Puisi

KTP-Merah-Putih

Pernah orang tua kami yang hebat itu ditusuk dengan kata-kata setajam belati

Karya Saifullah S

Pernah orang tua kami yang hebat itu
ditusuk dengan kata-kata setajam belati
mengiris mereka pelan-pelan
sebelum berhelai-helai harapan mati

aku melihat adegan itu dengan airmata nanar
dan terjadi retak yang dalam sekali di hatiku
pecah hancur berkeping-keping
dan tak pernah lagi bisa kusatukan

lalu deret senjata manakah yang kita buang
agar yang larut dalam diri kita terkikis
tak membuatnya menjadi sejarah paling kelam
yang pada suatu saat nanti memunculkan lagi pemberontakan

Jakarta, 2014

Jembatan Peunayong

Anak-anak lain bersorak-sorak
tapi tidak dengan mereka yang menyimpan masa lalu
tentang kepedihan, kehilangan, juga rentetan senjata
yang tak pernah alpa berderak dalam hati mereka

anak-anak lain bersorak-sorak
berdiri gagah dengan kacamata hitam yang ditimpa matahari
bedil-bedil mainan umpama tentara
mengapit lengkap di antara baju biru rumput dan baret merah menyala

anak-anak lain bersorak
sedangkan mereka menanti kapan ayah dan ibu pulang
membawa kabar kemenangan
membawa kabar kemenangan

Jakarta, 2014

* Saifullah S, Bekerja di Tangerang Selatan. Beberapa karya puisinya telah di muat di harian Lokal dan Nasional. Buku Puisi tunggalnya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014). Ia juga sedang mempersiapkan novel terbarunya.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved