Isak Qiyamul Lail di Masjid Almakmur
PUKUL 01.45 WIB dini hari, Jalan Teuku Iskandar, Ulee Kareng masih tampak sibuk
PUKUL 01.45 WIB dini hari, Jalan Teuku Iskandar, Ulee Kareng masih tampak sibuk. Kedai-kedai busana masih membuka pelayanan, dengan lampu yang terang-benderang. Dari Simpang Ilie, tiga sepeda motor beriringan dikendarai wanita-wanita bermukena.
Jalan Panglima Nyak Makam mulai redup, tapi kafe-kafe tetap berdenyut dan hiruk-pikuk. Bersama sepmor wanita bermukena dan belasan sepmor serta mobil, kami memasuki pekarangan Masjid Agung Almakmur Lampriek, Banda Aceh. Dua orang juru parkir masjid--dengan tongkat berlampu dan masih tampak bugar walau sudah dini hari-- mengarahkan pengendara untuk parkir secara tertib. Semuanya, satu tujuan, melaksanakan shalat malam atau qiyamul lail di Masjid Agung yang juga dikenal sebagai Masjid Sultan Oman tersebut.
Badan makin terasa segar ketika selesai berwudhuk, kantuk pun melayang entah ke mana. Saat memasuki masjid dari pintu sisi selatan, pendengaran langsung disergap lamat-lamat oleh suara lantunan ayat suci Alquran serta gema kecil takbir, tahmid, dan tahlil. Di sela-sela itu menyelinap dengkur halus jamaah iktikaf yang merebahkan diri sejenak.
Kami tiba-tiba teringat pada situasi yang nyaris sama dengan Masjidil Haram. Masjid di Tanah Suci Mekkah yang tak pernah tidur. Lantunan ayat suci Alquran tiada pernah henti dari puluhan ribu jamaah, namun juga ada jamaah yang tertidur di sudut-sudut atau tiang induk masjid.
Hanya dalam tempo 30 menit, Masjid Almakmur yang dibangun baru oleh Sultan Oman di atas pertapakan masjid lama--pascarubuh saat gempa dan tsunami tahun 2004 itu--telah penuh. Seribuan jamaah lelaki dan perempuan larut dalam zikir dan mengaji. Puluhan jamaah tampak memenuhi mulut pintu selatan dan utara masjid, menunggu dan mencari peluang tempat kosong di dalam masjid.
Pukul 02.25 WIB, salah seorang imam masjid Almakmur, Tgk Yusbi Yusuf, mengumumkan jamaah iktikaf untuk bersiap melaksanakan shalat malam. Seluruh jamaah yang tertidur dibangunkan untuk segera berwudhuk kembali.
Shalat malam paruh sepuluh terakhir Ramadhan kali ini di Masjid Almakmur terasa lebih spesial, karena diimami oleh imam yang langsung didatangkan dari Riyadh, Arab Saudi, yakni Syekh Yahya Ahmad Al-Zahrany.
Tepat pukul 02.47 WIB, Syekh Yahya yang baru masuk lewat pintu samping mihrab masjid, mengangkat takbir memulai shalat malam. Jamaah memenuhi lantai dasar masjid hingga luber ke sayap selatan dan utara. Selain itu sebagian lantai dua.
Suara khas Arabia dari Syekh Yahya membuat ingatan melayang ke figur imam besar Masjidil Haram yang sangat sohor, Syekh Abdurrahman As-Sudais. Jamaah benar-benar dibuat khusyuk dan larut dalam totalitas penghambaan kepada Ilahi. Jarum jam seakan berhenti berdetak, di keheningan dini hari yang bening.
Delapan rakaat tarawih dengan rukuk dan sujud yang panjang, serta tiga rakaat shalat witir yang ditutup dengan doa di rakaat akhir, tanpa terasa berlalu.
Sang Imam kadang dengan lafaz tertatih diselingi isak sesungukan saat membacakan ayat demi ayat. Nurani jamaah seakan dipilin hingga ikut mengurai air mata. Terdengar isak kecil jamaah di seantero masjid, menambah suasana malam makin merasuki sanubari.
Isak makin terdengar di kiri kanan, saat Syekh Yahya membacakan doa yang panjang di akhir rakaat shalat witir.
Tanpa terasa shalat malam itu dipungkasi dengan salam terakhir, tepat pukul 04.04 WIB, atau seluruhnya berlangsung selama satu jam 17 menit. Benar-benar terasa lain dengan shalat tarawih biasa yang kadang jamaahnya ‘protes’ dengan ayat panjang. Semua jamaah yang hadir datang dengan satu tujuan mengusung niat yang ikhlas untuk penghambaan kepala Ilahi Rabbi.
Selesai shalat, Tgk Yusbi Yusuf mengumumkan bahwa pihak masjid menyediakan makan sahur. Selain itu, diumumkan juga jika shalat Subuh seusai sahur, Syekh Yahya akan mengimami shalat di Masjid Abdurrauf Blang Oi.
Tak ada suara berisik atau celoteh protes. Semua jamaah berbaris rapi mengantre makan sahur dengan menu ala sahur pula. Nasi putih, sayur bening, sambal, serta kerupuk. Semua jamaah memenuhi pelataran samping masjid untuk makan sahur.
Bustamam Juned, Bendahara Masjid Almakmur mengatakan, makanan sahur itu sumbangan dari jamaah. Donasi diberikan dalam bentuk uang kepada pengurus masjid. Sumbangan itu ada yang dari perbankan, organisasi semisal IDI, atau perorangan. “Alhamdulillah, telah terkumpul Rp 50 juta, dari sekitar Rp 80 juta yang dibutuhkan. Jika pun nantinya tak cukup, kita bisa keluarkan dari dana masjid,” ujar Bustamam yang diiyakan Imam Besar Masjid Almakmur, Tgk Muhammad.
Setiap sahur dialokasikan dana Rp 7,5-Rp 8 juta. Dengan nilai menu per porsi yang juga berbalut sedekah yakni hanya Rp 10.000. Kateringnya dipercayakan kepada warga Lampriek.
Jumlah rata-rata jamaah yang makan sahur itu mencapai 800 orang, termasuk di dalamnya 50 peserta iktikaf yang berasal dari Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. “Jumlah itu memang tak cukup karena jamaah jumlahnya jauh lebih besar. Kami mengutamakan untuk jamaah dari luar Lampriek. Sementara warga setempat langsung pulang ke rumah masing-masing,” tutur Bustamam yang juga diamini Mahyuni, Keuchik Lampriek.
Semua berlangsung damai di waktu jelang subuh itu. Tak ada yang ngedumel atau berceloteh nyeleneh jika tak mendapatkan porsi sahur secara prasmanan itu.
Selain sahur, Masjid Almakmur juga mengadakan buka puasa setiap harinya. Penganan berbuka plus nasi disediakan oleh warga Lampriek serta donasi jamaah lainnya. Almakmur kini menjadi potret sebuah kemakmuran masjid yang didukung oleh sikap dermawan para jamaah dari berbagai lapisan dan kawasan di Banda Aceh dan sekitarnya. Almakmur seakan sudah mewakili model kota madaninya Madinah.(nurdinsyam)
Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |