Opini

Islam Itu Bersih

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid

Oleh Muhammad Adam

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid untuk shalat dan istirahat beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pemandangan menarik di toilet masjid tersebut. Toilet di Masjid yang sering dijadikan tempat persinggahan tersebut terdiri dari dua bilik, satu khusus untuk pria dan satunya lagi khusus untuk wanita. Menariknya kedua bilik toilet tersebut tersedia sabun mandi.

Awalnya saya berpikir bahwa sabun mandi itu milik Remaja Masjid seperti apa yang sering saya lihat di beberapa masjid di Aceh, toiletnya juga digunakan untuk mandi oleh Remaja Masjidnya. Namun ternyata sabun di toilet masjid tersebut tidak hanya di satu kamar, di kamar sebelahnya juga disediakan. Keraguan-raguan saya tentang fungsi sabun tersebut tidak berlangsung lama, karena ada pengurus Masjid pada waktu itu. Beliau menjelaskan kalau sabun itu digunakan untuk membersihkan tangan setelah membuang air besar.

Kamar untuk membuang kotoran yang dilengkapi dengan sabun atau alat lainnya untuk membersihkan tangan setelah buang hajat adalah sesuatu yang sangat jarang saya lihat di Aceh. Saya hampir tidak pernah mendapati Masjid atau tempat-tempat ibadah yang toiletnya menyediakan fasilitas untuk membersihkan tangan setelah membuang kotoran. Hal itulah yang membuat saya menarik untuk menuliskan artikel ini dengan harapan kita bisa sama-sama memperbaiki keadaan. Menyediakan sebatang sabun memang hal kecil dan efeknya mungkin tidak terlalu besar. Namun praktek tersebut menunjukkan bagaimana detilnya Islam mengatur ummat untuk menjaga kebersihan dalam berbagai ruang dan waktu. Jangankan di tempat yang terbuka, dalam toilet yang tertutup dan digunakan untuk buang kotoran sekalipun harus tetap terjamin kebersihannya.

 Persoalan pertama
Islam sangat memprioritaskan kebersihan. Dalam perspektif Fiqh, kesucian adalah persolaan pertama yang diatur sebelum masalah ibadah-ibadah lainnya. Coba anda perhatikan awal pelajaran dari setiap Kitab Kuning yang dipelajari di dayah-dayah Salafi adalah membahas tentang thaharah (kesucian). Awal pembahasannya mengatur tentang tatacara menyucikan mulai dari apa yang kita gunakan sampai dengan apa yang kita makan. Persoalan yang diurus tidak hanya dalam situasi normal, dalam kondisi-kondisi genting seperti ketiadaan air juga diatur dengan sangat jelas dan rapi petunjuknya.

Kalau dilihat lebih jauh, Islam tidak hanya mengurus seputar persoalan menyucikan lahiriah seperti pakaian dan tempat ibadah, namun jauh dari itu ajaran Islam mengatur tentang menyucikan batin. Islam secara jelas mengatur umatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dari sifat angkuh, iri, dengki dan serakah misalnya. Dalam hal lain, Islam juga secara jelas mengatur bagaimana menjaga kesucian harta dan kekayaan yang kita miliki. Pada intinya, Islam mengatur ummatnya untuk menjaga kesuciannya secara holistik dan komprehensif lengkap tanpa ada ruang kosong.

Namun apa yang terjadi di lapangan? Apa yang yang membuat umat Islam masih terkesan kotor? Tidak perlu melakukan pengamatan yang mendalam, coba anda perhatikan WC-WC yang ada di meunasah-meunasah atau musalla di seputar kita. Bagaimana kondisi lantainya? Bagaimana kondisi closetnya? Bagaimana kondisi tempat penampung airnya? Di luar itu, kalau kita melihat kota-kota yang di Aceh misalnya. Bagaimana kondisi kebersihannya? Apakah sulit anda menemukan sampah-sampah di emperan toko?

Mungkin terlalu jauh kalau kita mengharapkan sampah organik dan non-organik dibuang di tempat sampah yang berbeda. Toh budaya membuang sampah pada tempatnya saja, masih jauh dari harapan. Tidak hanya di tempat-tempat umum seperti toko dan kota, di sekolah-sekolah yang notabene hampir sepenuhnya peserta didik dan pendidiknya beragama Islam.

Bagaiman kondisi kebersihan di sekolah-sekolah Islam kita? Coba anda perhatikan dinding-dinding ruangan kelasnya. Hampir setiap tahun pihak sekolah harus mengecet ulang karena banyak coretannya. Coba anda lihat meja dan kursi, bagaimana kondisinya? Saya yakin juga sangat memprihatinkan. Kalau di dunia pendidikan saja seperti itu, bagaimana lagi kondisinya di tempat-tempat umum lainnya?

Berbicara penataan tata ruang kota, kondisi sungai atau aliran air di belakang toko-toko dan perumahan susun di pusat-pusat kota, tampaknya masih butuh waktu banyak untuk menuju ke arah sana. Tidak heran dalam berbagai survey dan publikasi, kita hampir tidak pernah melihat kota-kota negara Islam masuk dalam kota yang bersih dan nyaman untuk ditinggali. 

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved