 Juli 1972 berdua dengan keponakan perempuannya. Novel pertamanya Men in the Sun, diadaptasi ke dalam film oleh sutradara Mesir, Tawfiq Salim, berjudul Al-Makhduun (1972). Al-Makhduun  dilarang beredar di beberapa negara Arab karena menunjukkan kegagalan rezim-rezim Arab dalam menjawab persoalan Palestina. Kematian Kanafani dan keponakannya diperingati di banyak Negara setiap 9 Juli. Cerpen Surat dari Gaza diterjemahkan oleh Putra Hidayatullah - seorang penulis esai dan cerita pendek - dari buku Men in The Sun (1978 - Three Continents Press, US).

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved