Puisi

Tanah Basah Mempesona

Kali ini aku akan menceritakan tentang sebuah negeri Negeri yang selalu merayuku agar jangan pergi

Karya Asmaul Husna

Kali ini aku akan menceritakan tentang sebuah negeri
Negeri yang selalu merayuku agar jangan pergi
Karena di sini banyak cerita ditorehkan
Dalam lembaran basah yang tidak akan mengering
Dalam cinta yang telah tertambat
Erat merekat

Mungkin kau pun akan terpikat
Akan rayuan Sabang yang masih perawan
Dengan biru laut dan nyiur kelapa yang melambai
Dan tanah tempat tugu kilometer nol dipancangkan
Yang sering kau dengar nyanyian dari Sabang-Merauke
Yang kerap didendangkan itu
Mungkin akan membuaimu dalam dekapan kerinduan

Apakah kau mengenal Cut Nyak Dhien?
Inilah tanah pejuang yang sering kau dengar namanya itu
Dalam buku sejarah yang mungkin mulai usang
Namun semangat perjuangan masih ia wariskan
Walau sejarah telah membuangnya ke Sumedang
Tapi cintanya masih meradang
Di tanah basah ini ia kisahkan
Di sebuah rumoh manyang  di Lam Pisang
Cerita perempuan bersanggul tinggi itu diawetkan

Kau masih ingat tsunami?
Bencana yang menerjang tanah ini tanpa aba-aba
Dan kemudian pulang dengan membawa pergi ribuan nyawa
Tanah ini sempat sekarat
Namun hari ini
Kau akan melihat wajah yang berbeda
Dan di sebuah museum bernama ‘Tsunami’
Cerita kenangan bencana itu diabadikan

Kisah raja Malikussaleh pun tidak tinggal diam
Pembawa Islam pertama di Asia Tenggara
Juga menjadi sejarah keislaman pertama di nusantara
Geudong
Sebuah wilayah di tanah Pase
Di sanalah tempat ia mendamaikan diri
Beristirahat tenang
Dalam pusara berlatar cinta

Ulee Kareng dan kupi Gayo
Si hitam pekat itu bernama
Di tanah subur ini
Biji hitam itu tumbuh dengan kepekatan
Serta aroma yang menggoda rasa
Yang berakhir di Dhapu Kupi dan warung kupi Ayah di Solong

Di sudut lain
Gerak menghentak serentak
Dalam tari seribu tangan
Dalam rentak Saman yang membayang
Seirama dengan alunan rapai dan seurune kalee
Yang memukau jiwa
Lalu jiwa itu pun dibawa pergi bersama Seudati
Tanpa henti
Kau curi hatiku untuk selalu menanti
Atraksi-atraksi yang menghanyutkan diri

Tanah ini memang pernah tumpah darah
Tapi kau tak perlu takut
Kini itu hanya sejarah yang dibingkai dalam palung waktu
Dan tanah ini masih basah
Untuk resah yang merindu
Dan sejumput cinta yang memaksaku untuk kembali
Aceh
Kau memang begitu mempesona

Mari bertandang ke tanah ini

* Asmaul Husna adalah penikmat sastra, berdomisili di Aceh Utara

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved